Showing posts with label Gunung-gunung purba. Show all posts
Showing posts with label Gunung-gunung purba. Show all posts

Saturday, June 10, 2017

Gunung Tambora Purba



Gunung Tambora adalah gunung tertinggi ketiga dimasa purba ketinggiannya mencapai 5.265 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa, di masa purba daerah itu di huni oleh para Asura yang sangat unik, tubuhnya kecil seperti bangsa liliput, tinggi para asura yang ada di daerah itu tidak lebih dari satu meter, bahkan rata-rata hanya 50cm, jauh lebih pendek dari tubuh Asura yang pada umumnya memiliki tinggi 30meter. 

Seperti halnya gunung Toba, gunung Tambora hingga saat ini juga tercatat meletus sebanyak tiga kali, letusan pertama gunung Tambora terjadi ditahun 3050 sebelum masehi, tetapi letusan pertama itu bukanlah letusan yang besar, hanya menurangi sedikit ketinggian gunung tersebut menjadi 4.870 meter diatas permukaan laut (mdpl), letusan kedua terjadi ditahun 740 sebelum masehi, dan juga bukan merupakan sebuah letusan yang besar, dalam letusan kedua ini gunung tambora menjadi lebih pendek yaitu 4.256 meter di atas permukaan laut (mdpl), letusan ketiga lah yang merupakan letusan terbesar dari gunung Tambora yang terjadi di abad 18 setelah masehi, tepatnya di tahun 1815 masehi, dan nyaris ketinggian gunung Tambora menjadi setengahnya yaitu hanya 2.730 meter diatas permukaan laut (mdpl).

Letusan ketiga gunung Tambora itu lumayan dasyat hingga gelegarnya terdengar sampai pulau Sumatera, dan bukan hanya itu saja, debu vulkanik yang dihasilkan sempat mempengaruhi iklim dunia, karena debu vulkanik itu mengambang di atmosfir hingga berbulan-bulan, hal ini juga memperngaruhi iklim di Eropa dan Amerika, letusan ketiga ini juga melenyapkan beberapa kerajaan-kerajaan di sekitar gunung Tambora.


Foto satelit tampak kaldera gunung Tambora

Gunung Toba Purba



Gunung Toba purba adalah gunung tertinggi di dunia di masa prasejarah, pada saat itu ketinggian gunung Toba mencapai 11.768 meter di atas air laut (mdpl). Letusan gunung toba pertama di masa purba terjadi di tahun 797.988 sebelum masehi, letusan dasyat itu menghasilkan kaldera di selatan gunung Toba, tepatnya didaerah Prapat dan Porsea sekarang, sekaligus mengubur kejayaan kerajaan Alengka. 

Letusan kedua terjadi di tahun 487.589 sebelum masehi, letusan ini tidak sebesar letusan pertama, dan menghasilkan kaldera di utara gunung Toba, tepatnya di daerah Haranggaol dan Silalahi sekarang, dan letusan ketiga yang terjadi ditahun 61.558 sebelum masehi, adalah letusan terbesar dari gunung Toba purba, letusan ketiga itulah yang menyatukan kaldera di utara dan selatan, hingga membuat sebuah kaldera yang sangat besar, kaledra itu kemudian menjadi sebuah danau, kemudian munculah anak gunung Toba di tengah-tengah danau yang sekarang dikenal dengan nama pulau Samosir.

Letusan ketiga bukan hanya semakin mengubur sebagian peradaban kejayaan Nusantara, tetapi juga mengakibatkan perubahan yang sangat besar di seluruh penjuru dunia, karena letusan ketiga itu memicu terjadinya zaman es, kegelapan berlangsung selama lebih dari 10 tahun, sinar matahari tertutup debu vulkanik yang mengambang di atmosfir, hingga suhu di bumi menjadi turun drastis, sebagian besar permukaan lautan membeku, banyak ras Asura yang meninggal dan bermigrasi pada saat itu, dan ini hanya secuil kisah kehebatan gunung toba yang letusannya bisa mengubah zaman.


Foto satelit tampak kaldera gunung Toba dan pulau samosir

Gunung Brahma Purba (Bromo Purba)



Gunung Bromo sekarang adalah sebuah gunung yang terletak di kawasan Tengger yang masih dipercayai oleh suku Tengger sebagai gunung suci, setiap setahun sekali suku Tengger masih melakukan upacara persembahan untuk putra Dewa Brahma yang disebut upacara Kasodo.

Gunung Bromo dan suku Tengger sendiri dua hal yang tak terpisahkan, sebab nama Tengger itu sendiri adalah bagian legenda dari Roro Anteng dan Joko Seger yang merupakan legenda turun temurun yang di percayai suku Tengger sebagai nenek moyang suku Tengger.

Gunung bromo sekarang yang tingginya 2.329 meter di atas permukaan laut (mdpl) adalah anak gunung Bromo purba yang tingginya 5.768 meter di atas permukaan laut(mdpl), letusan terbesar terakhir bromo yang menimbulkan kaldera seluas kurang lebih 100 kilo meter persegi yang berupa lautan pasir dan sebagian padang rumput, terjadi pada tahun 197.980 sebelum masehi, dan turut andil dalam hilangnya sejarah peradaban kerajaan Bali purba.

Gunung Bromo di masa purba adalah tempat para Asura pemuja Dewa Brahma untuk melakukan ritual persembahan, dulu para Asura di kerajaan Bali sebagian besar adalah pemuja Dewa Brahma, sebagian lagi pemuja Dewa Siwa, dan hanya sebagian kecil saja yang menjadi pemuja Dewa Wisnu, kebiasaan Asura di Bali yang hingga saat ini dilakukan adalah upacara pembakaran mayat yang sekarang di sebut Ngaben, dahulu jenasah para Asura di bakar untuk mengembalikan para Asura yang sudah meninggal supaya kembali ke asal unsur penciptaannya yaitu api, dan api yang dianggap mempunyai sifat mensucikan, sehingga dengan dibakarnya Asura yang meninggal, juga akan membersikan dari kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan.

Perbedaan Ngaben dulu dan sekarang, jika dulu para Asura membakar mayat saudaranya, tidak akan ada abu jenasah yang tersisah, karena jasadnya menguap bersama api, sedangkan sekarang jasad yang di bakar dengan upacara Ngaben, akan meninggalkan abu jenasah, hal ini di karenakan sudah bercampurnya keturunan ras Asura dan ras Adam, sehingga unsurnya sudah tidak murni dari api lagi, bahkan lebih dominan unsur tanah.


Foto tampak kaldera gunung Bromo dengan anak gunung bromo sekarang

Gunung Semeru Purba



Gunung Meru atau Semeru adalah sebuah gunung berapi dan merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut(mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Gunung Semeru secara administratif termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Gunung ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger, Semeru memiliki hutan bukit, hutan tropis basah, dan hutan gunung. Posisi geografis Semeru terletak antara 8°06' Lintang Selatan dan 112°55' Bujur Timur.

Semeru adalah gunung yang penuh misteri, ribuan misteri yang tak terpecahkan yang di alami para pendaki, salah satunya yang penulis sendiri alami adalah gerbang dimensi lain yang berada di Arcopodo, kisah ini belum sekalipun penulis ceritakan kesiapapun dan dimanapun, baru dalam buku ini penulis mengisahkan sebuah pengalaman unik yang sebelumnya belum pernah penulis alami, pengalaman sebelumnya yang sering penulis alami adalah berada di dimesi cepat, penulis beri nama dimensi cepat karna saat di dimensi tersebut rasanya hanya beberapa menit tapi ketika kembali ke dimensi ini ternyata sudah satu hari, dua hari bahkan pernah seminggu, padahal dalam dimensi cepat itu rasanya cuman satu jam.

Suatu tempat yang menjadi sangat istimewa bagi penulis adalah pos pendakian terakhir gunung Semeru yaitu Arcopodo, nama Arcopodo sendiri menurut penduduk lokal diambil dari sebuah patung kembar yang berada di kawasan itu, konon sepasang arca kembar itulah yang menjaga gunung Semeru, keberadaan arca itu sekarang menjadi misteri karena tidak tiap pendaki dapat menemukan lokasi dimana arca itu berada.

Kawasan Arcopodo terletak di lereng gunung Semeru, berada di ketinggian 2.900 meter di atas permukaan laut (mdpl), di sini penulis mengalami pengalaman masuk dalam dimensi lambat, penulis masuk dalam dimensi lambat itu selama kurang lebih tujuh hari, anehnya begitu keluar dari dimensi lambat itu, ternyata hanya 20 menit, awal kisahnya saat itu penulis tiba di pos pendakian terakhir Arcopodo, sambil melepas lelah penulis duduk memandang ke arah puncak gunung, agak jauh terlihat seperti sebuah gapura, sebentar penulis melihat dengan lebih jelas apakah itu memang sebuah gapura atau sekedar tumpukan batu, akhirnya penulis menghampiri tempat tersebut dan benar itu ternyata sebuah gapura, ketika penulis melintasi gapura itu tiba-tiba suasananya berubah, seperti masuk sebuah perkampungan kuno, penulis anggap perkampungan kuno karena pakaian yang di pakai penduduk disitu seperti pakaian orang zaman dulu, di situ penulis disambut seseorang yang kemudian mengenalkan diri sebagai tokoh pimpinan disitu, nama beliau adalah pak Nandi begitu pula penulis memanggil beliau, kemudian penulis di ajak ke rumahnya, sebuah rumah sederhana khas seperti di kampung, di situ penulis menginap beberapa hari, selain ngobrol banyak hal terkait yang bisa penulis ceritakan dalam buku ini tentang hilangnya sejarah Nusantara, penulis juga di ajak jalan-jalan melihat-lihat pemukiman sekitar, masyarakat di situ sangat ramah, begitu berpapasan, mereka selalu tersenyum, sampai akhirnya penulis menyadari ada yang aneh di tubuh mereka, kakinya seperti kaki binatang kuda atau sapi, hal ini sempat penulis tanyakan ke pak Nandi, kenapa seperti itu, kemudian beliau menjawab “ya beginilah rupa kami, semua keturunan Asura berbentuk mirip manusia, tugas kami melayani semua keturunan bangsa Arya”.

Setelah berhari-hari penulis baru ingat bahwa sebelumnya penulis sedang melakukan pendakian, kemudian penulis mohon pamit dan minta tolong di antarkan kembali ke Arcopodo, ketika sampai di gapura, setelah mengucapkan salam perpisahan, penulis kemudian melintasi gapura itu, dan seketika penulis kembali ke Arcopodo, mohon maaf tidak banyak yang berani penulis ceritakan, sebagian cerita lainnya tertuang dalam tiap bagian di buku ini, kembali pada inti bahasan pokok tentang Semeru.

Semeru adalah salah satu gunung purba yang ada di Nusantara, selain gunung Toba, gunung Tambora, gunung Krakatau dan gunung Bromo. Semeru memiliki peran penting dalam awal penelusuran jati diri bangsa ini, dikisahkan dalam kitab Wajasaneyi Samhita, Rudra alias Siwa alias Maha Dewa alias Maheswara alias Trinetra terlahir digunung Meru atau Sumeru atau Semeru, kisah ini terjadi di tahun 3.863.102 sebelum masehi, kenapa kisah ini tidak terjadi di gunung Himalaya seperti yang sering kita baca dalam sejarah yang ada saat ini?, dikisahkan dalam kitab Lingga Purana, Rudra pergi bertapa ke Himalaya karena meninggalnya isitrinya yang bernama Sati, Sati adalah anak Daksa salah seorang PRajapati keturunan Dewa Brahma, Sati merupakan istri pertama Rudra yang kemudian bunuh diri dengan cara terjun ke dalam api, kisah bunuh dirinya Dewi Sati ini terkait dengan sikap Daksa kepada Rudra, Prajapati Daksa sama sekali tidak menghargai Rudra sebagai menantunya yang menjadi suami dari Dewi Sati. 

Jika saat itu Rudra berada di Himalaya, Rudra tidak perlu lagi pergi ke Himalaya, sebab dia sudah ada disitu, sedangkan yang tertulis dalam kitab Lingga Purana, Rudra pergi bertapa ke Himalaya, jadi jelas Rudra tidak berada di Himalaya, dengan kata lain Rudra berada di suatu tempat dan kemudian pergi ke Himalaya, atau Rudra berada di Semeru dan kemudian pergi ke Himalaya begitu lebih tepatnya.
Rudra
Dalam kisah yang lain, yang juga dapat menjelaskan dimana Rudra berada adalah kisah dari kitab Aranyandaka, yang mengisahkan tentang Shri Rama dan Rahwana yang menculik Dewi sinta, Rahwana anak dari Dewi Kaekesih dan Resi Wisrawa, Dewi Kaekesih sendiri adalah cucu dari Ditya ras Asura, sebelum menjadi Raja Alengka, Rahwana melakukan tapa untuk memuja Dewa Brahma, demi mengharap kehidupan yang abadi, tetapi Dewa Brahma menolaknya, dan meminta Rahwana mengganti permintaannya, akhirnya Rahwana meminta supaya menjadi unggul diantara para Asura, kemudian Dewa Brahma mengabulkan keinginanannya dan memberi kesaktian agar Rahwana lihai menggunakan senjata Dewa dan ilmu sihir, kemudian Rahwana meminta restu kakeknya Sumali untuk menyerang Alengka, yang pada waktu itu Rajanya adalah Kubera yang merupakan saudara tiri dari Rahwana. 

Alengka adalah sebuah kerajaan yang megah, permai dan indah serta kaya raya, itulah sebabnya Rahwana ingin menguasainya, Kubera lantas menyerahkan kerajaannya atas permintaan dari ayahnya resi Wisrama, setelah berhasil menguasai Alengka Rahwana pergi ke gunung Semeru untuk menaklukkan Dewa Siwa, Rahwana mencoba mencabut gunung Semeru, untuk dipindahkan ke Alengka, tetapi gunung itu putus di ujungnya, akhirnya puncaknya saja yang akan dibawa ke Alengka, di tengah perjalanan, Dewa Siwa mengetahui hal itu, kemudian di injaknya pucuk gunung itu sehingga terjatuh dan Rahwana tergencet di bawahnya, pucuk gunung itu kemudian di kenal dengan nama gunung Penangungan, Rahwana yang sedang kesakitan karena tergencet gunung itu akhirnya memohon ampun pada Dewa Siwa, lalu Rahwana membuat lagu puji-pujian kepada Siwa agar berkenan melepaskannya, akhirnya Dewa Siwa pun luluh dan akhirnya melepaskannya, dan selanjutnya Rahwana menjadi pemuja Siwa seumur hidupnya.

Kisah Rahwana dan gunung Semeru di paragraf sebelumnya juga menjelaskan bagaimana asal usul gunung Penanggungan, kenapa bisa bernama Penanggungan?, apa yang di tanggung? Yang di tanggung tidak lain adalah kesalahan Rahwana yang telah mencoba memindahkan gunung Semeru, dan hukuman Rahwana tergencet itu menjadi penanggungan baginya, kisah Rahwana yang lebih detil akan di bahas di bagian ketiga dalam buku ini.


Gunung Penanggungan
Apa sebenarnya hubungan Semeru dan Nusantara purba? Di gunung Meru, yang kemudian disebut Sumeru atau Maha Meru, yang merupakan nama pucak gunung itu, dan sekarang dikenal dengan nama Semeru adalah tempat dimana Rudra atau Dewa Siwa di lahirkan, dimana letaknya? Loh kok tanya lagi, ya di Nusantara toh, sebagian besar pada saat itu Nusantara di huni oleh para ras Asura keturunan Ditya itulah sebabnya kenapa lebih banyak para ras Asura yang memuja Siwa, dan salah satunya adalah Rahwana penguasa kerajaan Alengka, dimana letak kerajaan Alengka? Alengka terletak di bagian barat Nusantara yang nanti akan di bahas lebih detil di bagian ketiga buku ini, setelah kerajaan Alengka jatuh ke tangan Shri Rama barulah Nusantara ini banyak di huni oleh keturunan Aditya dan kemudian terjadi sebagian percampuran ras yang kemudian menyebar seantero dunia, baru kemudian di tambah lagi keturunan ras manusia murni dari Adam di awal zaman Kali Yuga. 

Kenapa penulis menyebut Adam sebagai ras manusia murni?, karna ras sebelumnya yaitu ras Asura memang memiliki bentuk tubuh yang hampir sama seperti ras adam, tetapi tidak memiliki darah berwarna merah seperti ras keturunan Adam, rata-rata ras sebelumnya memiliki darah berwarna ungu dan hitam, sebagian lagi berdaging tapi tidak berdarah.

Satu hal lagi yang menguatkan bahwa Siwa ada di Semeru, berdasarkan kitab Wanaparwa, dalam kisah Maha Bharata, tentang perseteruan Pandawa dan Kurawa, dikisahkan setelah Pandawa tersingkir dari Hastinapura, kemudian para Pandawa mendirikan kerajaan Indraprasta yang sangat megah, kemegahan bangunan Indraprasta tak lepas dari jasa Asura yang bernama Mayasura, saat itu Mayasura merasa berhutang budi karena telah diselamatkan oleh pangeran Arjuna.

Pangeran Duryodana yang merupakan sepupu Pandawa merasa iri dengan kemegahan kerajaan Indraprasta, kemudian dibuatlah siasat oleh patih Sengkuni yang merupakan paman dari Duryodana untuk mengundang Pandawa dan mengajak bermain dadu, dengan taruhan kerajaan sampai terakhir mempertaruhkan Dewi Drupadi, istri dari para Pandawa, kalah dalam permainan dadu dengan Kurawa, otomatis Pandawa kehilangan kerajaan dan dihukum mengasingkan diri, Pandawa berpencar agar tidak mudah dikenali, sebab jika sampai dikenali, maka hukuman pengasingan para pandawa akan di tambah lagi, dengan kata lain ini hanya siasat patih Sengkuni agar pandawa tidak bisa kembali ke Indrarasta lagi. 

Pangeran Arjuna pergi ke timur untuk menemui Dewa Siwa yang bersemayam di gunung Semeru, sebelum pangeran Arjuna mendapatkan senjata panah Pasupati dari Dewa Siwa, Pangeran Arjuna bertapa di gunung Indrokilo, di mana gunung Indrokilo tersebut? Indrokilo adalah nama sebuah daerah yang berada di lereng gunung Ringgit, gunung Ringgit sendiri merupakan sebuah anak gunung yang sekarang kita kenal dengan nama gunung Arjuna yang berada di wilayah Malang Jawa Timur.

Adakah yang tahu siapa yang pertama kali memberi nama gunung tersebut adalah gunung Arjuna? Atau adakah juga yang tahu siapa yang pertama kali memberi nama gunung itu adalah gunung Semeru, semua nama-nama itu baik gunung Arjuna atau pun gunung Semeru bukan lah pemberian seseorang pada zaman ini, namun sudah ada sejak dahulu kala dari kisah-kisah yang dikisahkan secara turun temurun, dan tentunya nama tersebut bukan hasil karangan belaka, melainkan diambil dari nama orang atau kejadian tertentu, seperti lazimnya nama-nama daerah yang lain yang diberi nama sesuai nama orang atau kejadian yang terjadi di daerah itu.

Perlu di ketahui juga satu-satunya gunung purba Nusantara yang tidak pernah meletus hebat dan menghasilkan proses volkano-tektonik hanyalah gunung Semeru, aktifitas gunung Semeru tidak pernah meletus hebat yang menyebabkan dampak yang besar seperti gunung, beberapa kali gunung Semeru tercatat meletus tapi hanya letusan-letusan kecil saja, hingga saat ini masyarakat setempat sangat percaya gunung Semeru selalu di jaga para Dewa, khususnya para Dewa yang berada di Arcopodo.

Dari kisah gunung Semeru yang sangat jelas, bahwa Semeru sudah dikenal juataan tahun sebelum masehi, Nusantara saat itu sudah ada penghuninya, tidak seperti sejarah yang sekarang ini, yang seolah di Bumi Nusantara ini dimasa sebelum masehi tidak ada apapun, hanya sebidang tanah yang tak bertuan saja, yang paling lucu kita percaya, bahwa tanaman A berasal dari negara A, tanaman B berasal dari dari negara B, dan lainnya, jangan lupa Nusantara ini terletak di garis Katulistiwa, kekayaan flora dan fauna sangat melimpah, jadi bukan berarti jika orang barat awalnya ketemu kambing di Afrika terus datang ke Nusantara ketemu dengan kambing juga, lalu di klaim oh kambing ini asalnya dari Afrika, hanya karna yang dia temui pertama kali di Afrika, kemudian kita harus percaya, dan menerimanya sebagai sesuatu yang benar, Tuhan itu memberikan kita otak untuk berfikir dan hati untuk menalar, bukan menerima mentah-mentah informasi yang masuk, tanpa di olah terlebih dahulu yang menjadikan kita bermental jongos atau istilah kerennya sekarang adalah mental Follower.

Privacy Policy Kalender Jawa Kuno

  Privacy Policy: Kalender Jawa Kuno Terakhir Diperbarui: 21 Februari 2026 1. Pendahuluan Kami menghormati privasi Anda. Kebijakan Privasi...