Gunung Meru atau
Semeru adalah sebuah gunung berapi dan merupakan
gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, dengan
ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut(mdpl). Kawah di puncak Gunung
Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Gunung Semeru secara
administratif termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Malang dan
Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Gunung ini termasuk dalam kawasan
Taman Nasional Bromo Tengger, Semeru memiliki hutan bukit, hutan tropis basah,
dan hutan gunung. Posisi geografis Semeru terletak antara 8°06' Lintang Selatan
dan 112°55' Bujur Timur.
Semeru adalah gunung yang penuh misteri,
ribuan misteri yang tak terpecahkan yang di alami para pendaki, salah satunya
yang penulis sendiri alami adalah gerbang dimensi lain yang berada di Arcopodo, kisah ini belum sekalipun
penulis ceritakan kesiapapun dan dimanapun, baru dalam buku ini penulis
mengisahkan sebuah pengalaman unik yang sebelumnya belum pernah penulis alami,
pengalaman sebelumnya yang sering penulis alami adalah berada di dimesi cepat,
penulis beri nama dimensi cepat karna saat di dimensi tersebut rasanya hanya beberapa
menit tapi ketika kembali ke dimensi ini ternyata sudah satu hari, dua hari
bahkan pernah seminggu, padahal dalam dimensi cepat itu rasanya cuman satu jam.
Suatu tempat yang menjadi sangat istimewa
bagi penulis adalah pos pendakian terakhir gunung Semeru yaitu Arcopodo, nama Arcopodo sendiri menurut penduduk lokal diambil dari sebuah patung
kembar yang berada di kawasan itu, konon sepasang arca kembar itulah yang
menjaga gunung Semeru, keberadaan arca itu sekarang menjadi misteri karena
tidak tiap pendaki dapat menemukan lokasi dimana arca itu berada.
Kawasan Arcopodo
terletak di lereng gunung Semeru, berada di ketinggian 2.900 meter di atas
permukaan laut (mdpl), di sini penulis mengalami pengalaman masuk dalam dimensi
lambat, penulis masuk dalam dimensi lambat itu selama kurang lebih tujuh hari, anehnya
begitu keluar dari dimensi lambat itu, ternyata hanya 20 menit, awal kisahnya
saat itu penulis tiba di pos pendakian terakhir Arcopodo, sambil melepas lelah penulis duduk memandang ke arah
puncak gunung, agak jauh terlihat seperti sebuah gapura, sebentar penulis melihat
dengan lebih jelas apakah itu memang sebuah gapura atau sekedar tumpukan batu,
akhirnya penulis menghampiri tempat tersebut dan benar itu ternyata sebuah
gapura, ketika penulis melintasi gapura itu tiba-tiba suasananya berubah,
seperti masuk sebuah perkampungan kuno, penulis anggap perkampungan kuno karena
pakaian yang di pakai penduduk disitu seperti pakaian orang zaman dulu, di situ
penulis disambut seseorang yang kemudian mengenalkan diri sebagai tokoh
pimpinan disitu, nama beliau adalah pak Nandi begitu pula penulis memanggil
beliau, kemudian penulis di ajak ke rumahnya, sebuah rumah sederhana khas
seperti di kampung, di situ penulis menginap beberapa hari, selain ngobrol
banyak hal terkait yang bisa penulis ceritakan dalam buku ini tentang hilangnya
sejarah Nusantara, penulis juga di ajak jalan-jalan melihat-lihat pemukiman
sekitar, masyarakat di situ sangat ramah, begitu berpapasan, mereka selalu
tersenyum, sampai akhirnya penulis menyadari ada yang aneh di tubuh mereka,
kakinya seperti kaki binatang kuda atau sapi, hal ini sempat penulis tanyakan
ke pak Nandi, kenapa seperti itu, kemudian beliau menjawab “ya beginilah rupa
kami, semua keturunan Asura berbentuk mirip manusia, tugas kami melayani semua
keturunan bangsa Arya”.
Setelah berhari-hari penulis baru ingat bahwa
sebelumnya penulis sedang melakukan pendakian, kemudian penulis mohon pamit dan
minta tolong di antarkan kembali ke Arcopodo,
ketika sampai di gapura, setelah mengucapkan salam perpisahan, penulis kemudian
melintasi gapura itu, dan seketika penulis kembali ke Arcopodo, mohon maaf tidak banyak yang berani penulis ceritakan,
sebagian cerita lainnya tertuang dalam tiap bagian di buku ini, kembali pada inti
bahasan pokok tentang Semeru.
Semeru adalah salah satu gunung purba yang
ada di Nusantara, selain gunung Toba, gunung Tambora, gunung Krakatau dan
gunung Bromo. Semeru memiliki peran penting dalam awal penelusuran jati diri
bangsa ini, dikisahkan dalam kitab Wajasaneyi Samhita, Rudra alias Siwa alias Maha Dewa alias
Maheswara alias Trinetra terlahir digunung Meru atau Sumeru
atau Semeru, kisah ini terjadi di tahun 3.863.102 sebelum masehi, kenapa kisah
ini tidak terjadi di gunung Himalaya seperti yang sering kita baca dalam sejarah
yang ada saat ini?, dikisahkan dalam kitab Lingga Purana, Rudra pergi bertapa
ke Himalaya karena meninggalnya isitrinya yang bernama Sati, Sati adalah
anak Daksa salah seorang PRajapati keturunan Dewa Brahma, Sati merupakan istri
pertama Rudra yang kemudian bunuh diri dengan cara terjun ke dalam api, kisah
bunuh dirinya Dewi Sati ini terkait dengan sikap Daksa kepada Rudra, Prajapati Daksa
sama sekali tidak menghargai Rudra sebagai menantunya yang menjadi suami dari Dewi
Sati.
Jika saat itu Rudra berada di Himalaya, Rudra
tidak perlu lagi pergi ke Himalaya, sebab dia sudah ada disitu, sedangkan yang
tertulis dalam kitab Lingga Purana,
Rudra pergi bertapa ke Himalaya, jadi jelas Rudra tidak berada di Himalaya,
dengan kata lain Rudra berada di suatu tempat dan kemudian pergi ke Himalaya,
atau Rudra berada di Semeru dan kemudian pergi ke Himalaya begitu lebih
tepatnya.
Rudra
Dalam kisah yang lain, yang juga dapat
menjelaskan dimana Rudra berada adalah kisah dari kitab Aranyandaka, yang
mengisahkan tentang Shri Rama dan Rahwana yang menculik Dewi sinta, Rahwana anak
dari Dewi Kaekesih dan Resi Wisrawa, Dewi Kaekesih sendiri adalah cucu dari Ditya
ras Asura, sebelum menjadi Raja Alengka, Rahwana melakukan tapa untuk memuja Dewa
Brahma, demi mengharap kehidupan yang abadi, tetapi Dewa Brahma menolaknya, dan
meminta Rahwana mengganti permintaannya, akhirnya Rahwana meminta supaya
menjadi unggul diantara para Asura, kemudian Dewa Brahma mengabulkan
keinginanannya dan memberi kesaktian agar Rahwana lihai menggunakan senjata
Dewa dan ilmu sihir, kemudian Rahwana meminta restu kakeknya Sumali untuk
menyerang Alengka, yang pada waktu itu Rajanya adalah Kubera yang merupakan
saudara tiri dari Rahwana.
Alengka adalah sebuah kerajaan yang megah, permai
dan indah serta kaya raya, itulah sebabnya Rahwana ingin menguasainya, Kubera
lantas menyerahkan kerajaannya atas permintaan dari ayahnya resi Wisrama,
setelah berhasil menguasai Alengka Rahwana pergi ke gunung Semeru untuk
menaklukkan Dewa Siwa, Rahwana mencoba mencabut gunung Semeru, untuk
dipindahkan ke Alengka, tetapi gunung itu putus di ujungnya, akhirnya puncaknya
saja yang akan dibawa ke Alengka, di tengah perjalanan, Dewa Siwa mengetahui
hal itu, kemudian di injaknya pucuk gunung itu sehingga terjatuh dan Rahwana
tergencet di bawahnya, pucuk gunung itu kemudian di kenal dengan nama gunung
Penangungan, Rahwana yang sedang kesakitan karena tergencet gunung itu akhirnya
memohon ampun pada Dewa Siwa, lalu Rahwana membuat lagu puji-pujian kepada Siwa
agar berkenan melepaskannya, akhirnya Dewa Siwa pun luluh dan akhirnya
melepaskannya, dan selanjutnya Rahwana menjadi pemuja Siwa seumur hidupnya.
Kisah Rahwana dan gunung Semeru di paragraf
sebelumnya juga menjelaskan bagaimana asal usul gunung Penanggungan, kenapa bisa
bernama Penanggungan?, apa yang di tanggung? Yang di tanggung tidak lain adalah
kesalahan Rahwana yang telah mencoba memindahkan gunung Semeru, dan hukuman
Rahwana tergencet itu menjadi penanggungan baginya, kisah Rahwana yang lebih
detil akan di bahas di bagian ketiga dalam buku ini.
Gunung Penanggungan
Apa sebenarnya
hubungan Semeru dan Nusantara purba? Di gunung Meru, yang kemudian disebut Sumeru
atau Maha Meru, yang merupakan nama pucak gunung itu, dan sekarang dikenal
dengan nama Semeru adalah tempat dimana Rudra atau Dewa Siwa di lahirkan,
dimana letaknya? Loh kok tanya lagi, ya di Nusantara toh, sebagian besar pada
saat itu Nusantara di huni oleh para ras Asura keturunan Ditya itulah sebabnya
kenapa lebih banyak para ras Asura yang memuja Siwa, dan salah satunya adalah
Rahwana penguasa kerajaan Alengka, dimana letak kerajaan Alengka? Alengka
terletak di bagian barat Nusantara yang nanti akan di bahas lebih detil di
bagian ketiga buku ini, setelah kerajaan Alengka jatuh ke tangan Shri Rama
barulah Nusantara ini banyak di huni oleh keturunan Aditya dan kemudian terjadi
sebagian percampuran ras yang kemudian menyebar seantero dunia, baru kemudian di
tambah lagi keturunan ras manusia murni dari Adam di awal zaman Kali Yuga.
Kenapa
penulis menyebut Adam sebagai ras manusia murni?, karna ras sebelumnya yaitu
ras Asura memang memiliki bentuk tubuh yang hampir sama seperti ras adam,
tetapi tidak memiliki darah berwarna merah seperti ras keturunan Adam,
rata-rata ras sebelumnya memiliki darah berwarna ungu dan hitam, sebagian lagi
berdaging tapi tidak berdarah.
Satu hal
lagi yang menguatkan bahwa Siwa ada di Semeru, berdasarkan kitab Wanaparwa, dalam kisah Maha Bharata, tentang
perseteruan Pandawa dan Kurawa, dikisahkan setelah Pandawa tersingkir dari Hastinapura,
kemudian para Pandawa mendirikan kerajaan Indraprasta yang sangat megah, kemegahan
bangunan Indraprasta tak lepas dari jasa Asura yang bernama Mayasura, saat itu
Mayasura merasa berhutang budi karena telah diselamatkan oleh pangeran Arjuna.
Pangeran Duryodana yang merupakan sepupu Pandawa merasa iri dengan
kemegahan kerajaan Indraprasta, kemudian dibuatlah siasat oleh patih Sengkuni yang
merupakan paman dari Duryodana untuk mengundang Pandawa dan mengajak bermain
dadu, dengan taruhan kerajaan sampai terakhir mempertaruhkan Dewi Drupadi,
istri dari para Pandawa, kalah dalam permainan dadu dengan Kurawa, otomatis Pandawa
kehilangan kerajaan dan dihukum mengasingkan diri, Pandawa berpencar agar tidak
mudah dikenali, sebab jika sampai dikenali, maka hukuman pengasingan para
pandawa akan di tambah lagi, dengan kata lain ini hanya siasat patih Sengkuni
agar pandawa tidak bisa kembali ke Indrarasta lagi.
Pangeran Arjuna pergi ke timur untuk menemui Dewa Siwa yang bersemayam
di gunung Semeru, sebelum pangeran Arjuna mendapatkan senjata panah Pasupati
dari Dewa Siwa, Pangeran Arjuna bertapa di gunung Indrokilo, di mana gunung Indrokilo
tersebut? Indrokilo adalah nama sebuah daerah yang berada di lereng gunung
Ringgit, gunung Ringgit sendiri merupakan sebuah anak gunung yang sekarang kita
kenal dengan nama gunung Arjuna yang berada di wilayah Malang Jawa Timur.
Adakah yang tahu siapa yang pertama kali memberi nama gunung tersebut
adalah gunung Arjuna? Atau adakah juga yang tahu siapa yang pertama kali
memberi nama gunung itu adalah gunung Semeru, semua nama-nama itu baik gunung Arjuna
atau pun gunung Semeru bukan lah pemberian seseorang pada zaman ini, namun
sudah ada sejak dahulu kala dari kisah-kisah yang dikisahkan secara turun
temurun, dan tentunya nama tersebut bukan hasil karangan belaka, melainkan
diambil dari nama orang atau kejadian tertentu, seperti lazimnya nama-nama
daerah yang lain yang diberi nama sesuai nama orang atau kejadian yang terjadi
di daerah itu.
Perlu di ketahui juga satu-satunya gunung purba Nusantara yang tidak pernah
meletus hebat dan menghasilkan
proses volkano-tektonik hanyalah gunung Semeru, aktifitas gunung Semeru tidak
pernah meletus hebat yang menyebabkan dampak yang besar seperti gunung,
beberapa kali gunung Semeru tercatat meletus tapi hanya letusan-letusan kecil
saja, hingga saat ini masyarakat setempat sangat percaya gunung Semeru selalu
di jaga para Dewa, khususnya para Dewa yang berada di Arcopodo.
Dari kisah gunung Semeru yang sangat jelas, bahwa Semeru sudah dikenal
juataan tahun sebelum masehi, Nusantara saat itu sudah ada penghuninya, tidak
seperti sejarah yang sekarang ini, yang seolah di Bumi Nusantara ini dimasa sebelum
masehi tidak ada apapun, hanya sebidang tanah yang tak bertuan saja, yang
paling lucu kita percaya, bahwa tanaman A berasal dari negara A, tanaman B
berasal dari dari negara B, dan lainnya, jangan lupa Nusantara ini terletak di
garis Katulistiwa, kekayaan flora dan fauna sangat melimpah, jadi bukan berarti
jika orang barat awalnya ketemu kambing di Afrika terus datang ke Nusantara
ketemu dengan kambing juga, lalu di klaim oh kambing ini asalnya dari Afrika,
hanya karna yang dia temui pertama kali di Afrika, kemudian kita harus percaya,
dan menerimanya sebagai sesuatu yang benar, Tuhan itu memberikan kita otak
untuk berfikir dan hati untuk menalar, bukan menerima mentah-mentah informasi
yang masuk, tanpa di olah terlebih dahulu yang menjadikan kita bermental jongos
atau istilah kerennya sekarang adalah mental Follower.