Adi, adicita, adipati, aji, aksara, aksi, alpa, amerta, aneka, angka, angkara, angkasa, aniaya, antara, antariksa, anugerah, arca, asa, asmara, asrama, astana, atmaja, baca, bagai, bagi, bahagia, basa, bahaya, bahtera, bahu, baiduri, bakti, bala, banaspati, wangsa, bangsawan, basmi, bea, beda, bejana, belantara, bencana, benda, bendahara, bicara, berita, bidadari, biji, binasa, birahi, bisa, buana, budaya, budi, bukti, bumi, bupati, busana, buto, cabai, cahaya, candi, candra, cara, caraka, cedera, cela, celaka, cempaka, cendana, cerita, cerna, cinta, cita, cipta, citra, cuci, curiga, dahaga, dana, delima, denda, derita, desa, dewasa, darma, derma, dirgantara, dirgahayu, dosa, dupa, dusta, duta, gajah, galu, gala, gandarwa, gapura, garuda, gatra, gaya, gembala, gergaji, gerhana, giri, gua, gula, guna, guru, harta, hasta, hina, intisari, indera, istana, istimewa, istri, jaga, jagat, jaksa, jala, jambu, japa, janda,jasa, jati, jaya, jelata, jelita, jelma, jenggala, jiwa, juwita, juta, jutawan, kala, kalpataru, kama, kamajaya, kanji, kapas, kerana, karunia, karya, kecapi, keluarga, kendi, kepala, keranda, kerja, kesatria, krama, kuasa, kusuma, laba, lagu, laksana, logam, lokakarya, lintas, madya, madu, mahkota, malapetaka, mandala, mantra, maya, melati, menteri, merdeka, merdu, merica, merpati, mesrah, mesti, muda, moksa, mustika, mutiara, nada, nama, narapidana, negara, negeri, neraca, neraka, netra, nila, nirmala, nirawana, nista, pada, paksa, pandai, pandita, panitia, parca, patih, pedati, pekerti, pendapa, perdana, percaya, peribahasa, peristiwa, perkara, permaisuri, permata, persada, pertama, pertiwi, petaka, prabu, prahara, prakarsa, pramugari, prasangka, prasasti, pria, pribumi, puasa, puja, pujangga, punggawa, purba, puri, purnama, purwa, pusaka, puspa, puspita, putra, putri, raga, rahasia, raja, rasa, rata, ratna, rela, remaja, rencana, rupiah, sabda, sahaja, sahaya, saksi, sakti, samudra, sandiwara, senggama, sangka, sangsi, santri, santika, sarana, sari, satru, satwa, saudara, sayembara, sederhana, sedia, degala, sejahtera, seloka, semboyan, sementara, sempurna, semua, senantiasa, sengsara, sengketa, senjata, senjata, sentosa, serigala, seteru, setia, siksa, sila, sisa, siswa, suami, suara, suasana, suci, sudah, sukarela, sunyi, suralaya, sutra, swasta, tani, taruna, tata, tega, teja, telaga, tembaga, tentara, tuna, udara, umpama, upacara, upah, upaya, upeti, usaha, utama, utara, wacana, wahana, waisak,waluh, wanara, warga, warta, waspada, wibawa, wicara, wijaya, windu, wira, wisma, yayasan, yuda, eka, tunggal, dwi, tri, catur, panca, sapta, dasa....
Sementara iki sek, pegel ngetik e...
Saya yakin 99,99% sampean gak asing dengan kata2 itu, tapi saya juga yakin 99,99% sampean gakro nek semua kata sing tak tulis iku dari bahasa sansekerta...
Iya bener, semua kata itu dari bahasa sansekerta yang artinya sama seperti yang sampean semua pahami, lah ngunu kok yo sek percoyo nek sansekerta iku milik asing yang di bawa dari luar ke nusantara, sedangkan di negara yang mengklaim itu kata2 itu meh gak dipakai alias meh gak ada, kecuali sedikit saja...
Saya ambil satu contoh saja, rupyah dalam bahasa sansekerta berarti alat tukar barang(uang), satu2 negara yang memiliki mata uang yang disebut rupiah ya indonesia ini, di india sana masih di sebut rupee bukan rupiah...
Sayang nya kita semua sudah dipaksa melupakan kejayaan masalalu, jangankan sansekerta yang di tulis dengan huruf pallawa, abjad jawa alias honocoroko ae sekarang cuman seduikit yang tau dan bisa...
Terakhir, jgn sekali2 lupakan sejarah, ojo dadi kacang lali kulit e, karna ketika kita tidak tau asal, maka kita tidak akan tau tujuan...
#Sangkan_paran
#remek
sejarah yang mungkin terlupakan atau sengaja biar terlupakan untuk mengerdilkan sebuah bangsa yang besar
Showing posts with label peradaban purba. Show all posts
Showing posts with label peradaban purba. Show all posts
Monday, October 23, 2017
Tuesday, August 29, 2017
NEGERI API
Nusantara hingga awal zaman Kaliyuga dikenal sebagai Negeri Api, agak
terdengar sedikit lucu memang seperti di film “Avatar the legend of ang”, dan
para pembaca juga boleh tertawa, tetapi nanti setelah selesai membaca buku ini
anda kan berpikir dua kali untuk tertawa jika mendengar Nusantara adalah Negeri
api.
Negeri api sendiri pernah menjadi nama sebuah kerajaan kecil yang
terletak di daerah gunung Krakatau, yang masuk wilayah kekuasaan Raja
Dewawarman, kerajaan kecil itu bernama kerajaan Agninusa.
Sebelum Adam diturunkan di bumi, bumi ini sudah berpenghuni, menurut
versi arab atau versi Islam, sebelum Adam diturunkan di bumi, bumi sudah dihuni
oleh keturunan Banul Jan, siapa Banul Jan itu? Banul Jan adalah bangsa Jin,
masih menurut versi Islam bahwa Jin itu terbuat dari api, jadi Sebelum Adam
diturunkan di tahun 5736 sebelum masehi, tahun itu adalah tahun peralihan zaman
Dwapara Yuga ke zaman Kali Yuga, secara global sebelum ras Adam beranak pinak
dan menyebar ke seluruh pelosok bumi, bumi ini masih di huni oleh Jin makhluk
yang berasal dari api, dan kisah dalam versi ini hanyalah sepenggal saja,
mestipun dijelaskan bahwa Jin itu ada yang baik dan ada yang buruk, tetap saja
itu kurang detail.
Karena sebelum diturunkannya Adam bumi ini sudah dihuni para Jin maka
dari itu pantaslah Nusantara ini di sebut sebagai Negeri Api. Versi lebih
lengkap bisa dipelajari dalam kitab-kitab Hindu kuno, atau bisa mencari sendiri
dengan tunneling lewat meditasi kalau beruntung bisa diperkenankan memasuki
terowongan waktu, anda juga akan tahu sendiri aslinya bagaimana, metode ini
sudah umum gunakan di barat, disebut dengan quantum tunneling phenomena.
Keunikan Negeri Api, jumlah gunung berapi yang akhir hingga sekarang
adalah 127 gunung, yang letaknya mengelilingi wilayah Negeri Api, seperti
sebuah pagar yang saling menyambung, dan jumlah ini adalah jumlah terbanyak di
dunia, dari 100% jumlah gunung berapi di dunia hampir separuhnya berada di
Negeri Api.
Kembali pada bahasan Negeri Api, di Nusantara ini sampai awal zaman
Kali Yuga di dominasi keturuan ras Asura bangsa Ditya, dan sedikit keturunan
Aditya yang ada disini.
Sebelum Adam di ciptakan bumi ini di huni empat ras besar, yaitu ras
kulit putih, ras kulit hitam, ras kulit merah, dan ras kulit kuning. Dua ras
adalah keturunan Ditya yaitu ras kulit merah dan kulit hitam, sedang ras
berkulit putih dan berkulit kuning adalah keturunan Aditya, seperti halnya
manusia sekarang, kebaikan atau keburukan bukannya di tentukan oleh rasnya atau
warna kulitnya, begitu pula juga di zaman itu, mestipun ras kulit merah dan
kulit hitam adalah keturunan Ditya yang cenderung bersifat negatif, bukan
berarti semua kelakuan dan sifat dari ras tersebut juga buruk.
Seluruh sebagian besar daratan bumi telah di huni oleh ras Asura, ras
Asura kulit hitam mendominasi benua Afrika (sekarang) ras Asura kulit putih
mendominasi wilayah eropa (sekarang), ras Asura kulit merah mendominasi wilayah
Asia tenggara dan sebagian daratan Suhul (sekarang disebut Australia), sedang
ras Asura kulit kuning mendominasi Asia bagian timur, mestipun masing-masing
ras mempunyai wilayahnya sendiri-sendiri, bukan berarti disitu tidak ada ras
Asura yang lain, Nusantara purba misalnya, mestipun wilayah Nusantara purba di dominasi
ras Asura kulit merah, tetapi banyak juga ras Asura berkulit lain yang juga
bermukim dengan damai di sini, hingga sekarang Nusantara di kenal dengan
keberagamannya.
Perbedaan ras Asura berdasarkan warna kulit, hanyalah pembagian secara
besarnya saja, karena dengan warna kulit yang sama, masih di bagi lagi dengan
kerajaan-kerajaan dan suku-suku yang lebih kecil.
Seperti yang di ceritakan dalam bagian-bagian sebelumnya,
dua kerajaan besar bangsa Asura yang terkenal yaitu Bali dan Alengka, mestipun
keduanya merupakan keturunan Ditya tapi keduanya mempunyai sifat-sifat yang
berbeda.
Di bagian sebelumnya yang di ceritakan hanya Bali, Sumatera, Sulawesi,
Jawa dan Kalimantan saja, lalu bagaimana keadaan pulau atau daerah yang lain, misalkan
pulau Papua, untuk Papua saat itu tidak menjadi satu daratan dengan Sundaland,
pulau Papua saat itu menjadi satu dengan daratan Australia (sekarang), dulu
daratan itu di sebut daratan Sahul, penduduk Australia asli yang sekarang
hampir sudah tidak ada, karna sebagian besar berada di Papua Nugini, penduduk
Australia yang sekarang adalah sebagian bangsa eropa yang bermigrasi ke
Australia.
Kita akan bahas satu persatu dari istilah Sundaland dulu, kata Sunda
dalam berbagai bahasa yang berhasil penulis kumpulkan bisa berarti sopan,
bagus, terang, bersinar, putih, indah, menyenangkan, kestria. Nama Sundaland
sendiri adalah pemberian dari Ptolemause seorang Yunani di tahun 150 Masehi,
pemberian nama tersebut tidak lepas dari kondisi alam dan masyarakat pada waktu
itu yang benar-benar Indah dan menakjubkan.
Nusantara purba antara Jawa dan Sumatera di pisahkan oleh gunung Krakatau
purba waktu itu gunung Krakatau bernama gunung Batuwara, menurut naskah kuno
jawa yang berjudul “Pustaka Raja Parwa” mestipun letusan gunung Batuwara ini
tak sebesar letusan gunung Toba purba, gunung Tambora dan gunung Bromo purba,
tetapi letusan gunung Batuwara tersebut juga berpengaruh besar pada iklim
dunia.
Letusan gunung Batuwara terakhir yang terbesar itu terjadi di abad ke 4
masehi, selain mengakibatkan terputusnya Jawa dan Sumatera, juga mempengaruhi
kondisi ekonomi dan iklim dunia, beberapa di antaranya kekasiran Romawi,
Persia, Cina dan hilangnya kota Maya. Tercatat turunnya temperatur suhu bumi
hingga 10 derajat celcius yang berlangsung hingga 20 tahun, menyebabkan musim
dingin yang berkepanjangan, yang menyebabkan kondisi dunia menjadi amburadul
karena gagal panen.
Setelah letusan gunung Batuwara di tahun 408 masehi, gunung Batuwara
tenggelam oleh air laut sampai beberapa ratus tahun munculah anak gunung
Batuwara di permukaan air yang kemudian disebut gunung Krakatau, gunung
Krakatau terus tumbuh menjadi gunung yang besar, hingga di tahun 1883 gunung
Krakatau mencapai puncak pertumbuhannya dan meletus dasyat, mestipun letusan
ini tak sehebat letusan di tahun 408 masehi, tetapi letusan di tahun 1883 juga
mempengaruhi kondisi iklim dunia, selama satu bulan sinar matahari meredup,
bulan menjadi berwarna biru.
Kembali pada masa Negeri Api sebelum masehi, wilayah Jawa (pulau Jawa
sekarang) yang saat itu belum menjadi pulau, adalah tempat para Pertapa dan
Brahmana, Wilayah yang sama sekali bebas dari dunia politik, banyak tempat
pemujaan dan ibadah yang di bangun di tanah Jawa, maka jangan heran jika di
temukan bangunan-bangunan prasejarah yang tertimbun tanah berusia ribuan bahkan
jutaan tahun yang lalu, beberapa contohnya tempat ibadah dan pemujaan situs
Piramid gunung Padang, situs Piramid di Jawa Tengah dan situs Piramid yang
berada di wilayah Jawa Timur yang belum ditemukan.
Para Asura dan keturunannya sering membuat tempat pemujaan atau ibadah
berupa bangunan berbentuk limas segi empat seperti Piramid, para Raja Mesir
yang memiliki garis keturun Asura juga membuat Piramid yang sama sebagai tempat
pemujaan.
Terjadi salah kaprah bahwa Piramid adalah makam para Firaun atau para
Raja Mesir prasejarah, dengan hanya didasarkan hipotesa ditemukannya mumi
Firaun yang berada didalam Piramid, sedangkan yang sebenarnya terjadi adalah diletakkannya
mumi Firaun itu di dalam Piramid di Mesir adalah sebagai sebuah penghormatan
kepada Firaun tersebut, dan salah kaprah juga bahwa Piramid itu yang pertama
kali yang membuat adalah orang Mesir, karena hampir di seluruh penjuru dunia
bisa di temukan Piramid, di Mexico, di Jepang, di Itali, di Sudan, di China, di
Kamboja, di Peru, di Eropa, di Indonesia, di Amerika tengah, di Nigeria dan
daerah lainnya, dan itu adalah Piramid yang memiliki pola yang sama, yang di
buat para keturunan Asura atau para keturunan manusia yang mempunyai garis
keturunan Asura.
Banyak sekali sejarah yang di buat bangsa asing, penulis sebut sejarah
versi asing yang menyatakan wilayah Negeri Api ini baru di huni di tahun 8000
sebelum masehi, dan rata-rata menyebutkan datang dari wilayah Eropa, Arab,
India dan Cina, sekali lagi mencoba menggiring bahwa sebelumnya di Negeri Api
ini tidak ada apa-apanya kosong tak berpenghuni, pertanyaannya lalu mengapa
fosil manusia purba tertua di temukan di wilayah Negeri Api ini???
Tuesday, June 20, 2017
SANSEKERTA
Selama ini bahasa dan aksara Sansekerta dianggap bahasa dan aksara yang
berasal dari India, sedangkan Sansekerta sendiri diketahui adalah bahasa kitab
weda yang di bawa bangsa Arya memasuki india di adab ke 16 sebelum masehi, dan
itu sudah dijelaskan di bagian sebelumnya mengenai bangsa Arya, jika di lihat
lebih detail lagi, sangat jelas bahwa aksara Sansekerta bukanlah milik asli
bangsa Dravida yang merupakan suku asli yang menetap di India.
Dari berbagai jenis aksara yang ada di India, memiliki ciri khusus
yaitu adanya garis sambung disetiap kata, bisa dilihat pada aksara Bengali,
aksara Dewanagari dan aksara Gurmukhi sedangkan aksara Sansekerta tidak
memiliki ciri garis sambungan pada tiap katanya, aksara Sansekerta sendiri
lebih mirip dengan aksara Kawi kuno yang merupakan cikal bakal aksara Bali
kuno.
Di bawah ini adalah contoh dari aksara Sansekerta yang asli, silakan di
lihat baik-baik.
Bandingkan dengan aksara dari India di bawah ini.
Sekarang bandingkan lagi, dengan aksara Pallawa Nusantara yang di klaim
berasal dari India di bawah ini.
Dan terakhir, sekarang bandingkan aksara Sansekerta dengan aksara Jawa
kuno atau aksara Kawi di bawah ini.
Jika anda perhatikan satu-persatu detail bentuk hurufnya masing-masing,
dari bentuk bulat besar, bulat kecil, dan bentuk juntaian, pasti anda akan
mengatakan bahwa Aksara Sansekerta didalam kitab weda yang di bawa bangsa Arya
ke India, lebih mirip dengan aksara Kawi atau Jawa kuno, dan sangat berbeda
dengan aksara India yang berciri khas
mempunyai garis penghubung di bagian atas pada setiap katanya.
Istilah Kawi sendiri berasal dari sebuah daerah pegunung di mana di
gunung tersebut di masa purba di tempati oleh para pujangga ras Asura, gunung
itu terletak di wilayah kota Malang sekarang,
secara bahasa Kawi sendiri berarti pujangga, dari tulisan para pujangga
yang berupa syair puja itulah aksara Kawi di kenal, dan sekaligus menjadi nama
gunung tersebut, gunung Kawi adalah gunung para pujangga untuk menulis puja,
tetapi sekarang fungsi gunung Kawi di kaburkan menjadi gunung mistik tempat
mencari pesugihan.
Sebernanya di Nusantara sendiri hingga sekarang masih memiliki sedikitnya
14 aksara yang masih dapat ditemukan diantaranya :
- Aksara Kawi
- Aksara Bali
- Aksara Sunda
- Aksara Batak
- Aksara Bugis
- Aksara Kerinci
- Aksara Ulu (lampung)
- Aksara Makasar
- Aksara Lontara
- Aksara Jangang-jangang
- Aksara Bilang-bilang
- Aksara Lonta ende
- Aksara Palawa
- Aksara Jawa
Di bawah ini adalah contoh aksara sunda, yang mungkin hanya sebagian
kecil saja orang sunda sendiri saat ini yang mengetahuinya.
Kitab Weda yang di bawa kembali ke Nusantara dari India di abad ke 3
sebelum masehi, bukanlah kitab yang sama ketika suku Arya membawanya ke India,
kitab yang di bawa itu sudah di tulis ulang oleh Panini di abad ke 5 sebelum
masehi dengan aksara khas dari India, kitab tersebut pun sudah menjadi suatu
ajaran agama yang di sebut agama Hindu India.
Uniknya hingga sekarang Nusantara ini masih di anggap bangsa yang
kerdil, bangsa terbelakang, sehingga semua budaya dan bahasa berasal dari luar
Nusantara, bahkan penduduk atau penghuni Nusantara pun dianggap berasal dari luar
Nusantara, dan itu berhasil melemahkan mental bangsa Nusantara ini, hingga
sekarang bangsa ini masih rela dianggap bangsa kelas tiga.
Namun jika para pembaca lebih detil mempejalari sejarah secara utuh,
pasti akan menemukan benang merah betapa dulunya bangsa ini, adalah bangsa yng
besar, bangsa yang pernah menguasai dua pertiga wilayah dunia.
Kembali pada bahasan bahasa Sansekerta, bahasa Sansekerta diketahui
adalah bahasa dalam kitab Weda kuno, di sebut Sansekerta yang berarti sempurna,
karena bahasa Sansekerta yang berada didalam kitab Weda mengajarkan tentang kesempurnaan,
kitab Weda kemudian menjadi cikal bakal lahirnya agama Hindu di India, jika di
tarik kebelakang, siapakah yang membawa kitab Weda?, yang membawa adalah bangsa
Arya yang masuk ke India di abad ke 16 sebelum masehi, dari mana bangsa Arya
berasal?, bangsa Arya merupakan penduduk asli Nusantara yang mengungsi dari Nusantara
karena bencana meletusnya gunung berapi yang berada di kutub selatan, yang
mengakibatkan gelombang Tsunami yang menyapu daratan Nusantara yang terjadi di
akhir abad ke 18 sebelum masehi, jadi sangat jelas bahwa bahasa Sansekerta
awalnya adalah dari Nusantara, tapi sayangnya kisah ini tidak pernah
diceritakan.
Masyarakat sekarang lebih bisa dan bangga berbahasa dan menulis dengan
aksara bangsa lain, dan mengajari anak-anaknya dengan pola yang sama seperti
yang mereka lakukan, tetapi tidak begitu faham dengan bahasa daerahnya sendiri,
bahkan yang dapat menulis aksara dearahnya sendiri saja bisa di hitung dengan
jari, apakah salah mempelajari bahasa dan aksara bangsa lain? Tentu tidak ada
salahnya mempelajari bahasa dan aksara bangsa lain, yang menjadi masalah adalah
ketika kita lebih bangga akan bahasa, aksara dan budaya bangsa lain, hingga
kita lupa betapa besar dan luhurnya bangsa sendiri, maka lambat tapi pasti
nilai cinta tanah air akan hilang, dan ketika itu hilang maka apa yang di
katakan Juri Lina seorang penulis dari Swedia dengan bukunya yang terkenal
berjudul “Architects of Deception the Concealed History of
Freemasonry” akan benar-benar terjadi, Nusantara sedang di jajah dan akan terus
di jajah.
Dalam tulisannya Juri Lina mengatakan, ada tiga cara
untuk melemahkan dan menjajah suatu bangsa, yang pertama kaburkan sejarahnya,
yang kedua hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tidak bisa dibuktikan
kebenarannya lagi, dan yang ketiga putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya,
katakan pada bangsa itu bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.
Sebetulnya penjajahan itu sudah di mulai di Nusantara
ini sejak tahun 1400, ketika kerajaan persemakmuran terbesar di Asia tenggara
di kalahkan kerajaan kecil yang bernama Demak, kerajaan besar itu adalah
Majapahit, kemudian di perparah lagi pada zaman kolonial yang berkuasa 300
tahun di Nusantara ini, dan sekarang memang susah untuk membangkitkan kembali
kejayaan Nusantara yang dulu pernah ada, tapi susah bukan berarti tidak
mungkin, kita mulai dari diri sendiri, keluarga dan teman terdekat, bangunkan
dari tidur panjangnya, sadarkan bahwa mereka semua adalah keturunan bangsa
Arya.
Dari semua ulasan di atas masihkah anda ragu, bahwa anda, saya dan
bangsa ini adalah pemilik sah aksara sansekerta dan sekaligus kita semua
penduduk Nusantara adalah bangsa Arya yang miliki garis keturunan langsung dari
bangsa Arya terdahulu.
Saturday, June 10, 2017
JAWA PURBA
Pulau Jawa
sekarang
Jawa sekarang dikenal nama sebuah pulau yang terletak di bagian selatan
Nusantara, membentang dari Banten sampai Banyuwangi, yang hingga sekarang
memiliki bermacam-macam budaya dan bahasa daerah, setidaknya tersisa 10 bahasa
daerah yang masih digunakan hingga sekarang di pulau Jawa ini, yaitu bahasa Sunda,
bahasa Betawi, bahasa Badui, bahasa Jawa, bahasa Osing, bahasa Bali, bahasa
Madura, bahasa Tengger, bahasa Kangean dan bahasa Banyumasan.
Sejak zaman Jawa purba, daerah Jawa yang masih menyatu dengan Sumatera,
Kalimantan, Madura dan Bali, wilayah Jawa memang sudah dikenal sebagai daerah
yang heterogen, karena pada masa purba daerah Jawa menjadi jujukan atau tujuan
para pelaku spiritiual dari berbagai belahan dunia saat itu, tentang hal ini
para pembaca bisa menemukan buktinya pada relief Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Nama Jawa pun sudah dikenal sejak tahun 1.515.100 sebelum masehi,
terdapat dalam catatan India kuno, dalam kitab Sundarakanda, diceritakan dalam kisah Ramayana, saat itu Shri Rama
mencari Dewi Sinta mendapat bantuan dari Hanuman seorang Asura yang berbentuk
wanara alias kera, yang kemudian turut membantu mencari letak pastinya kerajaan
Alengka, dengan memerintahkan anak buahnya mencari kerajaan Alengka hingga ke daerah
Yavadvip (Tanah Jawa).
Di masa setelah masehi kerajaan tertua
yang tercatat di tanah Jawa adalah kerajaan Salakanagara, dengan Raja
Dewawarman di tahun 125 masehi, beliau bergelar Prabu Darmalokapala Dewawarman
Aji Raksa Gapura Sagara, kerajaan tersebut terletak di bagian barat tanah Jawa,
kerajaan ini berlangsung selama tujuh generasi dengan Raja terakhir adalah Raja
Dharmawirya, karena Raja Dharmawirya tidak memiliki anak laki-laki dan anak
perempuannya dipersunting oleh Jayasinghawarman seorang Maharesi di Calankanaya
dari kerajaan Rajatapura di India, maka praktis dinasti Salakanagara berakhir
di gantikan kerajaan baru yang bernama kerajaan Tarumanagara di tahun 358
masehi, kemudian diteruskan oleh putranya yaitu Dharmayawarman, dilanjutkan
lagi oleh Purnawarman, di era Raja Purnawarman inilah kerajaan Tarumanagara
mencapai zaman keemasannya, kebesaran Tarumanagara tersohor hingga ke dinasti
han di cina.
Kerajaan Tarumanagara bertahan cukup lama
hingga tahun 669 masehi, dengan Raja terakhir adalah Raja Linggawarman yang
merupakan keturunan ke sebelas dari Raja Jayasinghawarman.
Dalam buku ini sengaja penulis hanya membahas
sedikit tentang kejayaan Nusantara di era setelah masehi, karena tulisan di
buku ini lebih dititik beratkan pada kisah kejayaan Nusantara purba, di buku
yang lain penulis akan menceritakan kemegahan Nusantara dari awal tahun masehi
hingga puncak kejayaan Majapahit, yang berhasil menguasai seluruh wilayah asia
tenggara kecuali kerajaan Sunda, dan penulis akan menulis sedetail mungkin
perkembangan kerajaan di Nusantara dari masa ke masa tanpa ada yang di tutup-tutupi
seperti sejarah sedang yang beredar sekarang.
Kembali pada bahasan Nusantara di masa
purba, dalam bagian ini di khususkan tentang sejarah Jawa purba yang pernah
menjadi pusat tempat ritual para Asura dari seluruh penjuru dunia.
Jawa purba sebagai pusat spiritual
Mengapa Jawa purba menjadi pusat
spiritual dimasa itu?
Perlu di ketahui, pada zaman itu mestipun
didominasi para Asura, namun wilayah Jawa purba adalah wilayah kekuasaan para Dewa,
sehingga sebelum tahun 61.558 sebelum masehi, nyaris tidak ada satupun kerajaan
Asura yang berdiri ditanah Jawa, kecuali di ujung timur Jawa yaitu kerajaan Bali
purba, yang kekuasaannya hingga Banyuwangi (pada saat itu pulau Bali dan pulau
Jawa masih menjadi satu), kerajaan Bali purba itupun juga bukan merupakan kerajaan
yang berbasis politik kekuasaan, kerajaan Bali purba adalah pemuja Dewa Brahma
yang bersemayam di gunung Brahma atau gunung Bromo purba.
Jumlah Piramid terbanyak bukan lah di
mesir, seperti yang kita ketahui saat ini, tetapi jumlah terbanyak Piramid
berada di pulau Jawa sekarang, gunung Padang hanyalah salah satu Piramid yang
baru bisa ditemukan, masih ada sedikitnya empat Piramid besar lagi yang masih
selamat dari bencana-bencana purba, namun kondisinya sekarang masih tertimbun
tanah, sehingga terlihat seperti hanya sebuah bukit saja, tinggal menunggu
waktu yang tepat saja untuk membokar kembali bahwa Nusantara ini khususnya
pulau Jawa pernah menjadi pusat peradaban dunia.
Di bagian lain dalam buku ini dijelaskan
kenapa dan bagaimana Piramid bisa ada hampir diseluruh penjuru dunia, hal disebabkan
tidak lain karena Piramid adalah sebuah tempat ibadah bagi para ras Asura, dan
pusat Piramid dengan medan energi terbesar berada di pulau Jawa sekarang, itu
pula yang menjadi sebab kenapa wilayah Jawa purba menjadi pusat bagi para
pelaku spiritual di zaman itu.
Setidaknya paling sedikit ada lima belas
situs Piramid di daerah Jawa dan Sumatera, tetapi situs Piramid terbesar ada di
wilayah Jawa, terdapat sembilan situs piramid di wilayah jawa dari pengamatan
penulis selain situs Piramid gunung Padang yang sudah di temukan, masih ada
empat lagi situs Piramid yang berukuran raksasa di wilayah Jawa Tengah dan Jawa
Timur yang belum diketahui, yang sekarang masih berbentuk bukit dan gunung,
dari kelima Piramid raksasa itu ada empat piramid yang dibangun oleh keturunan
Aditya, sedang yang satu Piramid lagi dibangun oleh keturunan Ditya, ciri
piramid yang di bangun keturunan Ditya adalah piramid lancip, dalam piramid
yang berbentuk lancip ini terdapat sesuatu yang sangat berharga yang selama ini
di cari-cari oleh bangsa Israel.
Dari sedikitnya lima belas Piramid yang
berada di Jawa dan Sumatera, ada enam situs piramid yang berada di wilayah
Sumatera yang satu piramid yang memiliki ukuran raksasa, sedang lima lainnya
hanya seukuran dengan piramid Giza di Mesir yang tingginya hanya 132 meter di
atas tanah, tetapi dari lima belas piramid yang tersebar di wilayah Jawa dan
Sumatera, piramid yang memiliki umur paling tua berada di Sumatera, dan juga
merupakan Piramid dengan letak tertinggi di dunia.
Sengaja penulis tidak menulis detail
lokasi piramid-piramid yang belum di temukan itu, biarlah menjadi misteri
sampai waktunya tiba, dimana Nusantara di pimpin kembali oleh orang yang tepat
dan berhak menjadi Raja di Nusantara yang baru.
Kembali pada bahasan Jawa purba, mestipun
sekarang ini pulau Jawa bukan merupakan pulau terbesar di wilayah Nusantara,
dan hanya menduduki peringkat kelima sebagai pulau terbesar, namun pulau Jawa
ini memiliki tingkat kepadatan penduduk nomer satu di Nusantara, hal ini tidak
akan menjadi hal yang aneh ketika kita tahu sejarah wilayah Jawa purba yang
memang dari dulu menjadi pusat berkumpulnya suku-suku dari seluruh dunia.
Keunikan masyarakat Jawa
Sebagian masyarakat asli Jawa khususnya
dan Nusantara pada umumnya yang mempunyai garis keturunan suku Arya, memiliki
ciri khusus suku Arya yang melekat hingga abab ke 14 dan bisa jadi hingga
sekarang, ciri itu adalah para orang Arya bertarung tanpa perisai yang melekat
pada tubuh, yang disebut dengan baju zirah.
Setelah zaman keemasan Asura berakhir,
baju Zirah pertama kali dipakai di abad ke 12 sebelum masehi di Timur Tengah Kuno,
kerajaan Yuan dan wilayah Asia Utara hingga Asia Tengah, kemudian menular ke India
di abad ke 8 sebelum masehi, sedangkan kita ketahui hingga zaman Majapahit,
semua prajurit kerajaan tidak memakai baju zirah, apalagi sekelas patih atau
panglima perang, mereka malah bertelanjang dada, salah satu contoh patih Gaja
Mada.
Kenapa mereka tidak memakai baju zirah?
Apa mungkin pada saat itu tidak memiliki teknologi peleburan logam, sehingga
tidak bisa membuat baju zirah? Jawabannya bukan karena itu, sebab di zaman
Salakanagara saja, Nusantara sudah mampu membuat perhiasan seperti mahkota yang
sangat detail bertahtakan permata, sentaja berupa pedang pun sudah di buat,
tetapi baju zirah itu di anggap sesuatu yang tidak perlu bagi keturunan suku
Arya, karena mereka memiliki perisai yang lebih hebat yang tidak kasat mata,
jangankan tertusuk oleh pedang musuh, tergores saja tidak akan mungkin.
Anda bisa mencoba mengamati baik dari
relief, patung atau bukti peninggalan lain adakah keterangan tentang perisai
atau baju zirah yang di miliki kerajaan-kerajaan di Nusantara hingga di era
Majapahit, saya pastikan anda tidak akan dapat menemukan tentang hal itu, sebab
memang bangsa Nusantara ini yang merupakan keturunan langsung dari bangsa Arya,
sangat pemberani dan tidak memerlukan bentuk pertahanan seperti baju zirah itu,
jika anda pernah mendengar kata “ini dadaku mana dadamu” seperti itulah
keberanian yang di miliki bangsa Nusantara ini, dan harusnya kita juga
memilikinya sekarang.
Contoh baju zirah dari beberapa negara di luar Nusantara
Kemampuan perisai khusus seperti itu
hanya dimiliki oleh keturunan murni suku Arya, dan sebagian suku lain yang
belajar agar juga memiliki perisai ajaib tersebut, sebagaian besar pasukan keRajaan
yang berkelas komandan pasukan pasti memiliki perisai itu, perisai itu sekarang
dalam ilmu kanuragan di kenal dengan sebutan lembu sekilan dan onto
kusumo, suatu ilmu yang di turunkan atau di ajarkan bagi siapa saja yang
mencintai tanah airnya.
Panglima, Raja dan pasukan Nusantara yang gagah berani tanpa
baju zirah
Perisai tersebut bukannya tanpa
kelemahan, tetap saja tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa kelemahan di muka
bumi ini, salah satu kelemahan perisai itu adalah ketika hari lahir si empunya
perisai akan memasuki kondisi terlemah, sehingga perisai tersebut tidak dapat
berfungsi, itulah sebabnya sebagian besar masyarakat Jawa yang masih memegang
kuat tradisi, ketika hari lahir memilih untuk menyepi dan tidak terlibat dalam
peperangan.
Jika ada yang bilang pantesan masyarakat
Nusantara kalah perang dengan bangsa asing, lah tidak pakai baju zirah yang
gampang terbunuh! Yang bilang seperti itu suruh belajar sejarah lagi, tidak ada
satupun bangsa lain yang dapat mengalahkan Nusantara dan semua sejarah
kekalahan perang bangsa Nusantara ini adalah karena ada oknum bangsa sendiri
yang berkhianat, penghianat itu yang paling berbahaya, apa wajar kerajaan
sekelas Majapahit yang kekuasaannya hampir se Asia tenggara di kalahkan kerajaan
Demak yang luasnya hanya se kabupaten? Pelajari baik-baik agar kesalahan
tersebut tidak terulang di masa depan.
Hilangnya Jawa purba
Hilangnya peradaban Jawa purba hampir sama seperti
hilangnya peradaban purba yang lain, karena bagian selatan wilayah Jawa adalah
jajaran gunung berapi, sebagian besar sejarah Jawa purba hilang tertimbung
tanah akibat letusan gunung, dua gunung dengan letusan Dasyat yaitu gunung
Batuwara dan gunung Bromo purba turut menyumbang dalam peristiwa hilangnya
bukti-bukti sejarah tetang kebesaran peradaban Nusantara purba di Jawa ini,
mestipun bangunan-bangunan megah cukup sulit digali atau di temukan, karena
bencana itu, tetapi bencana sebesar apapun tidak dapat menghilangkan semangat
penduduk Nusantara, dalam hal ini khususnya masyarakat Jawa yang masih memegang
teguh tradisi yang adi luhung.
SULAWESI PURBA
Pulau
Sulawesi sekarang
Sulawesi yang sekarang di kenal sebagai pulau Sulawesi yang terletak
disebelah timur pulau Kalimantan, jauh di masa purba Sulawesi sudah
berpenghuni, tepatnya di tahun 291.983 sebelum masehi, Sulawesi di kuasai oleh
para Asura yang bentuknya Triwikramanya setengah manusia dan setengah hewan, Rajanya
adalah Asura yang berbentuk Triwikrama Ular Naga raksasa dengan tubuh dari besi,
tetapi penampakan biasa sama seperti manusia pada umumnya, penampakan Ular Naga
Raksasa itu hanya terjadi dalam keadaan Triwikrama, merujuk dari bahasa Sansekerta,
arti dari Sulawesi sendiri adalah Sula yang artinya Ular, Wesi yang artinya Besi,
jika di gabungkan maka berarti ular besi.
Naga Asura itu memiliki dua saudara, satu perempuan dan satu laki-laki,
di zaman purba keRajaan tersebut bernama Cakrapurasta, yang mempunyai pusat keRajaan
di gunung Bambapuang, salah satu kelebihan dari Asura di Sulawesi adalah mahir
dalam ilmu sihir, dan hingga saat ini ilmu itu masih diturunkan secara
turun-temurun oleh suku-suku yang berada di Sulawesi, salah satu suku yang
terkenal memiliki ilmu sihir adalah suku Kajang Amma Toa di Bulukumba, ajian
pancasona dan rawa rontek yang sangat ditakuti dan terkenal di jawa bersumber
atau mengadopsi ilmu sihir dari Sulawesi purba.
Naga Asura itu sendiri memiliki nama asli Nagapaksa, yang pada saat itu
menjadi penguasa di Bambapuang, adik laki-lakinya di beri kekuasaan di Tana Toraja,
Sulawesi bagian selatan, sedang adik perempuannya menjadi penguasa di daerah
Luwu Palopo.
Masyarakat Bugis Makasar dan Mandar mempunyai darah keturunan dari
Nagapaksa, hingga saat ini masyarakat Bugis dan Mandar terkenal dengan
kegigihannya, sifat konsisten yang pantang menyerah diturunkan turun-temurun melalui
sifat Nagapaksa yang gigih tetap bertahan menjaga gunung Bambapuang walaupun
dengan resiko harus kehilangan nyawanya.
Sedangkan suku Kajang di Bulukumba memiliki garis keturunan dari adik
perempuan Nagapaksa yang memiliki anak bernama Amma Toa, yang kemudian di
percaya sebagai nenek moyang suku Kajang, Amma Toa sendiri memiliki Ilmu Sihir
yang sangat mumpuni, Ilmu tersebut di dapat dari ibunya sebagai bekal untuk
mempertahankan diri, selain Ilmu sihir, Amma Toa juga memiliki kemampuan untuk
menjaga makanan tetap awet dalam waktu yang lama.
Suku yang berada di Tana Toraja memiliki garis keturunan dari adik
laki-laki dari Nagapaksa, yang mempunyai istri bernama Sondabilik, dan
menghasilkan keturunan yang menjadi Raja-Raja secara turun temurun di Tana Toraja.
Hubungan keluarga di masa lalu lah yang menjaga keharmonisan masyarakat di Bulukumba, Makasar, Mandar,
Bambapuang dan Tana Toraja tetap rukun dan hingga saat ini.
Nama-nama tokoh yang tertulis dalam kisah Sulawesi ini penulis ambil
dari kitab kuno berbahasa Sansekerta, bisa jadi dalam prasasti atau kitab-kitab
lain muncul dengan nama tokoh yang berbeda, tetapi nama-nama tokoh yang penulis
gunakan tidak mengurangi isi dan kandungan serta alur cerita yang terjadi di
Sulawesi, dalam kisah lain nama Nagapaksa disebut dengan sebutan Wellangdilangi,
hal itu adalah suatu yang sangat wajar karena perbedaan bahasa dan dialek, seperti
halnya nama Bima dalam versi India dan Werkudara dalam versi Nusantara, dalam
versi India Bima memiliki Istri bernama Hidimbi, sedang versi Nusantara bernama
Arimbi.
Hilangnya Sulawesi purba
Punahnya kerajaan purba di Sulawesi tak lepas dari peran meletusnya
gunung Bambapuang, Nagapaksa sendiri berumur sangat panjang hingga generasi
ketujuh Nagapaksa tetap menjadi penguasa di Bambapuang.
Meletusnya gunung Bambapuang sama sekali tak membuat Nagapaksa takut,
dia sudah bersumpah akan tetap tinggal di gunung hingga akhir hayatnya, dengan
meletusnya gunung Bambapuang meledak pulalah tubuh Raja naga raksasa Nagapaksa.
Setelah itu datanglah ras keturunan Adam dan berbaur dengan para
keturunan Asura yang masih tersisa, dan muncullah kerajaan-kerajaan baru di era
setelah masehi, tercatat kerajaan tertua di Sulawesi periode setelah masehi
adalah kerajaan Luwu, kisah lengkap tentang kerajaan Luwu akan di bahas di buku
yang lain, yang akan fokus mengupas tuntas sejarah kerajaan-kerajaan di
Nusantara di era kejayaan Nusantara setelah masehi.
Sejak abad ke 13 Sulawesi di kenal sebagai sumber mineral besi terbesar
di dunia, hal itu tidak lepas dari peristiwa meletusnya gunung Bambapuang yang
mengakibatkan meledaknya Nagapaksa yang tidak mau meninggalkan gunung yang
ditinggalinya, sehingga tubuh dari Nagapaksa yang terbuat dari besi itu ikut
meledak dan menyebar keseluruh wilayah Sulawesi.
Gunung
Bambapuang yang sekarang hanya berupa bukit
Subscribe to:
Posts (Atom)
Privacy Policy Kalender Jawa Kuno
Privacy Policy: Kalender Jawa Kuno Terakhir Diperbarui: 21 Februari 2026 1. Pendahuluan Kami menghormati privasi Anda. Kebijakan Privasi...
-
Privacy Policy: Kalender Jawa Kuno Terakhir Diperbarui: 21 Februari 2026 1. Pendahuluan Kami menghormati privasi Anda. Kebijakan Privasi...
-
Konon katanya loh ya, bangsa Indonesia itu menurut ahli antropologi adalah bangsa austronesia yang sekitar 4000 hingga 3000 tahun yang lalu...
-
Kue khas jawa yang ada di gambar itu sering kali kita temui saat menyambut ramadhan, iya tepatnya saat acara megengan😀. Apa itu megengan?...









