Showing posts with label peradaban purba. Show all posts
Showing posts with label peradaban purba. Show all posts

Monday, October 23, 2017

Sansekerta

Adi, adicita, adipati, aji, aksara, aksi, alpa, amerta, aneka, angka, angkara, angkasa, aniaya, antara, antariksa, anugerah, arca, asa, asmara, asrama, astana, atmaja, baca, bagai, bagi, bahagia, basa, bahaya, bahtera, bahu, baiduri, bakti, bala, banaspati, wangsa, bangsawan, basmi, bea, beda, bejana, belantara, bencana, benda, bendahara, bicara, berita, bidadari, biji, binasa, birahi, bisa, buana, budaya, budi, bukti, bumi, bupati, busana, buto, cabai, cahaya, candi, candra, cara, caraka, cedera, cela, celaka, cempaka, cendana, cerita, cerna, cinta, cita, cipta, citra, cuci, curiga, dahaga, dana, delima, denda, derita, desa, dewasa, darma, derma, dirgantara, dirgahayu, dosa, dupa, dusta, duta, gajah, galu, gala, gandarwa, gapura, garuda, gatra, gaya, gembala, gergaji, gerhana, giri, gua, gula, guna, guru, harta, hasta, hina, intisari, indera, istana, istimewa, istri, jaga, jagat, jaksa, jala, jambu, japa, janda,jasa, jati, jaya, jelata, jelita, jelma, jenggala, jiwa, juwita, juta, jutawan, kala, kalpataru, kama, kamajaya, kanji, kapas, kerana, karunia, karya, kecapi, keluarga, kendi, kepala, keranda, kerja, kesatria, krama, kuasa, kusuma, laba, lagu, laksana, logam, lokakarya, lintas, madya, madu, mahkota, malapetaka, mandala, mantra, maya, melati, menteri, merdeka, merdu, merica, merpati, mesrah, mesti, muda, moksa, mustika, mutiara, nada, nama, narapidana, negara, negeri, neraca, neraka, netra, nila, nirmala, nirawana, nista, pada, paksa, pandai, pandita, panitia, parca, patih, pedati, pekerti, pendapa, perdana, percaya, peribahasa, peristiwa, perkara, permaisuri, permata, persada, pertama, pertiwi, petaka, prabu, prahara, prakarsa, pramugari, prasangka, prasasti, pria, pribumi, puasa, puja, pujangga, punggawa, purba, puri, purnama, purwa, pusaka, puspa, puspita, putra, putri, raga, rahasia, raja, rasa, rata, ratna, rela, remaja, rencana, rupiah, sabda, sahaja, sahaya, saksi, sakti, samudra, sandiwara, senggama, sangka, sangsi, santri, santika, sarana, sari, satru, satwa, saudara, sayembara, sederhana, sedia, degala, sejahtera, seloka, semboyan, sementara, sempurna, semua, senantiasa, sengsara, sengketa, senjata, senjata, sentosa, serigala, seteru, setia, siksa, sila, sisa, siswa, suami, suara, suasana, suci, sudah, sukarela, sunyi, suralaya, sutra, swasta, tani, taruna, tata, tega, teja, telaga, tembaga, tentara, tuna, udara, umpama, upacara, upah, upaya, upeti, usaha, utama, utara, wacana, wahana, waisak,waluh, wanara, warga, warta, waspada, wibawa, wicara, wijaya, windu, wira, wisma, yayasan, yuda, eka, tunggal, dwi, tri, catur, panca, sapta, dasa....

Sementara iki sek, pegel ngetik e...

Saya yakin 99,99% sampean gak asing dengan kata2 itu, tapi saya juga yakin 99,99% sampean gakro nek semua kata sing tak tulis iku dari bahasa sansekerta...

Iya bener, semua kata itu dari bahasa sansekerta yang artinya sama seperti yang sampean semua pahami, lah ngunu kok yo sek percoyo nek sansekerta iku milik asing yang di bawa dari luar ke nusantara, sedangkan di negara yang mengklaim itu kata2 itu meh gak dipakai alias meh gak ada, kecuali sedikit saja...

Saya ambil satu contoh saja, rupyah dalam bahasa sansekerta berarti alat tukar barang(uang), satu2 negara yang memiliki mata uang yang disebut rupiah ya indonesia ini, di india sana masih di sebut rupee bukan rupiah...

Sayang nya kita semua sudah dipaksa melupakan kejayaan masalalu, jangankan sansekerta yang di tulis dengan huruf pallawa, abjad jawa alias honocoroko ae sekarang cuman seduikit yang tau dan bisa...

Terakhir, jgn sekali2 lupakan sejarah, ojo dadi kacang lali kulit e, karna ketika kita tidak tau asal, maka kita tidak akan tau tujuan...

#Sangkan_paran
#remek


Tuesday, August 29, 2017

NEGERI API



Nusantara hingga awal zaman Kaliyuga dikenal sebagai Negeri Api, agak terdengar sedikit lucu memang seperti di film “Avatar the legend of ang”, dan para pembaca juga boleh tertawa, tetapi nanti setelah selesai membaca buku ini anda kan berpikir dua kali untuk tertawa jika mendengar Nusantara adalah Negeri api.

Negeri api sendiri pernah menjadi nama sebuah kerajaan kecil yang terletak di daerah gunung Krakatau, yang masuk wilayah kekuasaan Raja Dewawarman, kerajaan kecil itu bernama kerajaan Agninusa.

Sebelum Adam diturunkan di bumi, bumi ini sudah berpenghuni, menurut versi arab atau versi Islam, sebelum Adam diturunkan di bumi, bumi sudah dihuni oleh keturunan Banul Jan, siapa Banul Jan itu? Banul Jan adalah bangsa Jin, masih menurut versi Islam bahwa Jin itu terbuat dari api, jadi Sebelum Adam diturunkan di tahun 5736 sebelum masehi, tahun itu adalah tahun peralihan zaman Dwapara Yuga ke zaman Kali Yuga, secara global sebelum ras Adam beranak pinak dan menyebar ke seluruh pelosok bumi, bumi ini masih di huni oleh Jin makhluk yang berasal dari api, dan kisah dalam versi ini hanyalah sepenggal saja, mestipun dijelaskan bahwa Jin itu ada yang baik dan ada yang buruk, tetap saja itu kurang detail. 

Karena sebelum diturunkannya Adam bumi ini sudah dihuni para Jin maka dari itu pantaslah Nusantara ini di sebut sebagai Negeri Api. Versi lebih lengkap bisa dipelajari dalam kitab-kitab Hindu kuno, atau bisa mencari sendiri dengan tunneling lewat meditasi kalau beruntung bisa diperkenankan memasuki terowongan waktu, anda juga akan tahu sendiri aslinya bagaimana, metode ini sudah umum gunakan di barat, disebut dengan quantum tunneling phenomena.

Keunikan Negeri Api, jumlah gunung berapi yang akhir hingga sekarang adalah 127 gunung, yang letaknya mengelilingi wilayah Negeri Api, seperti sebuah pagar yang saling menyambung, dan jumlah ini adalah jumlah terbanyak di dunia, dari 100% jumlah gunung berapi di dunia hampir separuhnya berada di Negeri Api.

Kembali pada bahasan Negeri Api, di Nusantara ini sampai awal zaman Kali Yuga di dominasi keturuan ras Asura bangsa Ditya, dan sedikit keturunan Aditya yang ada disini.

Sebelum Adam di ciptakan bumi ini di huni empat ras besar, yaitu ras kulit putih, ras kulit hitam, ras kulit merah, dan ras kulit kuning. Dua ras adalah keturunan Ditya yaitu ras kulit merah dan kulit hitam, sedang ras berkulit putih dan berkulit kuning adalah keturunan Aditya, seperti halnya manusia sekarang, kebaikan atau keburukan bukannya di tentukan oleh rasnya atau warna kulitnya, begitu pula juga di zaman itu, mestipun ras kulit merah dan kulit hitam adalah keturunan Ditya yang cenderung bersifat negatif, bukan berarti semua kelakuan dan sifat dari ras tersebut juga buruk.

Seluruh sebagian besar daratan bumi telah di huni oleh ras Asura, ras Asura kulit hitam mendominasi benua Afrika (sekarang) ras Asura kulit putih mendominasi wilayah eropa (sekarang), ras Asura kulit merah mendominasi wilayah Asia tenggara dan sebagian daratan Suhul (sekarang disebut Australia), sedang ras Asura kulit kuning mendominasi Asia bagian timur, mestipun masing-masing ras mempunyai wilayahnya sendiri-sendiri, bukan berarti disitu tidak ada ras Asura yang lain, Nusantara purba misalnya, mestipun wilayah Nusantara purba di dominasi ras Asura kulit merah, tetapi banyak juga ras Asura berkulit lain yang juga bermukim dengan damai di sini, hingga sekarang Nusantara di kenal dengan keberagamannya.

Perbedaan ras Asura berdasarkan warna kulit, hanyalah pembagian secara besarnya saja, karena dengan warna kulit yang sama, masih di bagi lagi dengan kerajaan-kerajaan dan suku-suku yang lebih kecil.

Seperti yang di ceritakan dalam bagian-bagian sebelumnya, dua kerajaan besar bangsa Asura yang terkenal yaitu Bali dan Alengka, mestipun keduanya merupakan keturunan Ditya tapi keduanya mempunyai sifat-sifat yang berbeda.

Di bagian sebelumnya yang di ceritakan hanya Bali, Sumatera, Sulawesi, Jawa dan Kalimantan saja, lalu bagaimana keadaan pulau atau daerah yang lain, misalkan pulau Papua, untuk Papua saat itu tidak menjadi satu daratan dengan Sundaland, pulau Papua saat itu menjadi satu dengan daratan Australia (sekarang), dulu daratan itu di sebut daratan Sahul, penduduk Australia asli yang sekarang hampir sudah tidak ada, karna sebagian besar berada di Papua Nugini, penduduk Australia yang sekarang adalah sebagian bangsa eropa yang bermigrasi ke Australia.

Kita akan bahas satu persatu dari istilah Sundaland dulu, kata Sunda dalam berbagai bahasa yang berhasil penulis kumpulkan bisa berarti sopan, bagus, terang, bersinar, putih, indah, menyenangkan, kestria. Nama Sundaland sendiri adalah pemberian dari Ptolemause seorang Yunani di tahun 150 Masehi, pemberian nama tersebut tidak lepas dari kondisi alam dan masyarakat pada waktu itu yang benar-benar Indah dan menakjubkan.

Nusantara purba antara Jawa dan Sumatera di pisahkan oleh gunung Krakatau purba waktu itu gunung Krakatau bernama gunung Batuwara, menurut naskah kuno jawa yang berjudul “Pustaka Raja Parwa” mestipun letusan gunung Batuwara ini tak sebesar letusan gunung Toba purba, gunung Tambora dan gunung Bromo purba, tetapi letusan gunung Batuwara tersebut juga berpengaruh besar pada iklim dunia.

Letusan gunung Batuwara terakhir yang terbesar itu terjadi di abad ke 4 masehi, selain mengakibatkan terputusnya Jawa dan Sumatera, juga mempengaruhi kondisi ekonomi dan iklim dunia, beberapa di antaranya kekasiran Romawi, Persia, Cina dan hilangnya kota Maya. Tercatat turunnya temperatur suhu bumi hingga 10 derajat celcius yang berlangsung hingga 20 tahun, menyebabkan musim dingin yang berkepanjangan, yang menyebabkan kondisi dunia menjadi amburadul karena gagal panen.

Setelah letusan gunung Batuwara di tahun 408 masehi, gunung Batuwara tenggelam oleh air laut sampai beberapa ratus tahun munculah anak gunung Batuwara di permukaan air yang kemudian disebut gunung Krakatau, gunung Krakatau terus tumbuh menjadi gunung yang besar, hingga di tahun 1883 gunung Krakatau mencapai puncak pertumbuhannya dan meletus dasyat, mestipun letusan ini tak sehebat letusan di tahun 408 masehi, tetapi letusan di tahun 1883 juga mempengaruhi kondisi iklim dunia, selama satu bulan sinar matahari meredup, bulan menjadi berwarna biru.

Kembali pada masa Negeri Api sebelum masehi, wilayah Jawa (pulau Jawa sekarang) yang saat itu belum menjadi pulau, adalah tempat para Pertapa dan Brahmana, Wilayah yang sama sekali bebas dari dunia politik, banyak tempat pemujaan dan ibadah yang di bangun di tanah Jawa, maka jangan heran jika di temukan bangunan-bangunan prasejarah yang tertimbun tanah berusia ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, beberapa contohnya tempat ibadah dan pemujaan situs Piramid gunung Padang, situs Piramid di Jawa Tengah dan situs Piramid yang berada di wilayah Jawa Timur yang belum ditemukan.

Para Asura dan keturunannya sering membuat tempat pemujaan atau ibadah berupa bangunan berbentuk limas segi empat seperti Piramid, para Raja Mesir yang memiliki garis keturun Asura juga membuat Piramid yang sama sebagai tempat pemujaan.

Terjadi salah kaprah bahwa Piramid adalah makam para Firaun atau para Raja Mesir prasejarah, dengan hanya didasarkan hipotesa ditemukannya mumi Firaun yang berada didalam Piramid, sedangkan yang sebenarnya terjadi adalah diletakkannya mumi Firaun itu di dalam Piramid di Mesir adalah sebagai sebuah penghormatan kepada Firaun tersebut, dan salah kaprah juga bahwa Piramid itu yang pertama kali yang membuat adalah orang Mesir, karena hampir di seluruh penjuru dunia bisa di temukan Piramid, di Mexico, di Jepang, di Itali, di Sudan, di China, di Kamboja, di Peru, di Eropa, di Indonesia, di Amerika tengah, di Nigeria dan daerah lainnya, dan itu adalah Piramid yang memiliki pola yang sama, yang di buat para keturunan Asura atau para keturunan manusia yang mempunyai garis keturunan Asura.

Banyak sekali sejarah yang di buat bangsa asing, penulis sebut sejarah versi asing yang menyatakan wilayah Negeri Api ini baru di huni di tahun 8000 sebelum masehi, dan rata-rata menyebutkan datang dari wilayah Eropa, Arab, India dan Cina, sekali lagi mencoba menggiring bahwa sebelumnya di Negeri Api ini tidak ada apa-apanya kosong tak berpenghuni, pertanyaannya lalu mengapa fosil manusia purba tertua di temukan di wilayah Negeri Api ini???

Untuk menjelaskannya sangat sederhana sekali, penulis beri contoh bencana kecil ketika Aceh tersapu Tsunami, semua warga mengungsi keluar wilayah Aceh, akibat bencana itu Aceh menjadi rata dengan tanah, setelah beberapa bulan warga asli Aceh kembali ke Aceh, apakah warga Aceh yang baru datang dari pengungsian itu bisa disebut pendatang? Tentu tidak bukan, dan nyatanya yang terjadi di masa Nusantara purba yang menimpa Negeri Api juga sama seperti itu ceritanya, Bencana-bencana besar seperti letusan-letusan gunung purba menyebabkan pengungsian besar-besaran, dan hanya sedikit yang selamat dalam pengungsian tersebut, baru setelah bertahun-tahun mereka kembali ketanah kelahirannya kemudian memulai hidup baru, dan lalu seenaknya saja orang barat mengklaim bahwa pengungsi yang kembali itu adalah para pendatang.

Tuesday, June 20, 2017

SANSEKERTA



Selama ini bahasa dan aksara Sansekerta dianggap bahasa dan aksara yang berasal dari India, sedangkan Sansekerta sendiri diketahui adalah bahasa kitab weda yang di bawa bangsa Arya memasuki india di adab ke 16 sebelum masehi, dan itu sudah dijelaskan di bagian sebelumnya mengenai bangsa Arya, jika di lihat lebih detail lagi, sangat jelas bahwa aksara Sansekerta bukanlah milik asli bangsa Dravida yang merupakan suku asli yang menetap di India.

Dari berbagai jenis aksara yang ada di India, memiliki ciri khusus yaitu adanya garis sambung disetiap kata, bisa dilihat pada aksara Bengali, aksara Dewanagari dan aksara Gurmukhi sedangkan aksara Sansekerta tidak memiliki ciri garis sambungan pada tiap katanya, aksara Sansekerta sendiri lebih mirip dengan aksara Kawi kuno yang merupakan cikal bakal aksara Bali kuno.

Di bawah ini adalah contoh dari aksara Sansekerta yang asli, silakan di lihat baik-baik.


Bandingkan dengan aksara dari India di bawah ini.




Sekarang bandingkan lagi, dengan aksara Pallawa Nusantara yang di klaim berasal dari India di bawah ini.


Dan terakhir, sekarang bandingkan aksara Sansekerta dengan aksara Jawa kuno atau aksara Kawi di bawah ini.


Jika anda perhatikan satu-persatu detail bentuk hurufnya masing-masing, dari bentuk bulat besar, bulat kecil, dan bentuk juntaian, pasti anda akan mengatakan bahwa Aksara Sansekerta didalam kitab weda yang di bawa bangsa Arya ke India, lebih mirip dengan aksara Kawi atau Jawa kuno, dan sangat berbeda dengan aksara India  yang berciri khas mempunyai garis penghubung di bagian atas pada setiap katanya.

Istilah Kawi sendiri berasal dari sebuah daerah pegunung di mana di gunung tersebut di masa purba di tempati oleh para pujangga ras Asura, gunung itu terletak di wilayah kota Malang sekarang,  secara bahasa Kawi sendiri berarti pujangga, dari tulisan para pujangga yang berupa syair puja itulah aksara Kawi di kenal, dan sekaligus menjadi nama gunung tersebut, gunung Kawi adalah gunung para pujangga untuk menulis puja, tetapi sekarang fungsi gunung Kawi di kaburkan menjadi gunung mistik tempat mencari pesugihan.

Sebernanya di Nusantara sendiri hingga sekarang masih memiliki sedikitnya 14 aksara yang masih dapat ditemukan diantaranya :

  1. Aksara Kawi
  2. Aksara Bali
  3. Aksara Sunda
  4. Aksara Batak
  5. Aksara Bugis
  6. Aksara Kerinci
  7. Aksara Ulu (lampung)
  8. Aksara Makasar
  9. Aksara Lontara
  10. Aksara Jangang-jangang
  11. Aksara Bilang-bilang
  12. Aksara Lonta ende
  13. Aksara Palawa
  14. Aksara Jawa

Di bawah ini adalah contoh aksara sunda, yang mungkin hanya sebagian kecil saja orang sunda sendiri saat ini yang mengetahuinya.


Kitab Weda yang di bawa kembali ke Nusantara dari India di abad ke 3 sebelum masehi, bukanlah kitab yang sama ketika suku Arya membawanya ke India, kitab yang di bawa itu sudah di tulis ulang oleh Panini di abad ke 5 sebelum masehi dengan aksara khas dari India, kitab tersebut pun sudah menjadi suatu ajaran agama yang di sebut agama Hindu India.

Uniknya hingga sekarang Nusantara ini masih di anggap bangsa yang kerdil, bangsa terbelakang, sehingga semua budaya dan bahasa berasal dari luar Nusantara, bahkan penduduk atau penghuni Nusantara pun dianggap berasal dari luar Nusantara, dan itu berhasil melemahkan mental bangsa Nusantara ini, hingga sekarang bangsa ini masih rela dianggap bangsa kelas tiga.

Namun jika para pembaca lebih detil mempejalari sejarah secara utuh, pasti akan menemukan benang merah betapa dulunya bangsa ini, adalah bangsa yng besar, bangsa yang pernah menguasai dua pertiga wilayah dunia.

Kembali pada bahasan bahasa Sansekerta, bahasa Sansekerta diketahui adalah bahasa dalam kitab Weda kuno, di sebut Sansekerta yang berarti sempurna, karena bahasa Sansekerta yang berada didalam kitab Weda mengajarkan tentang kesempurnaan, kitab Weda kemudian menjadi cikal bakal lahirnya agama Hindu di India, jika di tarik kebelakang, siapakah yang membawa kitab Weda?, yang membawa adalah bangsa Arya yang masuk ke India di abad ke 16 sebelum masehi, dari mana bangsa Arya berasal?, bangsa Arya merupakan penduduk asli Nusantara yang mengungsi dari Nusantara karena bencana meletusnya gunung berapi yang berada di kutub selatan, yang mengakibatkan gelombang Tsunami yang menyapu daratan Nusantara yang terjadi di akhir abad ke 18 sebelum masehi, jadi sangat jelas bahwa bahasa Sansekerta awalnya adalah dari Nusantara, tapi sayangnya kisah ini tidak pernah diceritakan.

Masyarakat sekarang lebih bisa dan bangga berbahasa dan menulis dengan aksara bangsa lain, dan mengajari anak-anaknya dengan pola yang sama seperti yang mereka lakukan, tetapi tidak begitu faham dengan bahasa daerahnya sendiri, bahkan yang dapat menulis aksara dearahnya sendiri saja bisa di hitung dengan jari, apakah salah mempelajari bahasa dan aksara bangsa lain? Tentu tidak ada salahnya mempelajari bahasa dan aksara bangsa lain, yang menjadi masalah adalah ketika kita lebih bangga akan bahasa, aksara dan budaya bangsa lain, hingga kita lupa betapa besar dan luhurnya bangsa sendiri, maka lambat tapi pasti nilai cinta tanah air akan hilang, dan ketika itu hilang maka apa yang di katakan Juri Lina seorang penulis dari Swedia dengan bukunya yang terkenal berjudul “Architects of Deception the Concealed History of Freemasonry” akan benar-benar terjadi, Nusantara sedang di jajah dan akan terus di jajah.

Dalam tulisannya Juri Lina mengatakan, ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu bangsa, yang pertama kaburkan sejarahnya, yang kedua hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tidak bisa dibuktikan kebenarannya lagi, dan yang ketiga putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, katakan pada bangsa itu bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.

Sebetulnya penjajahan itu sudah di mulai di Nusantara ini sejak tahun 1400, ketika kerajaan persemakmuran terbesar di Asia tenggara di kalahkan kerajaan kecil yang bernama Demak, kerajaan besar itu adalah Majapahit, kemudian di perparah lagi pada zaman kolonial yang berkuasa 300 tahun di Nusantara ini, dan sekarang memang susah untuk membangkitkan kembali kejayaan Nusantara yang dulu pernah ada, tapi susah bukan berarti tidak mungkin, kita mulai dari diri sendiri, keluarga dan teman terdekat, bangunkan dari tidur panjangnya, sadarkan bahwa mereka semua adalah keturunan bangsa Arya.

Dari semua ulasan di atas masihkah anda ragu, bahwa anda, saya dan bangsa ini adalah pemilik sah aksara sansekerta dan sekaligus kita semua penduduk Nusantara adalah bangsa Arya yang miliki garis keturunan langsung dari bangsa Arya terdahulu.

Saturday, June 10, 2017

JAWA PURBA





Pulau Jawa sekarang

Jawa sekarang dikenal nama sebuah pulau yang terletak di bagian selatan Nusantara, membentang dari Banten sampai Banyuwangi, yang hingga sekarang memiliki bermacam-macam budaya dan bahasa daerah, setidaknya tersisa 10 bahasa daerah yang masih digunakan hingga sekarang di pulau Jawa ini, yaitu bahasa Sunda, bahasa Betawi, bahasa Badui, bahasa Jawa, bahasa Osing, bahasa Bali, bahasa Madura, bahasa Tengger, bahasa Kangean dan bahasa Banyumasan.

Sejak zaman Jawa purba, daerah Jawa yang masih menyatu dengan Sumatera, Kalimantan, Madura dan Bali, wilayah Jawa memang sudah dikenal sebagai daerah yang heterogen, karena pada masa purba daerah Jawa menjadi jujukan atau tujuan para pelaku spiritiual dari berbagai belahan dunia saat itu, tentang hal ini para pembaca bisa menemukan buktinya pada relief Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Nama Jawa pun sudah dikenal sejak tahun 1.515.100 sebelum masehi, terdapat dalam catatan India kuno, dalam kitab Sundarakanda, diceritakan  dalam kisah Ramayana, saat itu Shri Rama mencari Dewi Sinta mendapat bantuan dari Hanuman seorang Asura yang berbentuk wanara alias kera, yang kemudian turut membantu mencari letak pastinya kerajaan Alengka, dengan memerintahkan anak buahnya mencari kerajaan Alengka hingga ke daerah Yavadvip (Tanah Jawa).

Di masa setelah masehi kerajaan tertua yang tercatat di tanah Jawa adalah kerajaan Salakanagara, dengan Raja Dewawarman di tahun 125 masehi, beliau bergelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara, kerajaan tersebut terletak di bagian barat tanah Jawa, kerajaan ini berlangsung selama tujuh generasi dengan Raja terakhir adalah Raja Dharmawirya, karena Raja Dharmawirya tidak memiliki anak laki-laki dan anak perempuannya dipersunting oleh Jayasinghawarman seorang Maharesi di Calankanaya dari kerajaan Rajatapura di India, maka praktis dinasti Salakanagara berakhir di gantikan kerajaan baru yang bernama kerajaan Tarumanagara di tahun 358 masehi, kemudian diteruskan oleh putranya yaitu Dharmayawarman, dilanjutkan lagi oleh Purnawarman, di era Raja Purnawarman inilah kerajaan Tarumanagara mencapai zaman keemasannya, kebesaran Tarumanagara tersohor hingga ke dinasti han di cina.

Kerajaan Tarumanagara bertahan cukup lama hingga tahun 669 masehi, dengan Raja terakhir adalah Raja Linggawarman yang merupakan keturunan ke sebelas dari Raja Jayasinghawarman.
Dalam buku ini sengaja penulis hanya membahas sedikit tentang kejayaan Nusantara di era setelah masehi, karena tulisan di buku ini lebih dititik beratkan pada kisah kejayaan Nusantara purba, di buku yang lain penulis akan menceritakan kemegahan Nusantara dari awal tahun masehi hingga puncak kejayaan Majapahit, yang berhasil menguasai seluruh wilayah asia tenggara kecuali kerajaan Sunda, dan penulis akan menulis sedetail mungkin perkembangan kerajaan di Nusantara dari masa ke masa tanpa ada yang di tutup-tutupi seperti sejarah sedang yang beredar sekarang.

Kembali pada bahasan Nusantara di masa purba, dalam bagian ini di khususkan tentang sejarah Jawa purba yang pernah menjadi pusat tempat ritual para Asura dari seluruh penjuru dunia.


Jawa purba sebagai pusat spiritual
Mengapa Jawa purba menjadi pusat spiritual dimasa itu?
Perlu di ketahui, pada zaman itu mestipun didominasi para Asura, namun wilayah Jawa purba adalah wilayah kekuasaan para Dewa, sehingga sebelum tahun 61.558 sebelum masehi, nyaris tidak ada satupun kerajaan Asura yang berdiri ditanah Jawa, kecuali di ujung timur Jawa yaitu kerajaan Bali purba, yang kekuasaannya hingga Banyuwangi (pada saat itu pulau Bali dan pulau Jawa masih menjadi satu), kerajaan Bali purba itupun juga bukan merupakan kerajaan yang berbasis politik kekuasaan, kerajaan Bali purba adalah pemuja Dewa Brahma yang bersemayam di gunung Brahma atau gunung Bromo purba.

Jumlah Piramid terbanyak bukan lah di mesir, seperti yang kita ketahui saat ini, tetapi jumlah terbanyak Piramid berada di pulau Jawa sekarang, gunung Padang hanyalah salah satu Piramid yang baru bisa ditemukan, masih ada sedikitnya empat Piramid besar lagi yang masih selamat dari bencana-bencana purba, namun kondisinya sekarang masih tertimbun tanah, sehingga terlihat seperti hanya sebuah bukit saja, tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk membokar kembali bahwa Nusantara ini khususnya pulau Jawa pernah menjadi pusat peradaban dunia. 

Di bagian lain dalam buku ini dijelaskan kenapa dan bagaimana Piramid bisa ada hampir diseluruh penjuru dunia, hal disebabkan tidak lain karena Piramid adalah sebuah tempat ibadah bagi para ras Asura, dan pusat Piramid dengan medan energi terbesar berada di pulau Jawa sekarang, itu pula yang menjadi sebab kenapa wilayah Jawa purba menjadi pusat bagi para pelaku spiritual di zaman itu.
Setidaknya paling sedikit ada lima belas situs Piramid di daerah Jawa dan Sumatera, tetapi situs Piramid terbesar ada di wilayah Jawa, terdapat sembilan situs piramid di wilayah jawa dari pengamatan penulis selain situs Piramid gunung Padang yang sudah di temukan, masih ada empat lagi situs Piramid yang berukuran raksasa di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang belum diketahui, yang sekarang masih berbentuk bukit dan gunung, dari kelima Piramid raksasa itu ada empat piramid yang dibangun oleh keturunan Aditya, sedang yang satu Piramid lagi dibangun oleh keturunan Ditya, ciri piramid yang di bangun keturunan Ditya adalah piramid lancip, dalam piramid yang berbentuk lancip ini terdapat sesuatu yang sangat berharga yang selama ini di cari-cari oleh bangsa Israel.

Dari sedikitnya lima belas Piramid yang berada di Jawa dan Sumatera, ada enam situs piramid yang berada di wilayah Sumatera yang satu piramid yang memiliki ukuran raksasa, sedang lima lainnya hanya seukuran dengan piramid Giza di Mesir yang tingginya hanya 132 meter di atas tanah, tetapi dari lima belas piramid yang tersebar di wilayah Jawa dan Sumatera, piramid yang memiliki umur paling tua berada di Sumatera, dan juga merupakan Piramid dengan letak tertinggi di dunia.

Sengaja penulis tidak menulis detail lokasi piramid-piramid yang belum di temukan itu, biarlah menjadi misteri sampai waktunya tiba, dimana Nusantara di pimpin kembali oleh orang yang tepat dan berhak menjadi Raja di Nusantara yang baru.

Kembali pada bahasan Jawa purba, mestipun sekarang ini pulau Jawa bukan merupakan pulau terbesar di wilayah Nusantara, dan hanya menduduki peringkat kelima sebagai pulau terbesar, namun pulau Jawa ini memiliki tingkat kepadatan penduduk nomer satu di Nusantara, hal ini tidak akan menjadi hal yang aneh ketika kita tahu sejarah wilayah Jawa purba yang memang dari dulu menjadi pusat berkumpulnya suku-suku dari seluruh dunia.


Keunikan masyarakat Jawa
Sebagian masyarakat asli Jawa khususnya dan Nusantara pada umumnya yang mempunyai garis keturunan suku Arya, memiliki ciri khusus suku Arya yang melekat hingga abab ke 14 dan bisa jadi hingga sekarang, ciri itu adalah para orang Arya bertarung tanpa perisai yang melekat pada tubuh, yang disebut dengan baju zirah.

Setelah zaman keemasan Asura berakhir, baju Zirah pertama kali dipakai di abad ke 12 sebelum masehi di Timur Tengah Kuno, kerajaan Yuan dan wilayah Asia Utara hingga Asia Tengah, kemudian menular ke India di abad ke 8 sebelum masehi, sedangkan kita ketahui hingga zaman Majapahit, semua prajurit kerajaan tidak memakai baju zirah, apalagi sekelas patih atau panglima perang, mereka malah bertelanjang dada, salah satu contoh patih Gaja Mada.

Kenapa mereka tidak memakai baju zirah? Apa mungkin pada saat itu tidak memiliki teknologi peleburan logam, sehingga tidak bisa membuat baju zirah? Jawabannya bukan karena itu, sebab di zaman Salakanagara saja, Nusantara sudah mampu membuat perhiasan seperti mahkota yang sangat detail bertahtakan permata, sentaja berupa pedang pun sudah di buat, tetapi baju zirah itu di anggap sesuatu yang tidak perlu bagi keturunan suku Arya, karena mereka memiliki perisai yang lebih hebat yang tidak kasat mata, jangankan tertusuk oleh pedang musuh, tergores saja tidak akan mungkin.
Anda bisa mencoba mengamati baik dari relief, patung atau bukti peninggalan lain adakah keterangan tentang perisai atau baju zirah yang di miliki kerajaan-kerajaan di Nusantara hingga di era Majapahit, saya pastikan anda tidak akan dapat menemukan tentang hal itu, sebab memang bangsa Nusantara ini yang merupakan keturunan langsung dari bangsa Arya, sangat pemberani dan tidak memerlukan bentuk pertahanan seperti baju zirah itu, jika anda pernah mendengar kata “ini dadaku mana dadamu” seperti itulah keberanian yang di miliki bangsa Nusantara ini, dan harusnya kita juga memilikinya sekarang.


Contoh baju zirah dari beberapa negara di luar Nusantara

Kemampuan perisai khusus seperti itu hanya dimiliki oleh keturunan murni suku Arya, dan sebagian suku lain yang belajar agar juga memiliki perisai ajaib tersebut, sebagaian besar pasukan keRajaan yang berkelas komandan pasukan pasti memiliki perisai itu, perisai itu sekarang dalam ilmu kanuragan di kenal dengan sebutan lembu sekilan dan onto kusumo, suatu ilmu yang di turunkan atau di ajarkan bagi siapa saja yang mencintai tanah airnya.


Panglima, Raja dan pasukan Nusantara yang gagah berani tanpa baju zirah

Perisai tersebut bukannya tanpa kelemahan, tetap saja tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa kelemahan di muka bumi ini, salah satu kelemahan perisai itu adalah ketika hari lahir si empunya perisai akan memasuki kondisi terlemah, sehingga perisai tersebut tidak dapat berfungsi, itulah sebabnya sebagian besar masyarakat Jawa yang masih memegang kuat tradisi, ketika hari lahir memilih untuk menyepi dan tidak terlibat dalam peperangan.

Jika ada yang bilang pantesan masyarakat Nusantara kalah perang dengan bangsa asing, lah tidak pakai baju zirah yang gampang terbunuh! Yang bilang seperti itu suruh belajar sejarah lagi, tidak ada satupun bangsa lain yang dapat mengalahkan Nusantara dan semua sejarah kekalahan perang bangsa Nusantara ini adalah karena ada oknum bangsa sendiri yang berkhianat, penghianat itu yang paling berbahaya, apa wajar kerajaan sekelas Majapahit yang kekuasaannya hampir se Asia tenggara di kalahkan kerajaan Demak yang luasnya hanya se kabupaten? Pelajari baik-baik agar kesalahan tersebut tidak terulang di masa depan.


Hilangnya Jawa purba
Hilangnya peradaban Jawa purba hampir sama seperti hilangnya peradaban purba yang lain, karena bagian selatan wilayah Jawa adalah jajaran gunung berapi, sebagian besar sejarah Jawa purba hilang tertimbung tanah akibat letusan gunung, dua gunung dengan letusan Dasyat yaitu gunung Batuwara dan gunung Bromo purba turut menyumbang dalam peristiwa hilangnya bukti-bukti sejarah tetang kebesaran peradaban Nusantara purba di Jawa ini, mestipun bangunan-bangunan megah cukup sulit digali atau di temukan, karena bencana itu, tetapi bencana sebesar apapun tidak dapat menghilangkan semangat penduduk Nusantara, dalam hal ini khususnya masyarakat Jawa yang masih memegang teguh tradisi yang adi luhung.

SULAWESI PURBA




Pulau Sulawesi sekarang

Sulawesi yang sekarang di kenal sebagai pulau Sulawesi yang terletak disebelah timur pulau Kalimantan, jauh di masa purba Sulawesi sudah berpenghuni, tepatnya di tahun 291.983 sebelum masehi, Sulawesi di kuasai oleh para Asura yang bentuknya Triwikramanya setengah manusia dan setengah hewan, Rajanya adalah Asura yang berbentuk Triwikrama Ular Naga raksasa dengan tubuh dari besi, tetapi penampakan biasa sama seperti manusia pada umumnya, penampakan Ular Naga Raksasa itu hanya terjadi dalam keadaan Triwikrama, merujuk dari bahasa Sansekerta, arti dari Sulawesi sendiri adalah Sula yang artinya Ular, Wesi yang artinya Besi, jika di gabungkan maka berarti ular besi.

Naga Asura itu memiliki dua saudara, satu perempuan dan satu laki-laki, di zaman purba keRajaan tersebut bernama Cakrapurasta, yang mempunyai pusat keRajaan di gunung Bambapuang, salah satu kelebihan dari Asura di Sulawesi adalah mahir dalam ilmu sihir, dan hingga saat ini ilmu itu masih diturunkan secara turun-temurun oleh suku-suku yang berada di Sulawesi, salah satu suku yang terkenal memiliki ilmu sihir adalah suku Kajang Amma Toa di Bulukumba, ajian pancasona dan rawa rontek yang sangat ditakuti dan terkenal di jawa bersumber atau mengadopsi ilmu sihir dari Sulawesi purba.

Naga Asura itu sendiri memiliki nama asli Nagapaksa, yang pada saat itu menjadi penguasa di Bambapuang, adik laki-lakinya di beri kekuasaan di Tana Toraja, Sulawesi bagian selatan, sedang adik perempuannya menjadi penguasa di daerah Luwu Palopo.

Masyarakat Bugis Makasar dan Mandar mempunyai darah keturunan dari Nagapaksa, hingga saat ini masyarakat Bugis dan Mandar terkenal dengan kegigihannya, sifat konsisten yang pantang menyerah diturunkan turun-temurun melalui sifat Nagapaksa yang gigih tetap bertahan menjaga gunung Bambapuang walaupun dengan resiko harus kehilangan nyawanya.

Sedangkan suku Kajang di Bulukumba memiliki garis keturunan dari adik perempuan Nagapaksa yang memiliki anak bernama Amma Toa, yang kemudian di percaya sebagai nenek moyang suku Kajang, Amma Toa sendiri memiliki Ilmu Sihir yang sangat mumpuni, Ilmu tersebut di dapat dari ibunya sebagai bekal untuk mempertahankan diri, selain Ilmu sihir, Amma Toa juga memiliki kemampuan untuk menjaga makanan tetap awet dalam waktu yang lama.

Suku yang berada di Tana Toraja memiliki garis keturunan dari adik laki-laki dari Nagapaksa, yang mempunyai istri bernama Sondabilik, dan menghasilkan keturunan yang menjadi Raja-Raja secara turun temurun di Tana Toraja.

Hubungan keluarga di masa lalu lah yang menjaga keharmonisan  masyarakat di Bulukumba, Makasar, Mandar, Bambapuang dan Tana Toraja tetap rukun dan hingga saat ini.

Nama-nama tokoh yang tertulis dalam kisah Sulawesi ini penulis ambil dari kitab kuno berbahasa Sansekerta, bisa jadi dalam prasasti atau kitab-kitab lain muncul dengan nama tokoh yang berbeda, tetapi nama-nama tokoh yang penulis gunakan tidak mengurangi isi dan kandungan serta alur cerita yang terjadi di Sulawesi, dalam kisah lain nama Nagapaksa disebut dengan sebutan Wellangdilangi, hal itu adalah suatu yang sangat wajar karena perbedaan bahasa dan dialek, seperti halnya nama Bima dalam versi India dan Werkudara dalam versi Nusantara, dalam versi India Bima memiliki Istri bernama Hidimbi, sedang versi Nusantara bernama Arimbi.

Hilangnya Sulawesi purba
Punahnya kerajaan purba di Sulawesi tak lepas dari peran meletusnya gunung Bambapuang, Nagapaksa sendiri berumur sangat panjang hingga generasi ketujuh Nagapaksa tetap menjadi penguasa di Bambapuang.

Meletusnya gunung Bambapuang sama sekali tak membuat Nagapaksa takut, dia sudah bersumpah akan tetap tinggal di gunung hingga akhir hayatnya, dengan meletusnya gunung Bambapuang meledak pulalah tubuh Raja naga raksasa Nagapaksa.

Setelah itu datanglah ras keturunan Adam dan berbaur dengan para keturunan Asura yang masih tersisa, dan muncullah kerajaan-kerajaan baru di era setelah masehi, tercatat kerajaan tertua di Sulawesi periode setelah masehi adalah kerajaan Luwu, kisah lengkap tentang kerajaan Luwu akan di bahas di buku yang lain, yang akan fokus mengupas tuntas sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara di era kejayaan Nusantara setelah masehi.

Sejak abad ke 13 Sulawesi di kenal sebagai sumber mineral besi terbesar di dunia, hal itu tidak lepas dari peristiwa meletusnya gunung Bambapuang yang mengakibatkan meledaknya Nagapaksa yang tidak mau meninggalkan gunung yang ditinggalinya, sehingga tubuh dari Nagapaksa yang terbuat dari besi itu ikut meledak dan menyebar keseluruh wilayah Sulawesi.


Gunung Bambapuang yang sekarang hanya berupa bukit

Privacy Policy Kalender Jawa Kuno

  Privacy Policy: Kalender Jawa Kuno Terakhir Diperbarui: 21 Februari 2026 1. Pendahuluan Kami menghormati privasi Anda. Kebijakan Privasi...