Selama ini bahasa dan aksara Sansekerta dianggap bahasa dan aksara yang
berasal dari India, sedangkan Sansekerta sendiri diketahui adalah bahasa kitab
weda yang di bawa bangsa Arya memasuki india di adab ke 16 sebelum masehi, dan
itu sudah dijelaskan di bagian sebelumnya mengenai bangsa Arya, jika di lihat
lebih detail lagi, sangat jelas bahwa aksara Sansekerta bukanlah milik asli
bangsa Dravida yang merupakan suku asli yang menetap di India.
Dari berbagai jenis aksara yang ada di India, memiliki ciri khusus
yaitu adanya garis sambung disetiap kata, bisa dilihat pada aksara Bengali,
aksara Dewanagari dan aksara Gurmukhi sedangkan aksara Sansekerta tidak
memiliki ciri garis sambungan pada tiap katanya, aksara Sansekerta sendiri
lebih mirip dengan aksara Kawi kuno yang merupakan cikal bakal aksara Bali
kuno.
Di bawah ini adalah contoh dari aksara Sansekerta yang asli, silakan di
lihat baik-baik.
Bandingkan dengan aksara dari India di bawah ini.
Sekarang bandingkan lagi, dengan aksara Pallawa Nusantara yang di klaim
berasal dari India di bawah ini.
Dan terakhir, sekarang bandingkan aksara Sansekerta dengan aksara Jawa
kuno atau aksara Kawi di bawah ini.
Jika anda perhatikan satu-persatu detail bentuk hurufnya masing-masing,
dari bentuk bulat besar, bulat kecil, dan bentuk juntaian, pasti anda akan
mengatakan bahwa Aksara Sansekerta didalam kitab weda yang di bawa bangsa Arya
ke India, lebih mirip dengan aksara Kawi atau Jawa kuno, dan sangat berbeda
dengan aksara India yang berciri khas
mempunyai garis penghubung di bagian atas pada setiap katanya.
Istilah Kawi sendiri berasal dari sebuah daerah pegunung di mana di
gunung tersebut di masa purba di tempati oleh para pujangga ras Asura, gunung
itu terletak di wilayah kota Malang sekarang,
secara bahasa Kawi sendiri berarti pujangga, dari tulisan para pujangga
yang berupa syair puja itulah aksara Kawi di kenal, dan sekaligus menjadi nama
gunung tersebut, gunung Kawi adalah gunung para pujangga untuk menulis puja,
tetapi sekarang fungsi gunung Kawi di kaburkan menjadi gunung mistik tempat
mencari pesugihan.
Sebernanya di Nusantara sendiri hingga sekarang masih memiliki sedikitnya
14 aksara yang masih dapat ditemukan diantaranya :
- Aksara Kawi
- Aksara Bali
- Aksara Sunda
- Aksara Batak
- Aksara Bugis
- Aksara Kerinci
- Aksara Ulu (lampung)
- Aksara Makasar
- Aksara Lontara
- Aksara Jangang-jangang
- Aksara Bilang-bilang
- Aksara Lonta ende
- Aksara Palawa
- Aksara Jawa
Di bawah ini adalah contoh aksara sunda, yang mungkin hanya sebagian
kecil saja orang sunda sendiri saat ini yang mengetahuinya.
Kitab Weda yang di bawa kembali ke Nusantara dari India di abad ke 3
sebelum masehi, bukanlah kitab yang sama ketika suku Arya membawanya ke India,
kitab yang di bawa itu sudah di tulis ulang oleh Panini di abad ke 5 sebelum
masehi dengan aksara khas dari India, kitab tersebut pun sudah menjadi suatu
ajaran agama yang di sebut agama Hindu India.
Uniknya hingga sekarang Nusantara ini masih di anggap bangsa yang
kerdil, bangsa terbelakang, sehingga semua budaya dan bahasa berasal dari luar
Nusantara, bahkan penduduk atau penghuni Nusantara pun dianggap berasal dari luar
Nusantara, dan itu berhasil melemahkan mental bangsa Nusantara ini, hingga
sekarang bangsa ini masih rela dianggap bangsa kelas tiga.
Namun jika para pembaca lebih detil mempejalari sejarah secara utuh,
pasti akan menemukan benang merah betapa dulunya bangsa ini, adalah bangsa yng
besar, bangsa yang pernah menguasai dua pertiga wilayah dunia.
Kembali pada bahasan bahasa Sansekerta, bahasa Sansekerta diketahui
adalah bahasa dalam kitab Weda kuno, di sebut Sansekerta yang berarti sempurna,
karena bahasa Sansekerta yang berada didalam kitab Weda mengajarkan tentang kesempurnaan,
kitab Weda kemudian menjadi cikal bakal lahirnya agama Hindu di India, jika di
tarik kebelakang, siapakah yang membawa kitab Weda?, yang membawa adalah bangsa
Arya yang masuk ke India di abad ke 16 sebelum masehi, dari mana bangsa Arya
berasal?, bangsa Arya merupakan penduduk asli Nusantara yang mengungsi dari Nusantara
karena bencana meletusnya gunung berapi yang berada di kutub selatan, yang
mengakibatkan gelombang Tsunami yang menyapu daratan Nusantara yang terjadi di
akhir abad ke 18 sebelum masehi, jadi sangat jelas bahwa bahasa Sansekerta
awalnya adalah dari Nusantara, tapi sayangnya kisah ini tidak pernah
diceritakan.
Masyarakat sekarang lebih bisa dan bangga berbahasa dan menulis dengan
aksara bangsa lain, dan mengajari anak-anaknya dengan pola yang sama seperti
yang mereka lakukan, tetapi tidak begitu faham dengan bahasa daerahnya sendiri,
bahkan yang dapat menulis aksara dearahnya sendiri saja bisa di hitung dengan
jari, apakah salah mempelajari bahasa dan aksara bangsa lain? Tentu tidak ada
salahnya mempelajari bahasa dan aksara bangsa lain, yang menjadi masalah adalah
ketika kita lebih bangga akan bahasa, aksara dan budaya bangsa lain, hingga
kita lupa betapa besar dan luhurnya bangsa sendiri, maka lambat tapi pasti
nilai cinta tanah air akan hilang, dan ketika itu hilang maka apa yang di
katakan Juri Lina seorang penulis dari Swedia dengan bukunya yang terkenal
berjudul “Architects of Deception the Concealed History of
Freemasonry” akan benar-benar terjadi, Nusantara sedang di jajah dan akan terus
di jajah.
Dalam tulisannya Juri Lina mengatakan, ada tiga cara
untuk melemahkan dan menjajah suatu bangsa, yang pertama kaburkan sejarahnya,
yang kedua hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tidak bisa dibuktikan
kebenarannya lagi, dan yang ketiga putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya,
katakan pada bangsa itu bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.
Sebetulnya penjajahan itu sudah di mulai di Nusantara
ini sejak tahun 1400, ketika kerajaan persemakmuran terbesar di Asia tenggara
di kalahkan kerajaan kecil yang bernama Demak, kerajaan besar itu adalah
Majapahit, kemudian di perparah lagi pada zaman kolonial yang berkuasa 300
tahun di Nusantara ini, dan sekarang memang susah untuk membangkitkan kembali
kejayaan Nusantara yang dulu pernah ada, tapi susah bukan berarti tidak
mungkin, kita mulai dari diri sendiri, keluarga dan teman terdekat, bangunkan
dari tidur panjangnya, sadarkan bahwa mereka semua adalah keturunan bangsa
Arya.
Dari semua ulasan di atas masihkah anda ragu, bahwa anda, saya dan
bangsa ini adalah pemilik sah aksara sansekerta dan sekaligus kita semua
penduduk Nusantara adalah bangsa Arya yang miliki garis keturunan langsung dari
bangsa Arya terdahulu.








