Saturday, February 21, 2026

Privacy Policy Kalender Jawa Kuno

 

Privacy Policy: Kalender Jawa Kuno

Terakhir Diperbarui: 21 Februari 2026

1. Pendahuluan Kami menghormati privasi Anda. Kebijakan Privasi ini menjelaskan bagaimana aplikasi Kalender Jawa Kuno mengumpulkan dan menggunakan informasi sehubungan dengan penggunaan aplikasi kami.

2. Informasi yang Kami Kumpulkan Aplikasi ini tidak mewajibkan pengguna untuk membuat akun atau memberikan data identitas pribadi (seperti nama atau alamat email) secara langsung. Namun, kami menggunakan layanan pihak ketiga yang dapat mengumpulkan informasi berikut:

  • Data Perangkat: Informasi teknis seperti model perangkat, versi sistem operasi, dan pengenal unik perangkat.

  • Data Pembelian: Jika Anda melakukan pembelian dalam aplikasi (In-App Purchase), transaksi akan diproses secara aman oleh Google Play Billing. Kami tidak menyimpan detail kartu kredit Anda.

3. Layanan Pihak Ketiga Aplikasi kami bekerja sama dengan layanan pihak ketiga untuk fungsionalitas dan monetisasi:

  • Google Play Services: Untuk mendukung fungsionalitas aplikasi.

  • Google AdMob: Untuk menampilkan iklan. AdMob dapat menggunakan ID iklan perangkat Anda untuk menampilkan iklan yang relevan.

  • Google Play Billing: Untuk memproses transaksi pembelian fitur premium (Hapus Iklan).

4. Keamanan Data Kami berkomitmen untuk melindungi informasi Anda. Karena kami tidak mengumpulkan data pribadi di server pribadi kami, risiko kebocoran data pribadi pengguna dari sisi kami sangatlah minim.

5. Izin Aplikasi Aplikasi ini mungkin meminta izin berikut:

  • Akses Internet: Diperlukan untuk memuat data kalender, memproses pembelian, dan menampilkan iklan.

6. Perubahan Kebijakan Kami dapat memperbarui Kebijakan Privasi ini dari waktu ke waktu. Perubahan akan berlaku segera setelah diposting di halaman ini.

7. Kontak Kami Jika Anda memiliki pertanyaan tentang Kebijakan Privasi ini, silakan hubungi kami melalui email di: maspri12@gmail.com

Tuesday, February 17, 2026

MEGENGAN

 


Kue khas jawa yang ada di gambar itu sering kali kita temui saat menyambut ramadhan, iya tepatnya saat acara megengan😀.

Apa itu megengan? itu bukan kata yang berasal dari arab, bahkan itu juga bukan budaya arab, megengan adalah sebuah ke arifan lokal dari jawa, yaitu sebuah acara makan-makan untuk menyambut bulan puasa, megengan berasal dari kata megeng alias menahan, karena isinya adalah acara makan-makan kue itu adalah salah satu kue yang wajib ada, mestipun dulu bentuknya tidak seperti itu.

Kue itu bernama APEM konon katanya berasal dari kata afwun alias ampun alias permohonan maaf alias mengakui kesalahan. megengan sendiri dulunya adalah persiapan saat malam hari ketika besoknya puasa, tujuannya dulu adalah berbagi mungkin ada tetangga yang tidak mampu atau tidak punya makanan untuk sahur, jadi di hari pertama setidaknya ada yang mereka makan untuk sahur.

Puasa sendiri bukan hal yang asing bagi orang jawa, sebelum agama-agama dari luar masuk, orang jawa sudah terbiasa dengan puasa, ragamnya juga sangat banyak, bukan sekedar menahan makan dan minum di siang hari, oleh sebab itu ketika islam masuk ke indonesia puasa juga di terima dengan baik.

Mohon maaf ya, saya ada keperluan, lain hari kita sambung lagi tulisannya.

Monday, February 16, 2026

Konon Katanya

 Konon katanya loh ya, bangsa Indonesia itu menurut ahli antropologi adalah bangsa austronesia yang sekitar 4000 hingga 3000 tahun yang lalu bermigrasi dari Taiwan dan Filipina ke Indonesia.

Artinya apa? sekarang tahun 2026 kita ambil saja tahun terlama menurut ahli antropologi yaitu 4000 tahun yang lalu, artinya Indonesia itu baru dihuni sekitar tahun 2000 SM (sebelum masehi) jadi sebelum itu Indonesia tidak ada penghuninya.

Apakah itu masuk akal? ataukah itu hanya akal-akalan untuk mengerdilkan bangsa ini?

Ok, coba kita telusuri, jika itu benar artinya tidak ada catatan sejarah bangsa Indonesia sebelum tahun 2000SM, tapi kenyataannya sejarah mencatat bahwa orang mesir di tahun 5000SM sudah melakukan perdagangan dengan Indonesia, apa komoditas yang diperdagangkan? yaitu yang paling terkenal adalah kapur barus, yang ada di daerah Sumatera sekarang, yaitu daerah barus.

Sampai sini sudah paham? artinya mereka yang di sebut sebagai ahli Antropologi itu, yang bergelar profesor doktor, baik dari Universitas negeri atau swasta, tidak benar-benar mencari kebenaran, melainkan hanya menghafalkan apa yang di ajarkan.

Saya bisa memberikan seribu fakta bahwa jauh sebelum budaya sumeria itu di anggap maju, Nusantara ini sudah jauh lebih maju,tetapi karena letak geografis Nusantara ini yang berada di lingkaran gunung berapi yang sering terjadi bencana, maka sering kali manusia-manusia yang berada di bumi nusantara ini bermigrasi untuk menyelamatkan diri.

Saya menantang para ahli Antropologi baik dari UGM, UI, UNAIR atau dari mana pun Universitasnya, yang masih menyakini bahwa bangsa Indonesia ini berasal dari austronesia yang bermigrasi 4000 tahun yang lalu, untuk menjelaskan jika itu memang benar, lalu bagaimana dalam waktu tersebut di nusantara ini bisa ada 718 bahasa daerah, apakah semudah itu dalam waktu 4000 tahun, 1 bahasa bisa terpecah menjadi 718 bahasa daerah di Nusantara ini?

Sementara ini dulu yang saya bisa tulis, kenapa? pertama kalau nulis banyak-banyak saya capek, kedua kalau di tulis semua pasti membutuhkan waktu yang lama, dan jika semua sudah di tulis lalu besok saya mau nulis apa coba, hehehe


Sunday, February 15, 2026

Ironis sekaligus miris



Ini sebenarnya buka sebuah artikel yang penting, isinya hanya sebagian keluh kesah saya.

Baik kita mulai ya, saya sangat sedih ketika anak-anak negeri, para pribumi yang bergelar peneliti, doktor atau bahkan profesor, yang kadang menurut saya ngomong tanpa berfikir dulu.

Saya ambil contoh sesuatu yang sederhana saja, sudah menjadi pengetahuan umum, banyak sekali jenis flora dan fauna yang diklaim berasal dari negara lain, baik dari negara-negara di afrika, eropa, amerika dan bahkan dari negara yang ada di asia sendiri, bahkan menurut cerita mitos, gunung yang ada di jawa juga di import dari india, lalu apa mereka pikir dulu nusantara ini hanya berbentuk tanah lapang, tanpa tumbuhan, tanpa hewan, bahkan tanpa gunung.

Pelurusan sejarah ini seharusnya menjadi konsen para petinggi dan akademisi seluruh negeri, tapi yang terjadi para petinggi sibuk rebutan jabatan dalam dunia politik, para akademisi rebutan siapa yang paling pintar, coba pikirkan buat apa itu? hidup hanya sekali dan sangat singkat, apa yang sudah kita wariskan untuk generasi penerus bangsa ini.

Semoga sedikit tulisan ini menjadi renugan bersama bagi kita, jayalah selalu nusantara ku.

Monday, October 23, 2017

Sansekerta

Adi, adicita, adipati, aji, aksara, aksi, alpa, amerta, aneka, angka, angkara, angkasa, aniaya, antara, antariksa, anugerah, arca, asa, asmara, asrama, astana, atmaja, baca, bagai, bagi, bahagia, basa, bahaya, bahtera, bahu, baiduri, bakti, bala, banaspati, wangsa, bangsawan, basmi, bea, beda, bejana, belantara, bencana, benda, bendahara, bicara, berita, bidadari, biji, binasa, birahi, bisa, buana, budaya, budi, bukti, bumi, bupati, busana, buto, cabai, cahaya, candi, candra, cara, caraka, cedera, cela, celaka, cempaka, cendana, cerita, cerna, cinta, cita, cipta, citra, cuci, curiga, dahaga, dana, delima, denda, derita, desa, dewasa, darma, derma, dirgantara, dirgahayu, dosa, dupa, dusta, duta, gajah, galu, gala, gandarwa, gapura, garuda, gatra, gaya, gembala, gergaji, gerhana, giri, gua, gula, guna, guru, harta, hasta, hina, intisari, indera, istana, istimewa, istri, jaga, jagat, jaksa, jala, jambu, japa, janda,jasa, jati, jaya, jelata, jelita, jelma, jenggala, jiwa, juwita, juta, jutawan, kala, kalpataru, kama, kamajaya, kanji, kapas, kerana, karunia, karya, kecapi, keluarga, kendi, kepala, keranda, kerja, kesatria, krama, kuasa, kusuma, laba, lagu, laksana, logam, lokakarya, lintas, madya, madu, mahkota, malapetaka, mandala, mantra, maya, melati, menteri, merdeka, merdu, merica, merpati, mesrah, mesti, muda, moksa, mustika, mutiara, nada, nama, narapidana, negara, negeri, neraca, neraka, netra, nila, nirmala, nirawana, nista, pada, paksa, pandai, pandita, panitia, parca, patih, pedati, pekerti, pendapa, perdana, percaya, peribahasa, peristiwa, perkara, permaisuri, permata, persada, pertama, pertiwi, petaka, prabu, prahara, prakarsa, pramugari, prasangka, prasasti, pria, pribumi, puasa, puja, pujangga, punggawa, purba, puri, purnama, purwa, pusaka, puspa, puspita, putra, putri, raga, rahasia, raja, rasa, rata, ratna, rela, remaja, rencana, rupiah, sabda, sahaja, sahaya, saksi, sakti, samudra, sandiwara, senggama, sangka, sangsi, santri, santika, sarana, sari, satru, satwa, saudara, sayembara, sederhana, sedia, degala, sejahtera, seloka, semboyan, sementara, sempurna, semua, senantiasa, sengsara, sengketa, senjata, senjata, sentosa, serigala, seteru, setia, siksa, sila, sisa, siswa, suami, suara, suasana, suci, sudah, sukarela, sunyi, suralaya, sutra, swasta, tani, taruna, tata, tega, teja, telaga, tembaga, tentara, tuna, udara, umpama, upacara, upah, upaya, upeti, usaha, utama, utara, wacana, wahana, waisak,waluh, wanara, warga, warta, waspada, wibawa, wicara, wijaya, windu, wira, wisma, yayasan, yuda, eka, tunggal, dwi, tri, catur, panca, sapta, dasa....

Sementara iki sek, pegel ngetik e...

Saya yakin 99,99% sampean gak asing dengan kata2 itu, tapi saya juga yakin 99,99% sampean gakro nek semua kata sing tak tulis iku dari bahasa sansekerta...

Iya bener, semua kata itu dari bahasa sansekerta yang artinya sama seperti yang sampean semua pahami, lah ngunu kok yo sek percoyo nek sansekerta iku milik asing yang di bawa dari luar ke nusantara, sedangkan di negara yang mengklaim itu kata2 itu meh gak dipakai alias meh gak ada, kecuali sedikit saja...

Saya ambil satu contoh saja, rupyah dalam bahasa sansekerta berarti alat tukar barang(uang), satu2 negara yang memiliki mata uang yang disebut rupiah ya indonesia ini, di india sana masih di sebut rupee bukan rupiah...

Sayang nya kita semua sudah dipaksa melupakan kejayaan masalalu, jangankan sansekerta yang di tulis dengan huruf pallawa, abjad jawa alias honocoroko ae sekarang cuman seduikit yang tau dan bisa...

Terakhir, jgn sekali2 lupakan sejarah, ojo dadi kacang lali kulit e, karna ketika kita tidak tau asal, maka kita tidak akan tau tujuan...

#Sangkan_paran
#remek


Tuesday, August 29, 2017

NEGERI API



Nusantara hingga awal zaman Kaliyuga dikenal sebagai Negeri Api, agak terdengar sedikit lucu memang seperti di film “Avatar the legend of ang”, dan para pembaca juga boleh tertawa, tetapi nanti setelah selesai membaca buku ini anda kan berpikir dua kali untuk tertawa jika mendengar Nusantara adalah Negeri api.

Negeri api sendiri pernah menjadi nama sebuah kerajaan kecil yang terletak di daerah gunung Krakatau, yang masuk wilayah kekuasaan Raja Dewawarman, kerajaan kecil itu bernama kerajaan Agninusa.

Sebelum Adam diturunkan di bumi, bumi ini sudah berpenghuni, menurut versi arab atau versi Islam, sebelum Adam diturunkan di bumi, bumi sudah dihuni oleh keturunan Banul Jan, siapa Banul Jan itu? Banul Jan adalah bangsa Jin, masih menurut versi Islam bahwa Jin itu terbuat dari api, jadi Sebelum Adam diturunkan di tahun 5736 sebelum masehi, tahun itu adalah tahun peralihan zaman Dwapara Yuga ke zaman Kali Yuga, secara global sebelum ras Adam beranak pinak dan menyebar ke seluruh pelosok bumi, bumi ini masih di huni oleh Jin makhluk yang berasal dari api, dan kisah dalam versi ini hanyalah sepenggal saja, mestipun dijelaskan bahwa Jin itu ada yang baik dan ada yang buruk, tetap saja itu kurang detail. 

Karena sebelum diturunkannya Adam bumi ini sudah dihuni para Jin maka dari itu pantaslah Nusantara ini di sebut sebagai Negeri Api. Versi lebih lengkap bisa dipelajari dalam kitab-kitab Hindu kuno, atau bisa mencari sendiri dengan tunneling lewat meditasi kalau beruntung bisa diperkenankan memasuki terowongan waktu, anda juga akan tahu sendiri aslinya bagaimana, metode ini sudah umum gunakan di barat, disebut dengan quantum tunneling phenomena.

Keunikan Negeri Api, jumlah gunung berapi yang akhir hingga sekarang adalah 127 gunung, yang letaknya mengelilingi wilayah Negeri Api, seperti sebuah pagar yang saling menyambung, dan jumlah ini adalah jumlah terbanyak di dunia, dari 100% jumlah gunung berapi di dunia hampir separuhnya berada di Negeri Api.

Kembali pada bahasan Negeri Api, di Nusantara ini sampai awal zaman Kali Yuga di dominasi keturuan ras Asura bangsa Ditya, dan sedikit keturunan Aditya yang ada disini.

Sebelum Adam di ciptakan bumi ini di huni empat ras besar, yaitu ras kulit putih, ras kulit hitam, ras kulit merah, dan ras kulit kuning. Dua ras adalah keturunan Ditya yaitu ras kulit merah dan kulit hitam, sedang ras berkulit putih dan berkulit kuning adalah keturunan Aditya, seperti halnya manusia sekarang, kebaikan atau keburukan bukannya di tentukan oleh rasnya atau warna kulitnya, begitu pula juga di zaman itu, mestipun ras kulit merah dan kulit hitam adalah keturunan Ditya yang cenderung bersifat negatif, bukan berarti semua kelakuan dan sifat dari ras tersebut juga buruk.

Seluruh sebagian besar daratan bumi telah di huni oleh ras Asura, ras Asura kulit hitam mendominasi benua Afrika (sekarang) ras Asura kulit putih mendominasi wilayah eropa (sekarang), ras Asura kulit merah mendominasi wilayah Asia tenggara dan sebagian daratan Suhul (sekarang disebut Australia), sedang ras Asura kulit kuning mendominasi Asia bagian timur, mestipun masing-masing ras mempunyai wilayahnya sendiri-sendiri, bukan berarti disitu tidak ada ras Asura yang lain, Nusantara purba misalnya, mestipun wilayah Nusantara purba di dominasi ras Asura kulit merah, tetapi banyak juga ras Asura berkulit lain yang juga bermukim dengan damai di sini, hingga sekarang Nusantara di kenal dengan keberagamannya.

Perbedaan ras Asura berdasarkan warna kulit, hanyalah pembagian secara besarnya saja, karena dengan warna kulit yang sama, masih di bagi lagi dengan kerajaan-kerajaan dan suku-suku yang lebih kecil.

Seperti yang di ceritakan dalam bagian-bagian sebelumnya, dua kerajaan besar bangsa Asura yang terkenal yaitu Bali dan Alengka, mestipun keduanya merupakan keturunan Ditya tapi keduanya mempunyai sifat-sifat yang berbeda.

Di bagian sebelumnya yang di ceritakan hanya Bali, Sumatera, Sulawesi, Jawa dan Kalimantan saja, lalu bagaimana keadaan pulau atau daerah yang lain, misalkan pulau Papua, untuk Papua saat itu tidak menjadi satu daratan dengan Sundaland, pulau Papua saat itu menjadi satu dengan daratan Australia (sekarang), dulu daratan itu di sebut daratan Sahul, penduduk Australia asli yang sekarang hampir sudah tidak ada, karna sebagian besar berada di Papua Nugini, penduduk Australia yang sekarang adalah sebagian bangsa eropa yang bermigrasi ke Australia.

Kita akan bahas satu persatu dari istilah Sundaland dulu, kata Sunda dalam berbagai bahasa yang berhasil penulis kumpulkan bisa berarti sopan, bagus, terang, bersinar, putih, indah, menyenangkan, kestria. Nama Sundaland sendiri adalah pemberian dari Ptolemause seorang Yunani di tahun 150 Masehi, pemberian nama tersebut tidak lepas dari kondisi alam dan masyarakat pada waktu itu yang benar-benar Indah dan menakjubkan.

Nusantara purba antara Jawa dan Sumatera di pisahkan oleh gunung Krakatau purba waktu itu gunung Krakatau bernama gunung Batuwara, menurut naskah kuno jawa yang berjudul “Pustaka Raja Parwa” mestipun letusan gunung Batuwara ini tak sebesar letusan gunung Toba purba, gunung Tambora dan gunung Bromo purba, tetapi letusan gunung Batuwara tersebut juga berpengaruh besar pada iklim dunia.

Letusan gunung Batuwara terakhir yang terbesar itu terjadi di abad ke 4 masehi, selain mengakibatkan terputusnya Jawa dan Sumatera, juga mempengaruhi kondisi ekonomi dan iklim dunia, beberapa di antaranya kekasiran Romawi, Persia, Cina dan hilangnya kota Maya. Tercatat turunnya temperatur suhu bumi hingga 10 derajat celcius yang berlangsung hingga 20 tahun, menyebabkan musim dingin yang berkepanjangan, yang menyebabkan kondisi dunia menjadi amburadul karena gagal panen.

Setelah letusan gunung Batuwara di tahun 408 masehi, gunung Batuwara tenggelam oleh air laut sampai beberapa ratus tahun munculah anak gunung Batuwara di permukaan air yang kemudian disebut gunung Krakatau, gunung Krakatau terus tumbuh menjadi gunung yang besar, hingga di tahun 1883 gunung Krakatau mencapai puncak pertumbuhannya dan meletus dasyat, mestipun letusan ini tak sehebat letusan di tahun 408 masehi, tetapi letusan di tahun 1883 juga mempengaruhi kondisi iklim dunia, selama satu bulan sinar matahari meredup, bulan menjadi berwarna biru.

Kembali pada masa Negeri Api sebelum masehi, wilayah Jawa (pulau Jawa sekarang) yang saat itu belum menjadi pulau, adalah tempat para Pertapa dan Brahmana, Wilayah yang sama sekali bebas dari dunia politik, banyak tempat pemujaan dan ibadah yang di bangun di tanah Jawa, maka jangan heran jika di temukan bangunan-bangunan prasejarah yang tertimbun tanah berusia ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, beberapa contohnya tempat ibadah dan pemujaan situs Piramid gunung Padang, situs Piramid di Jawa Tengah dan situs Piramid yang berada di wilayah Jawa Timur yang belum ditemukan.

Para Asura dan keturunannya sering membuat tempat pemujaan atau ibadah berupa bangunan berbentuk limas segi empat seperti Piramid, para Raja Mesir yang memiliki garis keturun Asura juga membuat Piramid yang sama sebagai tempat pemujaan.

Terjadi salah kaprah bahwa Piramid adalah makam para Firaun atau para Raja Mesir prasejarah, dengan hanya didasarkan hipotesa ditemukannya mumi Firaun yang berada didalam Piramid, sedangkan yang sebenarnya terjadi adalah diletakkannya mumi Firaun itu di dalam Piramid di Mesir adalah sebagai sebuah penghormatan kepada Firaun tersebut, dan salah kaprah juga bahwa Piramid itu yang pertama kali yang membuat adalah orang Mesir, karena hampir di seluruh penjuru dunia bisa di temukan Piramid, di Mexico, di Jepang, di Itali, di Sudan, di China, di Kamboja, di Peru, di Eropa, di Indonesia, di Amerika tengah, di Nigeria dan daerah lainnya, dan itu adalah Piramid yang memiliki pola yang sama, yang di buat para keturunan Asura atau para keturunan manusia yang mempunyai garis keturunan Asura.

Banyak sekali sejarah yang di buat bangsa asing, penulis sebut sejarah versi asing yang menyatakan wilayah Negeri Api ini baru di huni di tahun 8000 sebelum masehi, dan rata-rata menyebutkan datang dari wilayah Eropa, Arab, India dan Cina, sekali lagi mencoba menggiring bahwa sebelumnya di Negeri Api ini tidak ada apa-apanya kosong tak berpenghuni, pertanyaannya lalu mengapa fosil manusia purba tertua di temukan di wilayah Negeri Api ini???

Untuk menjelaskannya sangat sederhana sekali, penulis beri contoh bencana kecil ketika Aceh tersapu Tsunami, semua warga mengungsi keluar wilayah Aceh, akibat bencana itu Aceh menjadi rata dengan tanah, setelah beberapa bulan warga asli Aceh kembali ke Aceh, apakah warga Aceh yang baru datang dari pengungsian itu bisa disebut pendatang? Tentu tidak bukan, dan nyatanya yang terjadi di masa Nusantara purba yang menimpa Negeri Api juga sama seperti itu ceritanya, Bencana-bencana besar seperti letusan-letusan gunung purba menyebabkan pengungsian besar-besaran, dan hanya sedikit yang selamat dalam pengungsian tersebut, baru setelah bertahun-tahun mereka kembali ketanah kelahirannya kemudian memulai hidup baru, dan lalu seenaknya saja orang barat mengklaim bahwa pengungsi yang kembali itu adalah para pendatang.

Tuesday, June 20, 2017

SANSEKERTA



Selama ini bahasa dan aksara Sansekerta dianggap bahasa dan aksara yang berasal dari India, sedangkan Sansekerta sendiri diketahui adalah bahasa kitab weda yang di bawa bangsa Arya memasuki india di adab ke 16 sebelum masehi, dan itu sudah dijelaskan di bagian sebelumnya mengenai bangsa Arya, jika di lihat lebih detail lagi, sangat jelas bahwa aksara Sansekerta bukanlah milik asli bangsa Dravida yang merupakan suku asli yang menetap di India.

Dari berbagai jenis aksara yang ada di India, memiliki ciri khusus yaitu adanya garis sambung disetiap kata, bisa dilihat pada aksara Bengali, aksara Dewanagari dan aksara Gurmukhi sedangkan aksara Sansekerta tidak memiliki ciri garis sambungan pada tiap katanya, aksara Sansekerta sendiri lebih mirip dengan aksara Kawi kuno yang merupakan cikal bakal aksara Bali kuno.

Di bawah ini adalah contoh dari aksara Sansekerta yang asli, silakan di lihat baik-baik.


Bandingkan dengan aksara dari India di bawah ini.




Sekarang bandingkan lagi, dengan aksara Pallawa Nusantara yang di klaim berasal dari India di bawah ini.


Dan terakhir, sekarang bandingkan aksara Sansekerta dengan aksara Jawa kuno atau aksara Kawi di bawah ini.


Jika anda perhatikan satu-persatu detail bentuk hurufnya masing-masing, dari bentuk bulat besar, bulat kecil, dan bentuk juntaian, pasti anda akan mengatakan bahwa Aksara Sansekerta didalam kitab weda yang di bawa bangsa Arya ke India, lebih mirip dengan aksara Kawi atau Jawa kuno, dan sangat berbeda dengan aksara India  yang berciri khas mempunyai garis penghubung di bagian atas pada setiap katanya.

Istilah Kawi sendiri berasal dari sebuah daerah pegunung di mana di gunung tersebut di masa purba di tempati oleh para pujangga ras Asura, gunung itu terletak di wilayah kota Malang sekarang,  secara bahasa Kawi sendiri berarti pujangga, dari tulisan para pujangga yang berupa syair puja itulah aksara Kawi di kenal, dan sekaligus menjadi nama gunung tersebut, gunung Kawi adalah gunung para pujangga untuk menulis puja, tetapi sekarang fungsi gunung Kawi di kaburkan menjadi gunung mistik tempat mencari pesugihan.

Sebernanya di Nusantara sendiri hingga sekarang masih memiliki sedikitnya 14 aksara yang masih dapat ditemukan diantaranya :

  1. Aksara Kawi
  2. Aksara Bali
  3. Aksara Sunda
  4. Aksara Batak
  5. Aksara Bugis
  6. Aksara Kerinci
  7. Aksara Ulu (lampung)
  8. Aksara Makasar
  9. Aksara Lontara
  10. Aksara Jangang-jangang
  11. Aksara Bilang-bilang
  12. Aksara Lonta ende
  13. Aksara Palawa
  14. Aksara Jawa

Di bawah ini adalah contoh aksara sunda, yang mungkin hanya sebagian kecil saja orang sunda sendiri saat ini yang mengetahuinya.


Kitab Weda yang di bawa kembali ke Nusantara dari India di abad ke 3 sebelum masehi, bukanlah kitab yang sama ketika suku Arya membawanya ke India, kitab yang di bawa itu sudah di tulis ulang oleh Panini di abad ke 5 sebelum masehi dengan aksara khas dari India, kitab tersebut pun sudah menjadi suatu ajaran agama yang di sebut agama Hindu India.

Uniknya hingga sekarang Nusantara ini masih di anggap bangsa yang kerdil, bangsa terbelakang, sehingga semua budaya dan bahasa berasal dari luar Nusantara, bahkan penduduk atau penghuni Nusantara pun dianggap berasal dari luar Nusantara, dan itu berhasil melemahkan mental bangsa Nusantara ini, hingga sekarang bangsa ini masih rela dianggap bangsa kelas tiga.

Namun jika para pembaca lebih detil mempejalari sejarah secara utuh, pasti akan menemukan benang merah betapa dulunya bangsa ini, adalah bangsa yng besar, bangsa yang pernah menguasai dua pertiga wilayah dunia.

Kembali pada bahasan bahasa Sansekerta, bahasa Sansekerta diketahui adalah bahasa dalam kitab Weda kuno, di sebut Sansekerta yang berarti sempurna, karena bahasa Sansekerta yang berada didalam kitab Weda mengajarkan tentang kesempurnaan, kitab Weda kemudian menjadi cikal bakal lahirnya agama Hindu di India, jika di tarik kebelakang, siapakah yang membawa kitab Weda?, yang membawa adalah bangsa Arya yang masuk ke India di abad ke 16 sebelum masehi, dari mana bangsa Arya berasal?, bangsa Arya merupakan penduduk asli Nusantara yang mengungsi dari Nusantara karena bencana meletusnya gunung berapi yang berada di kutub selatan, yang mengakibatkan gelombang Tsunami yang menyapu daratan Nusantara yang terjadi di akhir abad ke 18 sebelum masehi, jadi sangat jelas bahwa bahasa Sansekerta awalnya adalah dari Nusantara, tapi sayangnya kisah ini tidak pernah diceritakan.

Masyarakat sekarang lebih bisa dan bangga berbahasa dan menulis dengan aksara bangsa lain, dan mengajari anak-anaknya dengan pola yang sama seperti yang mereka lakukan, tetapi tidak begitu faham dengan bahasa daerahnya sendiri, bahkan yang dapat menulis aksara dearahnya sendiri saja bisa di hitung dengan jari, apakah salah mempelajari bahasa dan aksara bangsa lain? Tentu tidak ada salahnya mempelajari bahasa dan aksara bangsa lain, yang menjadi masalah adalah ketika kita lebih bangga akan bahasa, aksara dan budaya bangsa lain, hingga kita lupa betapa besar dan luhurnya bangsa sendiri, maka lambat tapi pasti nilai cinta tanah air akan hilang, dan ketika itu hilang maka apa yang di katakan Juri Lina seorang penulis dari Swedia dengan bukunya yang terkenal berjudul “Architects of Deception the Concealed History of Freemasonry” akan benar-benar terjadi, Nusantara sedang di jajah dan akan terus di jajah.

Dalam tulisannya Juri Lina mengatakan, ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu bangsa, yang pertama kaburkan sejarahnya, yang kedua hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tidak bisa dibuktikan kebenarannya lagi, dan yang ketiga putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, katakan pada bangsa itu bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.

Sebetulnya penjajahan itu sudah di mulai di Nusantara ini sejak tahun 1400, ketika kerajaan persemakmuran terbesar di Asia tenggara di kalahkan kerajaan kecil yang bernama Demak, kerajaan besar itu adalah Majapahit, kemudian di perparah lagi pada zaman kolonial yang berkuasa 300 tahun di Nusantara ini, dan sekarang memang susah untuk membangkitkan kembali kejayaan Nusantara yang dulu pernah ada, tapi susah bukan berarti tidak mungkin, kita mulai dari diri sendiri, keluarga dan teman terdekat, bangunkan dari tidur panjangnya, sadarkan bahwa mereka semua adalah keturunan bangsa Arya.

Dari semua ulasan di atas masihkah anda ragu, bahwa anda, saya dan bangsa ini adalah pemilik sah aksara sansekerta dan sekaligus kita semua penduduk Nusantara adalah bangsa Arya yang miliki garis keturunan langsung dari bangsa Arya terdahulu.

Privacy Policy Kalender Jawa Kuno

  Privacy Policy: Kalender Jawa Kuno Terakhir Diperbarui: 21 Februari 2026 1. Pendahuluan Kami menghormati privasi Anda. Kebijakan Privasi...