Monday, June 19, 2017

SUKU ARYA


Suku Arya atau lebih dikenal dengan sebutan Bangsa Arya, dalam sejarah bangsa Arya tertulis memasuki India di abad ke 16 sebelum masehi, kemudian bangsa Arya juga tertulis dalam sejarah memasuki ke daratan Timur Tengah di sekitar abad 17 sebelum masehi, dari sumber sebuah prasasti Assyria tahun 834 sebelum masehi, lalu dari manakah bangsa Arya berasal?

Sebuah pertanyaan besar yang belum terjawab. Dalam sejarah lain di kisahkan bangsa Arya yang memasuki India di abad ke 16 sebelum masehi adalah berasal dari Asia tengah atau Timur Tengah, lebih tepatnya daerah Persia, hanya karena didasari sudah ditemukannya peradaban Arya yang lebih tua di Persia yaitu di abad ke 17 sebelum masehi, dan itu bukan merupakan bukti yang valid, sebagai contoh saya akan berikan sebuah analogi, si A di lahirkan di Aceh, karna sebuah tragedi si A kemudian dibawa orang tuanya ke Lampung, hingga si A berumur 18 tahun kemudian si A membuat prasasti tentang kehidupannya di Lampung, setelah itu si A merantau ke Jawa di umur 19 tahun, dan dia menghabiskan sisa umurnya di Jawa, setelah meninggal ada orang yang ingin tau dari mana si A berasal, di carilah bukti tentang dari mana si A berasal, karna si A pernah membuat sebuah prasasti di Lampung, dan akhirnya orang tersebut menyimpulkan si A berasal dari Lampung, dengan bukti peninggalan si A yang ada di Lampung itu, apakah vonis si A berasal dari Lampung itu benar? Tentu tidak bukan, karena si A dilahirkan dan berasal dari Aceh.

Bangsa Arya menjadi rebutan, Banyak klaim dari berbagai negara, yang mengakui sebagai asal suku Arya, bangsa eropa khususnya Jerman, Persia dan India, sedangkan bangsa kita sendiri sekarang malah tidak tau kalau sebenarnya bangsa Arya adalah Nenek Moyang bangsa Nusantara.
Untuk mempelajari sejarah bangsa Arya, bukan hanya di butuhkan bukti-bukti peninggalan, tapi harus tahu benar tetang awal mula bangsa Arya, keturunan siapa dia? Dilahirkan dimana dia? Sehingga bisa ditemukan runutan sejarahnya.

Kehidupan suku arya
Bangsa arya sendiri dikenal sebagai bangsa yang cerdas dalam bidang beternak dan bercocok tanam serta ahli dalam merancang sebuah bangunan yang indah, bangsa ini adalah ras campuran antara ras Aditya (Asura) dari keturunan Dewayani dan ras Adam dari keturunan Syits. 

Seperti yang tertulis sebelumnya bencana besar letusan ketiga gunung Toba di tahun 61.558 sebelum masehi, yang menyebabkan penduduk Nusantara mengungsi ke bagian utara bumi, sebagian menetap di lembah Indus di tahun 59.542 sebelum masehi, setelah keadaan kembali normal sebagian besar memilih kembali ke Nusantara di tahun 31.025 sebelum masehi, untuk kembali membangun tanah kelahirannya, hal yang tidak diduga terjadi, sebagian kecil yang tetap memilih tinggal di lembah Indus terserang wabah mematikan sehingga semua yang berada di kawasan itu tidak ada yang selamat, sedangkan yang memilih kembali ke tanah kelahiran terselamatkan dari wabah Indus.

Karena keadaan alam yang berubah drastis akibat bencana besar itu, butuh waktu yang cukup lama untuk menemukan kembali wilayah Nusantara, setelah ribuan tahun menjelajah, akhirnya mereka yang tiba kembali ke Nusantara ditahun 4235 sebelum masehi, membangun kembali peradaban yang tersisa akibat letusan gunung Toba yang ketiga, sebagian besar bangunan terkubur, sebagian yang memilih tinggal dan tidak ikut mengungsi saat letusan gunung Toba ketiga berhasil selamat dan bertahan hidup, dan menyambut kembali keluarga mereka yang pulang kampung, bersama-sama mereka membangun kembali semua yang tersisa, diperadaban inilah ras Arya muncul dari percampuran ras Adam dan ras Asura yang mau bercampur dengan ras Adam, peradaban pun kembali berdiri megah, masyarakatnya hidup sangat sejahtera peradaban itu di kenal sebagai peradaban Lemuria, peradaban itu memiliki pusat kerajaan di daerah Jawa Tengah (sekarang) tepatnya di bagian selatan laut Jawa atau pantai utara Jawa Tengah, kenapa mereka mendirikan pusat kota diwilayah utara? Hal itu di sebakan wilayah selatan sudah dikuasai para Asura yang memilih tidak kasat mata tepatnya selatan pulau Jawa, yang tidak mau berbaur dengan ras baru Adam, sehingga para suku Arya yang tidak ingin terjadi gesekan dengan saudara tuanya para Asura membangun peradapan di sisi utara Jawa, sisa peradaban Lemuria masih bisa ditemukan saat ini berupa sebuah gunung yang bernama Muria.

Kejayaan peradaban Lemuria akhirnya harus menyerah juga, bukan karena serangan bangsa lain, tetapi akibat meletusnya gunung berapi yang ada di kutub selatan, yang menimbulkan gelombang Tsunami 20 kali lebih dasyat dari Tsunami aceh di tahun 2004, hasilnya sebagian daratan di Nusantara terendam air termasuk laut Jawa yang dulunya adalah sebuah daratan, kejadian ini terjadi di tahun 1793 sebelum masehi, lagi-lagi penduduk Nusantara purba harus mengungsi ke utara, para pengungsi yang berjalan ke terus utara sampai di Persia di abad ke 17 sebelum masehi, sedangkan pengungsi yang lain mencoba menemukan saudara mereka yang menetap di lembah Indus, tetapi di Lembah Indus mereka tidak menemukan apapun selain daerah yang tak terawat sebab waktu mereka tinggalkan lembah itu, lembah Indus terserang wabah yang menghabiskan seluruh penghuni lembah Indus, setelah tidak berhasil menemukan saudaranya di lembah Indus, akhirnya mereka meneruskan perjalanan sampai ke India di abad ke 16 sebelum masehi, mereka tiba di India lebih lama di banding yang tiba di persia, karena memang jarak menuju India yang lebih jauh dari pada ke utara (Persia) jadi mereka tiba di India setelah para pengungsi yang telah tiba lebih dulu di Persia, sebenarnya para pengungsi bukan hanya bertujuan kedua tempat tersebut saja, pengungsi yang lain menyebar hingga Eropa dan Afrika.

Di India sendiri pun sudah berpenghuni, bangsa penghuni India saat itu adalah bangsa Dravida, dikarenakan kalah dalam banyak hal akhirnya bangsa Dravida takluk pada bangsa Arya, tetapi bangsa Dravida mendapatkan banyak keuntungan dari bangsa Arya, selain bisa mempelajari ilmu-ilmu bangsa Arya yang sudah lebih maju, bangsa Dravida juga belajar tentang sastra dan filosofi.
Dari kejadian tersebut silakan anda simpulkan sendiri, dari manakah sebenarnya bangsa Arya berasal, perlu diketahui juga setelah gelombang Tsunami dasyat yang menyapu daratan Nusantara yang terjadi di tahun 1793 sebelum masehi tersebut, daratan Nusantara purba berubah menjadi berpulau-pulau karna terpisah oleh genangan air laut akibat Tsunami tersebut, ibu kota Lemuria pun  yang berada di utara gunung Muria lenyap tersapu Tsunami dan tenggelam di laut Jawa, gunung Muria sendiri pernah menjadi pulau Muria, karena terpisah dengan daratan pulau Jawa dan baru kembali menyatu dengan pulau Jawa di tahun 17 masehi.

Sebagian suku Arya kembali ke Nusantara di tahun 415 sebelum masehi, tetapi sayangnya semua peninggalan mereka terkubur akibat bencana, dan mereka harus memulai kembali peradaban baru.

Suku Arya dan nama Arya
Kata Arya sendiri dikatakan berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya mulia, kata itu tertulis dalam weda, yang kemudian di klaim itu adalah dari India, padahal weda sendiri yang membawa adalah bangsa Arya yang baru masuk ke India di abad ke 16 sebelum masehi, sedangkan kata Arya sendiri di Jawa dikenal sebagai “maskulin” kelaki-lakian, kesatria, pemberani, keras dan tangguh, di Jawa sendiri nama Arya sudah lumrah di pakai untuk memberi nama atau julukan kepada anak laki-laki, dari sekian banyak nama Arya beberpa nama yang cukup di kenal adalah Arya Penangsang, Arya Kamandanu, Arya AiraRaja, Arya Damar dll, sedang di India sendiri yang mengklaim tempat asal dari bangsa Arya, hampir tidak ada yang bernama Arya, sekali lagi ini membuktikan bahwa bangsa Arya itu ya asalnya dari Nusantara ini.
Begitu pula klaim terhadap agama Hindu yang berasal dari India, yang masuk ke Indonesia di abab ke 3 sebelum masehi, padahal ajaran weda di Bali sudah ada jauh sebelum Hindu masuk ke Indonesia, itu juga yang menjadi sebab, adanya perbedaan antara Hindu asli Bali dan Hindu versi India, Hindu yang dari India itu awalnya dari Bali, tetapi saat itu tidak di sebut Hindu karena memang dalam kitab weda tidak disebutkan kata Hindu, kitab weda di bawa keluar oleh ras Arya dari Nusantara ini karna terjadinya Tsunami besar kala itu di akhir abad ke 18 sebelum masehi, mereka mengungsi hingga sampai di daratan India di abad 16 sebelum masehi, kemudian terjadi kulturasi menjadi disebut Hindu dan di bawah pulang kembali ke Nusantara di abad ke 3 sebelum masehi.

Senjata Suku Arya
Senjata yang digunakan bangsa Arya tak jauh berbeda degan pendahulunya para Asura, mereka masih memiliki Mantra Bramastra tetapi kekuatannya tidak sehebat seperti pendahulunya ras Asura, hingga saat inipun Mantra Bramastra masih di pakai di seluruh pelosok Nusantara dan sebagian di benua Afrika, tetapi Mantra Brasmatra yang sekarang skalanya sangat kecil dan sifatnya cenderung menyerang individu, Mantra Bramastra saat ini sering di sebut dengan istilah Santet, Teluh dan Voodoo.

Mantra Bramastra terakhir diketahui yang cukup besar efeknya di keluarkan oleh Sultan Agung Raja Mataram Islam pertama, di kisahkan dalam babad Mataram dan kisah penduduk setempat, Sultan Agung setiap hari jumat selalu berjamaah di Mekkah, beliau senang kesana sebab selain merasa beliau adalah keturunan dari Arab, beliau juga dapat mengunjungi seorang Sufi dari tarekat Qodariyah yang satu pandangan dengan beliau, tetapi beliau tidak pernah menyebutkan nama sufi tersebut, sehingga masyarakat di Mataram dan sekitarnya, hanya mengenal dengan sebutan Imam Sufingi atau Syeh Sufingi, berdasarkan cerita yang di tuturkan Sultan Agung yang tidak pernah menyebut nama Sufi tersebut.

Suatu ketika di mekkah beliau mencium bau yang sangat harum, dicarilah dari mana sumber bau harum tersebut berada, ternyata bau harum tersebut berasal dari sebuah tanah yang berada tak jauh dari tempat beliau duduk, kemudian beliau menyampaikan keinginan beliau kepada seorang Sufi temannya itu, bahwa jika beliau meninggal, beliau ingin di makamkan di tanah tersebut, tetapi temannya Sufi tersebut tidak setuju, Sufi itu berkata bahwa Sultan Agung adalah Raja Jawa jadi sebaiknya dimakamkan di bumi Jawa saja, mendengar hal itu Sultan Agung tersinggung, karena beliau merasa masih punya keturunan dari Arab, beliau berhak untuk untuk di makamkan di situ, akhirnya beliau pulang.

Setelah beliau pulang, seperti filosofi bebas tentang makna blangkon yang mbendol mburi, kejadian di mekah itu menjadi beban pikiran Sultan Agung, malam hari datanglah keturunan Asura yang berada di wilayah Laut Selatan menemui beliau, dia adalah Ratu dari para Asura yang memilih pindah ke wilayah perairan, tepatnya wilayah pantai selatan.

Melihat Sultan Agung yang gelisah, keturunan Asura itu menawarkan sebuah solusi supaya kegelisahan beliau reda, Sultan yang dalam kegelisahan akhirnya menerima solusi itu, maka dibelikanlah sebuah Mantra Bramastra berupa pagebluk ke tanah Arab, terjadilah wabah yang mematikan di Arab sana, di tanah jawa pagebluk itu dikenal dengan istilah isuk loro sore mati, awan loro bengi mati.

Sunan Kalijaga yang mendengar berita itu mendatangi Sultan Agung, beliau berkata jika ini di teruskan maka orang Arab akan habis, dengan ijin dari Sultan Agung, Sunan Kalijaga pergi ke Arab untuk menghentikan pagebluk itu, di pasanglah kain yang berwarna hijau yang menjadi simbol kekuasaan pantai selatan, untuk meredakan pagebluk itu, dan konon bendera Arab yang sekarang berwarna hijau berasal dari tragedi itu, untuk menghibur hati Sultan Agung, Sunan Kalijaga mengambil segenggam tanah yang berbau harum tersebut, kemudian melemparnya ke arah Nusantara, tanah yang dilemar itu kemudian jatuh di gunung Merak daerah Girirejo Imogiri, dan tempat jatuhnya tanah itu kan menjadi makam Sultan Agung saat beliau wafat, setelah kejadian tersebut Sultan Agung beserta keturunannya tidak pernah lagi pergi ke Mekkah, hingga Sultan Hamengku Buwono ke 10 yang mendrobrak tradisi lama Mataram, beliau adalah orang pertama dari keturunan Sultan Agung yang pergi menunaikan ibadah Haji.

Saturday, June 10, 2017

JAWA PURBA





Pulau Jawa sekarang

Jawa sekarang dikenal nama sebuah pulau yang terletak di bagian selatan Nusantara, membentang dari Banten sampai Banyuwangi, yang hingga sekarang memiliki bermacam-macam budaya dan bahasa daerah, setidaknya tersisa 10 bahasa daerah yang masih digunakan hingga sekarang di pulau Jawa ini, yaitu bahasa Sunda, bahasa Betawi, bahasa Badui, bahasa Jawa, bahasa Osing, bahasa Bali, bahasa Madura, bahasa Tengger, bahasa Kangean dan bahasa Banyumasan.

Sejak zaman Jawa purba, daerah Jawa yang masih menyatu dengan Sumatera, Kalimantan, Madura dan Bali, wilayah Jawa memang sudah dikenal sebagai daerah yang heterogen, karena pada masa purba daerah Jawa menjadi jujukan atau tujuan para pelaku spiritiual dari berbagai belahan dunia saat itu, tentang hal ini para pembaca bisa menemukan buktinya pada relief Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Nama Jawa pun sudah dikenal sejak tahun 1.515.100 sebelum masehi, terdapat dalam catatan India kuno, dalam kitab Sundarakanda, diceritakan  dalam kisah Ramayana, saat itu Shri Rama mencari Dewi Sinta mendapat bantuan dari Hanuman seorang Asura yang berbentuk wanara alias kera, yang kemudian turut membantu mencari letak pastinya kerajaan Alengka, dengan memerintahkan anak buahnya mencari kerajaan Alengka hingga ke daerah Yavadvip (Tanah Jawa).

Di masa setelah masehi kerajaan tertua yang tercatat di tanah Jawa adalah kerajaan Salakanagara, dengan Raja Dewawarman di tahun 125 masehi, beliau bergelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara, kerajaan tersebut terletak di bagian barat tanah Jawa, kerajaan ini berlangsung selama tujuh generasi dengan Raja terakhir adalah Raja Dharmawirya, karena Raja Dharmawirya tidak memiliki anak laki-laki dan anak perempuannya dipersunting oleh Jayasinghawarman seorang Maharesi di Calankanaya dari kerajaan Rajatapura di India, maka praktis dinasti Salakanagara berakhir di gantikan kerajaan baru yang bernama kerajaan Tarumanagara di tahun 358 masehi, kemudian diteruskan oleh putranya yaitu Dharmayawarman, dilanjutkan lagi oleh Purnawarman, di era Raja Purnawarman inilah kerajaan Tarumanagara mencapai zaman keemasannya, kebesaran Tarumanagara tersohor hingga ke dinasti han di cina.

Kerajaan Tarumanagara bertahan cukup lama hingga tahun 669 masehi, dengan Raja terakhir adalah Raja Linggawarman yang merupakan keturunan ke sebelas dari Raja Jayasinghawarman.
Dalam buku ini sengaja penulis hanya membahas sedikit tentang kejayaan Nusantara di era setelah masehi, karena tulisan di buku ini lebih dititik beratkan pada kisah kejayaan Nusantara purba, di buku yang lain penulis akan menceritakan kemegahan Nusantara dari awal tahun masehi hingga puncak kejayaan Majapahit, yang berhasil menguasai seluruh wilayah asia tenggara kecuali kerajaan Sunda, dan penulis akan menulis sedetail mungkin perkembangan kerajaan di Nusantara dari masa ke masa tanpa ada yang di tutup-tutupi seperti sejarah sedang yang beredar sekarang.

Kembali pada bahasan Nusantara di masa purba, dalam bagian ini di khususkan tentang sejarah Jawa purba yang pernah menjadi pusat tempat ritual para Asura dari seluruh penjuru dunia.


Jawa purba sebagai pusat spiritual
Mengapa Jawa purba menjadi pusat spiritual dimasa itu?
Perlu di ketahui, pada zaman itu mestipun didominasi para Asura, namun wilayah Jawa purba adalah wilayah kekuasaan para Dewa, sehingga sebelum tahun 61.558 sebelum masehi, nyaris tidak ada satupun kerajaan Asura yang berdiri ditanah Jawa, kecuali di ujung timur Jawa yaitu kerajaan Bali purba, yang kekuasaannya hingga Banyuwangi (pada saat itu pulau Bali dan pulau Jawa masih menjadi satu), kerajaan Bali purba itupun juga bukan merupakan kerajaan yang berbasis politik kekuasaan, kerajaan Bali purba adalah pemuja Dewa Brahma yang bersemayam di gunung Brahma atau gunung Bromo purba.

Jumlah Piramid terbanyak bukan lah di mesir, seperti yang kita ketahui saat ini, tetapi jumlah terbanyak Piramid berada di pulau Jawa sekarang, gunung Padang hanyalah salah satu Piramid yang baru bisa ditemukan, masih ada sedikitnya empat Piramid besar lagi yang masih selamat dari bencana-bencana purba, namun kondisinya sekarang masih tertimbun tanah, sehingga terlihat seperti hanya sebuah bukit saja, tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk membokar kembali bahwa Nusantara ini khususnya pulau Jawa pernah menjadi pusat peradaban dunia. 

Di bagian lain dalam buku ini dijelaskan kenapa dan bagaimana Piramid bisa ada hampir diseluruh penjuru dunia, hal disebabkan tidak lain karena Piramid adalah sebuah tempat ibadah bagi para ras Asura, dan pusat Piramid dengan medan energi terbesar berada di pulau Jawa sekarang, itu pula yang menjadi sebab kenapa wilayah Jawa purba menjadi pusat bagi para pelaku spiritual di zaman itu.
Setidaknya paling sedikit ada lima belas situs Piramid di daerah Jawa dan Sumatera, tetapi situs Piramid terbesar ada di wilayah Jawa, terdapat sembilan situs piramid di wilayah jawa dari pengamatan penulis selain situs Piramid gunung Padang yang sudah di temukan, masih ada empat lagi situs Piramid yang berukuran raksasa di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang belum diketahui, yang sekarang masih berbentuk bukit dan gunung, dari kelima Piramid raksasa itu ada empat piramid yang dibangun oleh keturunan Aditya, sedang yang satu Piramid lagi dibangun oleh keturunan Ditya, ciri piramid yang di bangun keturunan Ditya adalah piramid lancip, dalam piramid yang berbentuk lancip ini terdapat sesuatu yang sangat berharga yang selama ini di cari-cari oleh bangsa Israel.

Dari sedikitnya lima belas Piramid yang berada di Jawa dan Sumatera, ada enam situs piramid yang berada di wilayah Sumatera yang satu piramid yang memiliki ukuran raksasa, sedang lima lainnya hanya seukuran dengan piramid Giza di Mesir yang tingginya hanya 132 meter di atas tanah, tetapi dari lima belas piramid yang tersebar di wilayah Jawa dan Sumatera, piramid yang memiliki umur paling tua berada di Sumatera, dan juga merupakan Piramid dengan letak tertinggi di dunia.

Sengaja penulis tidak menulis detail lokasi piramid-piramid yang belum di temukan itu, biarlah menjadi misteri sampai waktunya tiba, dimana Nusantara di pimpin kembali oleh orang yang tepat dan berhak menjadi Raja di Nusantara yang baru.

Kembali pada bahasan Jawa purba, mestipun sekarang ini pulau Jawa bukan merupakan pulau terbesar di wilayah Nusantara, dan hanya menduduki peringkat kelima sebagai pulau terbesar, namun pulau Jawa ini memiliki tingkat kepadatan penduduk nomer satu di Nusantara, hal ini tidak akan menjadi hal yang aneh ketika kita tahu sejarah wilayah Jawa purba yang memang dari dulu menjadi pusat berkumpulnya suku-suku dari seluruh dunia.


Keunikan masyarakat Jawa
Sebagian masyarakat asli Jawa khususnya dan Nusantara pada umumnya yang mempunyai garis keturunan suku Arya, memiliki ciri khusus suku Arya yang melekat hingga abab ke 14 dan bisa jadi hingga sekarang, ciri itu adalah para orang Arya bertarung tanpa perisai yang melekat pada tubuh, yang disebut dengan baju zirah.

Setelah zaman keemasan Asura berakhir, baju Zirah pertama kali dipakai di abad ke 12 sebelum masehi di Timur Tengah Kuno, kerajaan Yuan dan wilayah Asia Utara hingga Asia Tengah, kemudian menular ke India di abad ke 8 sebelum masehi, sedangkan kita ketahui hingga zaman Majapahit, semua prajurit kerajaan tidak memakai baju zirah, apalagi sekelas patih atau panglima perang, mereka malah bertelanjang dada, salah satu contoh patih Gaja Mada.

Kenapa mereka tidak memakai baju zirah? Apa mungkin pada saat itu tidak memiliki teknologi peleburan logam, sehingga tidak bisa membuat baju zirah? Jawabannya bukan karena itu, sebab di zaman Salakanagara saja, Nusantara sudah mampu membuat perhiasan seperti mahkota yang sangat detail bertahtakan permata, sentaja berupa pedang pun sudah di buat, tetapi baju zirah itu di anggap sesuatu yang tidak perlu bagi keturunan suku Arya, karena mereka memiliki perisai yang lebih hebat yang tidak kasat mata, jangankan tertusuk oleh pedang musuh, tergores saja tidak akan mungkin.
Anda bisa mencoba mengamati baik dari relief, patung atau bukti peninggalan lain adakah keterangan tentang perisai atau baju zirah yang di miliki kerajaan-kerajaan di Nusantara hingga di era Majapahit, saya pastikan anda tidak akan dapat menemukan tentang hal itu, sebab memang bangsa Nusantara ini yang merupakan keturunan langsung dari bangsa Arya, sangat pemberani dan tidak memerlukan bentuk pertahanan seperti baju zirah itu, jika anda pernah mendengar kata “ini dadaku mana dadamu” seperti itulah keberanian yang di miliki bangsa Nusantara ini, dan harusnya kita juga memilikinya sekarang.


Contoh baju zirah dari beberapa negara di luar Nusantara

Kemampuan perisai khusus seperti itu hanya dimiliki oleh keturunan murni suku Arya, dan sebagian suku lain yang belajar agar juga memiliki perisai ajaib tersebut, sebagaian besar pasukan keRajaan yang berkelas komandan pasukan pasti memiliki perisai itu, perisai itu sekarang dalam ilmu kanuragan di kenal dengan sebutan lembu sekilan dan onto kusumo, suatu ilmu yang di turunkan atau di ajarkan bagi siapa saja yang mencintai tanah airnya.


Panglima, Raja dan pasukan Nusantara yang gagah berani tanpa baju zirah

Perisai tersebut bukannya tanpa kelemahan, tetap saja tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa kelemahan di muka bumi ini, salah satu kelemahan perisai itu adalah ketika hari lahir si empunya perisai akan memasuki kondisi terlemah, sehingga perisai tersebut tidak dapat berfungsi, itulah sebabnya sebagian besar masyarakat Jawa yang masih memegang kuat tradisi, ketika hari lahir memilih untuk menyepi dan tidak terlibat dalam peperangan.

Jika ada yang bilang pantesan masyarakat Nusantara kalah perang dengan bangsa asing, lah tidak pakai baju zirah yang gampang terbunuh! Yang bilang seperti itu suruh belajar sejarah lagi, tidak ada satupun bangsa lain yang dapat mengalahkan Nusantara dan semua sejarah kekalahan perang bangsa Nusantara ini adalah karena ada oknum bangsa sendiri yang berkhianat, penghianat itu yang paling berbahaya, apa wajar kerajaan sekelas Majapahit yang kekuasaannya hampir se Asia tenggara di kalahkan kerajaan Demak yang luasnya hanya se kabupaten? Pelajari baik-baik agar kesalahan tersebut tidak terulang di masa depan.


Hilangnya Jawa purba
Hilangnya peradaban Jawa purba hampir sama seperti hilangnya peradaban purba yang lain, karena bagian selatan wilayah Jawa adalah jajaran gunung berapi, sebagian besar sejarah Jawa purba hilang tertimbung tanah akibat letusan gunung, dua gunung dengan letusan Dasyat yaitu gunung Batuwara dan gunung Bromo purba turut menyumbang dalam peristiwa hilangnya bukti-bukti sejarah tetang kebesaran peradaban Nusantara purba di Jawa ini, mestipun bangunan-bangunan megah cukup sulit digali atau di temukan, karena bencana itu, tetapi bencana sebesar apapun tidak dapat menghilangkan semangat penduduk Nusantara, dalam hal ini khususnya masyarakat Jawa yang masih memegang teguh tradisi yang adi luhung.

SULAWESI PURBA




Pulau Sulawesi sekarang

Sulawesi yang sekarang di kenal sebagai pulau Sulawesi yang terletak disebelah timur pulau Kalimantan, jauh di masa purba Sulawesi sudah berpenghuni, tepatnya di tahun 291.983 sebelum masehi, Sulawesi di kuasai oleh para Asura yang bentuknya Triwikramanya setengah manusia dan setengah hewan, Rajanya adalah Asura yang berbentuk Triwikrama Ular Naga raksasa dengan tubuh dari besi, tetapi penampakan biasa sama seperti manusia pada umumnya, penampakan Ular Naga Raksasa itu hanya terjadi dalam keadaan Triwikrama, merujuk dari bahasa Sansekerta, arti dari Sulawesi sendiri adalah Sula yang artinya Ular, Wesi yang artinya Besi, jika di gabungkan maka berarti ular besi.

Naga Asura itu memiliki dua saudara, satu perempuan dan satu laki-laki, di zaman purba keRajaan tersebut bernama Cakrapurasta, yang mempunyai pusat keRajaan di gunung Bambapuang, salah satu kelebihan dari Asura di Sulawesi adalah mahir dalam ilmu sihir, dan hingga saat ini ilmu itu masih diturunkan secara turun-temurun oleh suku-suku yang berada di Sulawesi, salah satu suku yang terkenal memiliki ilmu sihir adalah suku Kajang Amma Toa di Bulukumba, ajian pancasona dan rawa rontek yang sangat ditakuti dan terkenal di jawa bersumber atau mengadopsi ilmu sihir dari Sulawesi purba.

Naga Asura itu sendiri memiliki nama asli Nagapaksa, yang pada saat itu menjadi penguasa di Bambapuang, adik laki-lakinya di beri kekuasaan di Tana Toraja, Sulawesi bagian selatan, sedang adik perempuannya menjadi penguasa di daerah Luwu Palopo.

Masyarakat Bugis Makasar dan Mandar mempunyai darah keturunan dari Nagapaksa, hingga saat ini masyarakat Bugis dan Mandar terkenal dengan kegigihannya, sifat konsisten yang pantang menyerah diturunkan turun-temurun melalui sifat Nagapaksa yang gigih tetap bertahan menjaga gunung Bambapuang walaupun dengan resiko harus kehilangan nyawanya.

Sedangkan suku Kajang di Bulukumba memiliki garis keturunan dari adik perempuan Nagapaksa yang memiliki anak bernama Amma Toa, yang kemudian di percaya sebagai nenek moyang suku Kajang, Amma Toa sendiri memiliki Ilmu Sihir yang sangat mumpuni, Ilmu tersebut di dapat dari ibunya sebagai bekal untuk mempertahankan diri, selain Ilmu sihir, Amma Toa juga memiliki kemampuan untuk menjaga makanan tetap awet dalam waktu yang lama.

Suku yang berada di Tana Toraja memiliki garis keturunan dari adik laki-laki dari Nagapaksa, yang mempunyai istri bernama Sondabilik, dan menghasilkan keturunan yang menjadi Raja-Raja secara turun temurun di Tana Toraja.

Hubungan keluarga di masa lalu lah yang menjaga keharmonisan  masyarakat di Bulukumba, Makasar, Mandar, Bambapuang dan Tana Toraja tetap rukun dan hingga saat ini.

Nama-nama tokoh yang tertulis dalam kisah Sulawesi ini penulis ambil dari kitab kuno berbahasa Sansekerta, bisa jadi dalam prasasti atau kitab-kitab lain muncul dengan nama tokoh yang berbeda, tetapi nama-nama tokoh yang penulis gunakan tidak mengurangi isi dan kandungan serta alur cerita yang terjadi di Sulawesi, dalam kisah lain nama Nagapaksa disebut dengan sebutan Wellangdilangi, hal itu adalah suatu yang sangat wajar karena perbedaan bahasa dan dialek, seperti halnya nama Bima dalam versi India dan Werkudara dalam versi Nusantara, dalam versi India Bima memiliki Istri bernama Hidimbi, sedang versi Nusantara bernama Arimbi.

Hilangnya Sulawesi purba
Punahnya kerajaan purba di Sulawesi tak lepas dari peran meletusnya gunung Bambapuang, Nagapaksa sendiri berumur sangat panjang hingga generasi ketujuh Nagapaksa tetap menjadi penguasa di Bambapuang.

Meletusnya gunung Bambapuang sama sekali tak membuat Nagapaksa takut, dia sudah bersumpah akan tetap tinggal di gunung hingga akhir hayatnya, dengan meletusnya gunung Bambapuang meledak pulalah tubuh Raja naga raksasa Nagapaksa.

Setelah itu datanglah ras keturunan Adam dan berbaur dengan para keturunan Asura yang masih tersisa, dan muncullah kerajaan-kerajaan baru di era setelah masehi, tercatat kerajaan tertua di Sulawesi periode setelah masehi adalah kerajaan Luwu, kisah lengkap tentang kerajaan Luwu akan di bahas di buku yang lain, yang akan fokus mengupas tuntas sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara di era kejayaan Nusantara setelah masehi.

Sejak abad ke 13 Sulawesi di kenal sebagai sumber mineral besi terbesar di dunia, hal itu tidak lepas dari peristiwa meletusnya gunung Bambapuang yang mengakibatkan meledaknya Nagapaksa yang tidak mau meninggalkan gunung yang ditinggalinya, sehingga tubuh dari Nagapaksa yang terbuat dari besi itu ikut meledak dan menyebar keseluruh wilayah Sulawesi.


Gunung Bambapuang yang sekarang hanya berupa bukit

SUMATERA PURBA




Pulau Sumatera sekarang

Sumatera sekarang adalah nama sebuah pulau yang terletak di Indonesia bagian barat, dengan luas 473.481 km². Sumatera ini dikenal pula dengan nama lain yaitu pulau Percha, pulau Andalas dan Swarna Dwipa atau Swarnna Bhumi, dalam naskah-naskah kuno India sebelum masehi dan kitab Jataka, Sumatera di sebut dengan nama Swarna Bhumi yang artinya Tanah Emas.

Kenapa bisa disebut Swarna Bhumi atau Tanah Emas? Ini akan menjadi hal yang sangat menarik, dalam tulisan di bagian satu yang menjelaskan tentang gunung semeru yang menjadi tempat bersemayamnya Maha Dewa, di bagian kedua tersebut, penulis singgung sedikit cerita tentang Raja Rahwana, di bagian tiga ini akan kita bahas kisah Raja Rahwana dengan Istananya yang terbuat dari emas.

Sejarah Sumatera sejauh ini yang di ketahui miliki kerajaan paling tua adalah kerajaan Kandis yang di perkirakan berdiri satu tahun sebelum masehi, itupun tidak banyak data yang bisa diambil dari berdirinya kerajaan Kandis ini, Padahal jauh sebelum kerajaan Kandis, tepatnya di tahun 1.515.100 sebelum masehi, sudah berdiri kerajaan terbesar dan termegah sepanjang masa, bahkan konon penduduk yang paling miskin saja kendaraannya terbuat dari emas, semua istananya terbuat dari emas, kerajaan itu bernama kerajaan Alengka, Raja pertamanya adalah Kubera anak dari resi Wisrama, Kubera memang dari bangsa Asura tapi Kubera tidak memiliki sifat jahat, sehingga Kubera juga di angkat menjadi Dewa kekayaan, sifat tidak serakahnya itu jugalah yang menyebabkan Kubera menyerahkan tahta kerajaan Alengka pada Rahwana saudara tirinya.

Raja Rahwana sendiri yang kemudian akhirnya menjadi pemuja setia Maha Dewa, memiliki banyak sekali karya puji-pujian dan tari-tarian yang dipersembahkan untuk Maha Dewa, salah satunya adalah tarian “Siwa Tandawa Sutra” karena kesetiaan Rahwana itu, Maha Dewa menganugerahkan Chandrahasa, sebuah senjata yang berbentuk pedang yang dapat membelah benda apapun.
Pada zaman yang sama Dewa Wisnu harus menjalani kutukan dari Wrinda Dewi istri dari Jalandar, Jalandar sendiri adalah manifestasi dari kemarahan Maha Dewa, kehebatan Jalandar sama seperti Maha Dewa, sehingga Jalandar mampu mengalahkan para Dewa, khususnya Dewa Indra yang memang sering kali berbuat kesalahan dan kesombongan.

Kisah ini di mulia ketika Dewa Indra dengan sombongnya mengatakan dialah penguasa satu-satunya dunia ini, Dewi Pratiwi bergetar menahan marah mendengar kesombongan Dewa Indra, hal itu memicu terjadinya gempa, Dewa Indra yang saat itu sedang berkeliling dengan istrinya terjatuh dari kendaraannya akibat guncangan gempa itu, akhirnya Dewa Indra sangat marah dan melemparkan senjatanya ke gunung Semeru, malangnya saat itu Maha Dewa sedang bertapa di situ, lemparan senjata itu membuat Maha Dewa marah, dan ingin membunuh Dewa Indra, para Dewa lain yang tahu kejadian itu turut memohon ampun pada Maha Dewa, akhirnya Maha Dewa melepaskan api kemarahannya ke arah samudera, kemudian api yang besar itu berubah wujud menjadi seorang bayi yang kemudian diberi nama Jalandar.

Jalandar kecil tumbuh hingga dewasa, menjadi orang yang sangat sakti mandra guna, kemudian Jalandar menikah dengan Wrinda Dewi seorang pemuja Dewa Wisnu, kehidupan mereka awalnya baik-baik saja sampai akhirnya datanglah Rahu dan para guru raksasa, mereka menghasut Jalandar dengan mengatakan, bahwa ayah Jalandar dulunya di bunuh oleh para Dewa, mendengar itu Jalandar murka dan memutuskan untuk berperang dengan para Dewa, Rahu tahu bahwa yang bisa menandingi para Dewa saat itu hanyanya Jalandar.

Jalandar segera menyerang para Dewa, Dewa Indra dan kelompoknya lari tunggang langgang, kemudian memohon bantuan pada Maha Dewa, Wrinda Dewi sebenarnya sudah melarang Jalandar untuk pergi berperang, karna dia takut suaminya terbunuh dalam perang, tapi tekad Jalandar untuk membalas dendam terlalu kuat sehingga Wrinda Dewi tak mampu membujuknya, selama Jalandar pergi berperang dengan para Dewa, Wrinda Dewi sebagai istri terus mendoakan berharap pada Dewa Wisnu agar melindungi Jalandar, pertarungan sengit pun masih berlangsung, saat itu Maha Dewa sudah turun tangan, tetapi Maha Dewa pun kewalahan menghadapi Jalandar, selain karena kehebatan Jalandar yang merupakan manifestasi dari Maha Dewa sendiri, kekuatan Jalandar menjadi berlipat ganda karna doa-doa istrinya yang memohon berkah pada Dewa Wisnu agara suaminya menang dalam perang, Dewa Wisnu yang takut Maha Dewa akan kalah, ingin turut membantu, tetapi Dewa Wisnu tidak bisa turut membantu bertarung langsung dengan Jalandar, karena istri Jalandar yang tiada hentinya berdoa kepadanya agar Jalandar menang dalam peperangan, akhirnya Dewa Wisnu membuat trik licik dengan menyamar sebagai Jalandar, dan kemudian mendatangi Wrinda Dewi, ketika Jalandar palsu tiba di pintu rumah, Wrinda Dewi mengira suaminya pulang, Wrinda Dewi sangat senang sekali, sehingga dia menghentikan doanya, dan menyambut Jalandar palsu.

Di saat doa itu berhenti, berkurang jugalah kehebatan Jalandar yang akhirnya Maha Dewa mampu mengalahkan Jalandar, Saat Jalandar terbunuh sebagian raksasa pergi kerumah Wrinda Dewi untuk mengabarkan bahwa Jalandar telah terbunuh, mendengar berita itu Wrinda Dewi seperti tersambar petir, karena dia merasa suaminya Jalandar sudah pulang dan sedang berada di peraduan dengannya, dalam hatinya berkata “jika Jalandar mati terbunuh, lalu siapa yang tidur dengan ku tadi”, kemudian Jalandar palsu berubah menjadi Dewa Wisnu, saat itu Wrinda Dewi yang merasa ternoda, hatinya sangat sedih karena di pisahkan dengan orang yang dicintainya, dengan amarah Wrinda Dewi mengeluarkan kutukannya pada Dewa Wisnu, bahwa dikemudian hari Dewa Wisnu akan terlahir kembali, dan akan merasakan derita dipisahkan dengan pasangannya seperti yang Wrinda Dewi rasakan, setelah itu Wrinda Dewi memilih bunuh diri dengan membakar dirinya dalam api, dari kisah itulah kemudian Dewa Wisnu harus terlahir kembali untuk memenuhi kutukan Wrinda Dewi, Dewa Wisnu terlahir kembali sebagai Shri Rama yang harus kehilangan Dewi Sinta. 

Shri Rama terlahir dalam keluarga Dasarata, dia memiliki adik pertama bernama pangeran Bharata adik keduanya pangeran Laksmana serta adik ketiganya pangeran Satrughna, Shri Rama mempersunting Dewi Sinta karena berhasil memenangkan sayembara yang di buat Prabu Janaka, selanjutnya Shri Rama harus hidup di hutan bersama istrinya Sinta ditemani adik keduanya Laksmana, kehidupan Rama di hutan itu atas permintaan Ratu Kekayi istri kedua Raja Dasarata, Ratu Kekayi atas hasutan pembantunya menginginkan anaknya lah yang menjadi Raja pengganti Dasarata, anak dari Ratu Kekayi itu adalah pangeran Bharata, setelah mengetahui keinginan ibunya tersebut, pangeran Bharata bukannya menerima apa yang di inginkan ibunya itu, pangeran Bharata malah menolak keinginan ibunya dan mencari Shri Rama, setelah berhasil menemukan kakaknya Shri Rama, pangeran Bharata menjelaskan keinginannya agar Shri Rama kembali ke istana dan menjadi Raja menggantikan ayahnya Raja Dasarata, tetapi Shri Rama menolak untuk menggantikan posisi ayahnya menjadi Raja, Akhirnya pangeran Bharata kembali untuk menjadi Raja menggantikan kakaknya Shri Rama.

Singkat cerita waktu itu Raja Rahwana yang sedang berduaan di taman bersama Mandodari istrinya mendapat laporan dari adiknya Surpanaka bahwa dia telah di aniaya oleh Shri Rama dan pangeran Laskmana, surpanaka dalam laporannya tidak menjelaskan kenapa dia sampai dianiaya oleh pangeran Lakmana, Surpanaka hanya bercerita bahwa dia dihajar oleh Shri Rama dan pangeran Laksmana, sehingga Raja Rahwana menjadi sangat marah dan berniat balas dendam kepada Shri Rama, kemudian Raja Rahwana berangkat mencari Shri Rama, setelah bertemu, bukannya menyerang Shri Rama, ternyata Raja Rahwana juga kepincut dengan kecantikan Dewi Sinta, sama seperti adiknya Surpanaka yang lebih dulu kepincut oleh Dewi Sinta, Akhirnya diculiklah Dewi Sinta oleh Raja Rahwana, Jatayu yang merupakan Raja para burung mengetahui penculikan itu, lalu Jatayu berniat menolong Dewi Sinta, kemudian Jatayu bertarung dengan Raja Rahwana, dengan kesaktian yang tidak berimbang akhirnya Jatayu kalah.


Lukisan Rahwana yang sedang berperang dengan Jatayu karya Raja Ravi Varma.

Sebenarnya Raja Rahwana sendiri semenjak menjadi pemuja Maha Dewa, menjadi Raja yang adil dan sangat di hormati rakyatnya, sifat raksasa yang dulu dominan di miliki Raja Rahwana berubah menjadi sifat yang baik, hal ini dibuktikan ketika menculik Dewi Sinta, Raja Rahwana tidak memaksa Dewi Sinta untuk mau menjadi istrinya, padahal jika mau Raja Rahwana bisa saja memperkosa Dewi Sinta, tapi hal itu tidak pernah di lakukan oleh Raja Rahwana.

Shri Rama dan pangeran Laksmana yang kebingungan dengan hilangnya Dewi Sinta, kemudian mencari kesana kemari dan akhirnya bertemulah dengan Jatayu yang sedang terluka, Jatayu memberi tahu Shri Rama bahwa Dewi Sinta di culik oleh Raja Rahwana dan di bawah ke keRajaan Alengka, kemudian Shri Rama dan pangeran Laksmana berusaha mengejar Raja Rahwana, dalam perjalanan pengejaran Raja Rahwana itu, Shri Rama bertemu dengan Sugriwa, kemudian Shri Rama membantu Sugriwa merebut kekuasaan kerajaan Kiskenda dari tangan Subali, setelah Sugriwa resmi menjadi Raja wanara di Kiskenda, Sugriwa menawarkan batuan pada Shri Rama untuk mencari dimanakah letak kerajaan Alengka berada, kemudian Sugriwa mengutus keponakannya, Shri Hanuman untuk mencari keseluruh penjuru bumi, akhirnya di temukan bahwa kerajaan Alengka ada diseberang samudera, Sugriwa lalu menawarkan bantuan untuk membangun sebuah jembatan yang melintasi samudera, Sugriwa juga mengutus keponakannya Shri Hanuman sekali lagi untuk memata-matai kerjaan Alengka, dikisahkan dengan sekali loncatan Hanuman mampu menyebrangi samudera.
Shri Rama menerima tawaran dari Sugriwa dan Shri Hanuman, Kemudian Shri Hanuman meloncat dari tepi pantai, saat Shri Hanuman meloncat, ditengah samudera tiba-tiba muncul sebuah pulau baru, yang sekarang pulau itu dikenal dengan nama Sri Langkah.

Jembatan yang di bangun Sugriwa dan ribuan pasukan keranya itu melintasi Sri langkah dan terus ketimur menuju kerajaan Alengka, jembatan itu sekarang lebih dikenal dengan nama Rama Brige, melewati Sri langkah jembatan itu terus di bangun ke arah timur hingga sampailah di pantai Sumatera. 


Penampakan Rama Bridge
Tampak india dan sri langka di hubungkan sebuah jembatan


Jika di tarik garis lurus dari India melewati Srilangka, maka akan berhenti di Sumatera

Kerajaan Alengka milik Raja Rahwana yang dalam kitab diceritakan terbuat dari emas, ternyata berada di Sumatera, itulah sebabnya kenapa dulu Sumatera di sebut dengan sebutan Swarna Dwipa atau Tanah Emas.

Suatu hari seorang teman arkeolog dari ITB mencoba berangkat ke Sumatera untuk meneliti keberadaan kerajaan Kandis, bukan bukti arkeolog yang di dapat, tetapi pengalaman pindah dimensi seperti yang pernah penulis alami, ketika itu dia berada di kawasan hutan Desa Pasir Putih di Riau, dengan antusias teman tersebut bercerita kepada penulis bahwa di dimensi lain, dia dibawa ke sebuah kerajaan yang sangat megah, istananya terbuat dari emas, pilar-pilarnya besar dan terbuat dari logam emas, dia mengatakan bangunan itu persis dengan cerita Atlantis yang pernah dia baca, mendengar cerita itu penulis hanya tersenyum saja, sebab penulis juga pernah mengalami hal yang sama.

Hilangnya peradaban purba Sumatera
Mungkin sekarang sudah sangat sulit untuk mencari bukti arkeologi tentang kerajaan Alengka yang berdiri di tahun 1.515.100 sebelum masehi, sebab 717.122 tahun setelah itu gunung Toba meletus begitu hebatnya yang meninggalkan kaldera danau toba yang begitu besar tepatnya di tahun 797.988 sebelum masehi, kemudian meletus lagi di tahun 487.589 sebelum masehi, dan letusan terakhir yang terjadi sampai saat ini di tahun 61.558 sebelum masehi pada zaman Dwapara Yuga tercatat Gunung Toba meletus sebanyak tiga kali, dan hingga kini gunung Toba tidak pernah lagi meletus.


Letusan ketiga gunung Toba yang begitu dasyat memicu terjadinya zaman es, karena pada waktu letusan ketiga itu, abu vulkanik mencapai atmosfir, sehingga matahari tertutup abu vulkanik hingga bertahun-tahun, menurut hasil penelitian, sinar matahari tidak mencapai bumi 10 tahun lamanya, yang menyebabkan kegelapan yang cukup lama dan menurunnya suhu bumi secara drastis, sehingga sebagian besar bumi membeku, gunung Toba sendiri merupakan gunung tertinggi pada masa Nusantara purba dengan ketinggian mencapai 11.768 meter di atas air laut (mdpl).

Letusan Toba yang terakhir yang dikenal sebagai kiamat zaman purba, selain merubah kondisi alam termasuk iklim, juga menyebabkan hilangnya peradapan purba Sumatera, hilangnya kerajaan yang penuh kemilauan emas.
 

Privacy Policy Kalender Jawa Kuno

  Privacy Policy: Kalender Jawa Kuno Terakhir Diperbarui: 21 Februari 2026 1. Pendahuluan Kami menghormati privasi Anda. Kebijakan Privasi...