Saturday, June 10, 2017

SUMATERA PURBA




Pulau Sumatera sekarang

Sumatera sekarang adalah nama sebuah pulau yang terletak di Indonesia bagian barat, dengan luas 473.481 km². Sumatera ini dikenal pula dengan nama lain yaitu pulau Percha, pulau Andalas dan Swarna Dwipa atau Swarnna Bhumi, dalam naskah-naskah kuno India sebelum masehi dan kitab Jataka, Sumatera di sebut dengan nama Swarna Bhumi yang artinya Tanah Emas.

Kenapa bisa disebut Swarna Bhumi atau Tanah Emas? Ini akan menjadi hal yang sangat menarik, dalam tulisan di bagian satu yang menjelaskan tentang gunung semeru yang menjadi tempat bersemayamnya Maha Dewa, di bagian kedua tersebut, penulis singgung sedikit cerita tentang Raja Rahwana, di bagian tiga ini akan kita bahas kisah Raja Rahwana dengan Istananya yang terbuat dari emas.

Sejarah Sumatera sejauh ini yang di ketahui miliki kerajaan paling tua adalah kerajaan Kandis yang di perkirakan berdiri satu tahun sebelum masehi, itupun tidak banyak data yang bisa diambil dari berdirinya kerajaan Kandis ini, Padahal jauh sebelum kerajaan Kandis, tepatnya di tahun 1.515.100 sebelum masehi, sudah berdiri kerajaan terbesar dan termegah sepanjang masa, bahkan konon penduduk yang paling miskin saja kendaraannya terbuat dari emas, semua istananya terbuat dari emas, kerajaan itu bernama kerajaan Alengka, Raja pertamanya adalah Kubera anak dari resi Wisrama, Kubera memang dari bangsa Asura tapi Kubera tidak memiliki sifat jahat, sehingga Kubera juga di angkat menjadi Dewa kekayaan, sifat tidak serakahnya itu jugalah yang menyebabkan Kubera menyerahkan tahta kerajaan Alengka pada Rahwana saudara tirinya.

Raja Rahwana sendiri yang kemudian akhirnya menjadi pemuja setia Maha Dewa, memiliki banyak sekali karya puji-pujian dan tari-tarian yang dipersembahkan untuk Maha Dewa, salah satunya adalah tarian “Siwa Tandawa Sutra” karena kesetiaan Rahwana itu, Maha Dewa menganugerahkan Chandrahasa, sebuah senjata yang berbentuk pedang yang dapat membelah benda apapun.
Pada zaman yang sama Dewa Wisnu harus menjalani kutukan dari Wrinda Dewi istri dari Jalandar, Jalandar sendiri adalah manifestasi dari kemarahan Maha Dewa, kehebatan Jalandar sama seperti Maha Dewa, sehingga Jalandar mampu mengalahkan para Dewa, khususnya Dewa Indra yang memang sering kali berbuat kesalahan dan kesombongan.

Kisah ini di mulia ketika Dewa Indra dengan sombongnya mengatakan dialah penguasa satu-satunya dunia ini, Dewi Pratiwi bergetar menahan marah mendengar kesombongan Dewa Indra, hal itu memicu terjadinya gempa, Dewa Indra yang saat itu sedang berkeliling dengan istrinya terjatuh dari kendaraannya akibat guncangan gempa itu, akhirnya Dewa Indra sangat marah dan melemparkan senjatanya ke gunung Semeru, malangnya saat itu Maha Dewa sedang bertapa di situ, lemparan senjata itu membuat Maha Dewa marah, dan ingin membunuh Dewa Indra, para Dewa lain yang tahu kejadian itu turut memohon ampun pada Maha Dewa, akhirnya Maha Dewa melepaskan api kemarahannya ke arah samudera, kemudian api yang besar itu berubah wujud menjadi seorang bayi yang kemudian diberi nama Jalandar.

Jalandar kecil tumbuh hingga dewasa, menjadi orang yang sangat sakti mandra guna, kemudian Jalandar menikah dengan Wrinda Dewi seorang pemuja Dewa Wisnu, kehidupan mereka awalnya baik-baik saja sampai akhirnya datanglah Rahu dan para guru raksasa, mereka menghasut Jalandar dengan mengatakan, bahwa ayah Jalandar dulunya di bunuh oleh para Dewa, mendengar itu Jalandar murka dan memutuskan untuk berperang dengan para Dewa, Rahu tahu bahwa yang bisa menandingi para Dewa saat itu hanyanya Jalandar.

Jalandar segera menyerang para Dewa, Dewa Indra dan kelompoknya lari tunggang langgang, kemudian memohon bantuan pada Maha Dewa, Wrinda Dewi sebenarnya sudah melarang Jalandar untuk pergi berperang, karna dia takut suaminya terbunuh dalam perang, tapi tekad Jalandar untuk membalas dendam terlalu kuat sehingga Wrinda Dewi tak mampu membujuknya, selama Jalandar pergi berperang dengan para Dewa, Wrinda Dewi sebagai istri terus mendoakan berharap pada Dewa Wisnu agar melindungi Jalandar, pertarungan sengit pun masih berlangsung, saat itu Maha Dewa sudah turun tangan, tetapi Maha Dewa pun kewalahan menghadapi Jalandar, selain karena kehebatan Jalandar yang merupakan manifestasi dari Maha Dewa sendiri, kekuatan Jalandar menjadi berlipat ganda karna doa-doa istrinya yang memohon berkah pada Dewa Wisnu agara suaminya menang dalam perang, Dewa Wisnu yang takut Maha Dewa akan kalah, ingin turut membantu, tetapi Dewa Wisnu tidak bisa turut membantu bertarung langsung dengan Jalandar, karena istri Jalandar yang tiada hentinya berdoa kepadanya agar Jalandar menang dalam peperangan, akhirnya Dewa Wisnu membuat trik licik dengan menyamar sebagai Jalandar, dan kemudian mendatangi Wrinda Dewi, ketika Jalandar palsu tiba di pintu rumah, Wrinda Dewi mengira suaminya pulang, Wrinda Dewi sangat senang sekali, sehingga dia menghentikan doanya, dan menyambut Jalandar palsu.

Di saat doa itu berhenti, berkurang jugalah kehebatan Jalandar yang akhirnya Maha Dewa mampu mengalahkan Jalandar, Saat Jalandar terbunuh sebagian raksasa pergi kerumah Wrinda Dewi untuk mengabarkan bahwa Jalandar telah terbunuh, mendengar berita itu Wrinda Dewi seperti tersambar petir, karena dia merasa suaminya Jalandar sudah pulang dan sedang berada di peraduan dengannya, dalam hatinya berkata “jika Jalandar mati terbunuh, lalu siapa yang tidur dengan ku tadi”, kemudian Jalandar palsu berubah menjadi Dewa Wisnu, saat itu Wrinda Dewi yang merasa ternoda, hatinya sangat sedih karena di pisahkan dengan orang yang dicintainya, dengan amarah Wrinda Dewi mengeluarkan kutukannya pada Dewa Wisnu, bahwa dikemudian hari Dewa Wisnu akan terlahir kembali, dan akan merasakan derita dipisahkan dengan pasangannya seperti yang Wrinda Dewi rasakan, setelah itu Wrinda Dewi memilih bunuh diri dengan membakar dirinya dalam api, dari kisah itulah kemudian Dewa Wisnu harus terlahir kembali untuk memenuhi kutukan Wrinda Dewi, Dewa Wisnu terlahir kembali sebagai Shri Rama yang harus kehilangan Dewi Sinta. 

Shri Rama terlahir dalam keluarga Dasarata, dia memiliki adik pertama bernama pangeran Bharata adik keduanya pangeran Laksmana serta adik ketiganya pangeran Satrughna, Shri Rama mempersunting Dewi Sinta karena berhasil memenangkan sayembara yang di buat Prabu Janaka, selanjutnya Shri Rama harus hidup di hutan bersama istrinya Sinta ditemani adik keduanya Laksmana, kehidupan Rama di hutan itu atas permintaan Ratu Kekayi istri kedua Raja Dasarata, Ratu Kekayi atas hasutan pembantunya menginginkan anaknya lah yang menjadi Raja pengganti Dasarata, anak dari Ratu Kekayi itu adalah pangeran Bharata, setelah mengetahui keinginan ibunya tersebut, pangeran Bharata bukannya menerima apa yang di inginkan ibunya itu, pangeran Bharata malah menolak keinginan ibunya dan mencari Shri Rama, setelah berhasil menemukan kakaknya Shri Rama, pangeran Bharata menjelaskan keinginannya agar Shri Rama kembali ke istana dan menjadi Raja menggantikan ayahnya Raja Dasarata, tetapi Shri Rama menolak untuk menggantikan posisi ayahnya menjadi Raja, Akhirnya pangeran Bharata kembali untuk menjadi Raja menggantikan kakaknya Shri Rama.

Singkat cerita waktu itu Raja Rahwana yang sedang berduaan di taman bersama Mandodari istrinya mendapat laporan dari adiknya Surpanaka bahwa dia telah di aniaya oleh Shri Rama dan pangeran Laskmana, surpanaka dalam laporannya tidak menjelaskan kenapa dia sampai dianiaya oleh pangeran Lakmana, Surpanaka hanya bercerita bahwa dia dihajar oleh Shri Rama dan pangeran Laksmana, sehingga Raja Rahwana menjadi sangat marah dan berniat balas dendam kepada Shri Rama, kemudian Raja Rahwana berangkat mencari Shri Rama, setelah bertemu, bukannya menyerang Shri Rama, ternyata Raja Rahwana juga kepincut dengan kecantikan Dewi Sinta, sama seperti adiknya Surpanaka yang lebih dulu kepincut oleh Dewi Sinta, Akhirnya diculiklah Dewi Sinta oleh Raja Rahwana, Jatayu yang merupakan Raja para burung mengetahui penculikan itu, lalu Jatayu berniat menolong Dewi Sinta, kemudian Jatayu bertarung dengan Raja Rahwana, dengan kesaktian yang tidak berimbang akhirnya Jatayu kalah.


Lukisan Rahwana yang sedang berperang dengan Jatayu karya Raja Ravi Varma.

Sebenarnya Raja Rahwana sendiri semenjak menjadi pemuja Maha Dewa, menjadi Raja yang adil dan sangat di hormati rakyatnya, sifat raksasa yang dulu dominan di miliki Raja Rahwana berubah menjadi sifat yang baik, hal ini dibuktikan ketika menculik Dewi Sinta, Raja Rahwana tidak memaksa Dewi Sinta untuk mau menjadi istrinya, padahal jika mau Raja Rahwana bisa saja memperkosa Dewi Sinta, tapi hal itu tidak pernah di lakukan oleh Raja Rahwana.

Shri Rama dan pangeran Laksmana yang kebingungan dengan hilangnya Dewi Sinta, kemudian mencari kesana kemari dan akhirnya bertemulah dengan Jatayu yang sedang terluka, Jatayu memberi tahu Shri Rama bahwa Dewi Sinta di culik oleh Raja Rahwana dan di bawah ke keRajaan Alengka, kemudian Shri Rama dan pangeran Laksmana berusaha mengejar Raja Rahwana, dalam perjalanan pengejaran Raja Rahwana itu, Shri Rama bertemu dengan Sugriwa, kemudian Shri Rama membantu Sugriwa merebut kekuasaan kerajaan Kiskenda dari tangan Subali, setelah Sugriwa resmi menjadi Raja wanara di Kiskenda, Sugriwa menawarkan batuan pada Shri Rama untuk mencari dimanakah letak kerajaan Alengka berada, kemudian Sugriwa mengutus keponakannya, Shri Hanuman untuk mencari keseluruh penjuru bumi, akhirnya di temukan bahwa kerajaan Alengka ada diseberang samudera, Sugriwa lalu menawarkan bantuan untuk membangun sebuah jembatan yang melintasi samudera, Sugriwa juga mengutus keponakannya Shri Hanuman sekali lagi untuk memata-matai kerjaan Alengka, dikisahkan dengan sekali loncatan Hanuman mampu menyebrangi samudera.
Shri Rama menerima tawaran dari Sugriwa dan Shri Hanuman, Kemudian Shri Hanuman meloncat dari tepi pantai, saat Shri Hanuman meloncat, ditengah samudera tiba-tiba muncul sebuah pulau baru, yang sekarang pulau itu dikenal dengan nama Sri Langkah.

Jembatan yang di bangun Sugriwa dan ribuan pasukan keranya itu melintasi Sri langkah dan terus ketimur menuju kerajaan Alengka, jembatan itu sekarang lebih dikenal dengan nama Rama Brige, melewati Sri langkah jembatan itu terus di bangun ke arah timur hingga sampailah di pantai Sumatera. 


Penampakan Rama Bridge
Tampak india dan sri langka di hubungkan sebuah jembatan


Jika di tarik garis lurus dari India melewati Srilangka, maka akan berhenti di Sumatera

Kerajaan Alengka milik Raja Rahwana yang dalam kitab diceritakan terbuat dari emas, ternyata berada di Sumatera, itulah sebabnya kenapa dulu Sumatera di sebut dengan sebutan Swarna Dwipa atau Tanah Emas.

Suatu hari seorang teman arkeolog dari ITB mencoba berangkat ke Sumatera untuk meneliti keberadaan kerajaan Kandis, bukan bukti arkeolog yang di dapat, tetapi pengalaman pindah dimensi seperti yang pernah penulis alami, ketika itu dia berada di kawasan hutan Desa Pasir Putih di Riau, dengan antusias teman tersebut bercerita kepada penulis bahwa di dimensi lain, dia dibawa ke sebuah kerajaan yang sangat megah, istananya terbuat dari emas, pilar-pilarnya besar dan terbuat dari logam emas, dia mengatakan bangunan itu persis dengan cerita Atlantis yang pernah dia baca, mendengar cerita itu penulis hanya tersenyum saja, sebab penulis juga pernah mengalami hal yang sama.

Hilangnya peradaban purba Sumatera
Mungkin sekarang sudah sangat sulit untuk mencari bukti arkeologi tentang kerajaan Alengka yang berdiri di tahun 1.515.100 sebelum masehi, sebab 717.122 tahun setelah itu gunung Toba meletus begitu hebatnya yang meninggalkan kaldera danau toba yang begitu besar tepatnya di tahun 797.988 sebelum masehi, kemudian meletus lagi di tahun 487.589 sebelum masehi, dan letusan terakhir yang terjadi sampai saat ini di tahun 61.558 sebelum masehi pada zaman Dwapara Yuga tercatat Gunung Toba meletus sebanyak tiga kali, dan hingga kini gunung Toba tidak pernah lagi meletus.


Letusan ketiga gunung Toba yang begitu dasyat memicu terjadinya zaman es, karena pada waktu letusan ketiga itu, abu vulkanik mencapai atmosfir, sehingga matahari tertutup abu vulkanik hingga bertahun-tahun, menurut hasil penelitian, sinar matahari tidak mencapai bumi 10 tahun lamanya, yang menyebabkan kegelapan yang cukup lama dan menurunnya suhu bumi secara drastis, sehingga sebagian besar bumi membeku, gunung Toba sendiri merupakan gunung tertinggi pada masa Nusantara purba dengan ketinggian mencapai 11.768 meter di atas air laut (mdpl).

Letusan Toba yang terakhir yang dikenal sebagai kiamat zaman purba, selain merubah kondisi alam termasuk iklim, juga menyebabkan hilangnya peradapan purba Sumatera, hilangnya kerajaan yang penuh kemilauan emas.
 

BALI PURBA

Secara geografis, Bali terletak di antara dua pulau, yaitu pulau Jawa dan pulau Lombok. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Nama besar pulau Bali sangat terkenal di manca negara, sampai pamornya mengalahkan nama Indonesia dan Jakarta, Bali memiliki julukan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.Bali juga terbukti sebagai kerajaan yang tidak suka berperang, dari zaman Nusantara Purba hingga kini, kerajaan Bali tidak pernah menginvasi atau menjajah kerajaan lain, pernah ada seorang sejarawan yang mengatakan bahwa kerajaan Bali pernah menjajah kerajaan Blambangan, mungkin beliau lupa atau tidak tahu, sehingga tidak menarik ke sejarah kebelakang yang lebih tua, wilayah kekuasaan kerajaan Bali purba (sebelum pulau Bali terpisah dengan pulau Jawa), wilayah kekuasaan kerajaan Bali sampai ke wilayah gunung Bromo, dengan kata lain wilayah Blambangan (Banyuwangi) termasuk dalam wilayah kerajaan Bali purba pada saat itu.

Menurut wikipedia Bali baru di huni sekitar tahun 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia, dan lagi-lagi di gambarkan sebelum tahun tersebut Bali itu tidak berpenghuni, sekarang coba di baca dalam kitab-kitab Purana, disitu di ceritakan Bali sudah memiliki kerajaan sebelum zaman Tetra Yuga, dalam kitab Purana di kisahkan Shri Wisnu menjelma sebagai Wamana, seorang biksu kecil yang datang ke Bali karena pada saat ini Raja Bali mengundang seluruh brahmana untuk diberi hadiah, Raja Bali dan keturunannya adalah keturunan dari Prahlada, Prahlada sendiri adalah seorang Asura anak dari Hiranyakasipu yang di asuh oleh Narayana.



Awalnya Sukracarya yang pada waktu itu adalah guru para raksasa sudah menasehati Raja Bali untuk tidak memberikan hadiah pada brahmana, tetapi Raja Bali tidak mengindahkannya. Kemudian dilakukanlah pemberian hadiah kepada para brahmana, karena Raja Bali merasa mempunyai segalanya, apa yang dimilikinya tidak akan habis, Setelah semua para brahmana yang berusia tua sudah mendapat hadiah, tiba giliran Wamana seorang brahmana kecil penjelmaan Dewa Wisnu meminta hadiah pada Raja Bali, waktu itu Raja Bali yang lupa nasehat dari Sukracarya, menyanggupi apapun yang diminta Wamana, brahmana kecil itu kemudian meminta tiga jengkal tanah yang di ukur dengan tiga langkah kakinya, melihat tubuh kecil Wamana, sambil tertawa Raja Bali mengiyakan permintaan Wamana, kemudian Wamana berubah menjadi sangat besar, langkah kaki pertama, Wamana menginjak surga, langkah kaki kedua menginjak bumi, dan sudah tidak ada lagi lahan untuk di pijak, akhirnya Raja Bali menyerahkan kepalanya sebagai pijakan Wamana, akhirnya Raja Bali sadar dia sudah terlalu sombong, Wamana yang takjub atas kedermawanan Raja Bali kemudian berjanji, kelak wilayah Bali akan menjadi tanah yang terjaga dan terlindungi, kisah lengkapnya bisa di temukan dalam kitab Bhagawatapuran.

Raja Bali adalah keturunan dari Prahlada, anak dari Lilawati istri dari Hiranyakasipu, Prahlada di asuh oleh Batara Narada, sehingga semua keturunannya menjadi pemuja Dewa Wisnu, dan menjauhi sifat-sifat raksasa ayahnya, dengan bakti yang tulus dari Prahlada menunjukkan bahwa sikap seseorang bukan ditentukan dari golongannya, ataupun bukan karena berasal dari keturunan yang jelek atau baik, melainkan dari sifat pribadinya masing-masing. Meskipun Prahlada seorang keturunan Asura, namun ia juga seorang pemuja Dewa Wisnu yang taat.

Sampai saat ini sesuai janji yang diberikan Dewa Wisnu kepada Raja Bali, wilayah Bali menjadi tempat yang terpelihara dan terlindungi, baik adat budaya dan kepercayaannya, mestipun banyak warga asing yang berkunjung ke sana, Bali tetap terjaga.

Penjelasan dari paragraf sebelumnya yang mengisahkan tentang Dewa Wisnu yang menjelma menjadi Awatara Wamana, dan mendatangi Raja Bali terjadi pada awal zaman Tetra Yuga, lalu kapan zaman Tetra Yuga di mulai?, kalau di hitung mundur dengan kalender Georgian, zaman Tetra Yuga di mulai 2.163.102 Sebelum masehi, jadi klaim bahwa wilayah Bali baru di huni tahun 3000 tahun sebelum masehi adalah keliru, karena pada awal zaman Tetra Yuga, di Bali sudah tertulis memiliki kerajaan yang besar, 2 juta tahun sebelum masehi, jauh sebelum Adam diciptakan di akhir zaman Dwapara Yuga, yaitu di tahun 5736 sebelum masehi, yang merupakan pergantian antara Dwapara Yuga dan Kali Yuga.

Dalam kisah lain di kitab Purana, Raja Bali pernah di minta salah satu keturunan asura yaitu Brahmasura untuk membantu merebut Amerta dari para Dewa, waktu itu Raja Bali yang merupakan satu keturunan Asura dari kaum Ditya membantu tapi tidak mau terlibat terlalu jauh dalam konflik itu, berkat bantuan Raja Bali, konflik itu yang akhirnya dimenangkan oleh golongan Asura, setelah mengalahkan para Dewa yang dipimpin Dewa Indra, kemudian para Dewa dari kaum Aditya meminta bantuan Dewa Wisnu, karena melihat kondisi para Dewa tersebut, akhirnya Dewa Wisnu mau membatu, kemudian beliau menjelma sebagai Mohini, kapan kisah itu terjadi? Kisah itu terjadi di akhir zaman Satya Yuga yaitu ditahun 2.996.000 Sebelum masehi.

Kisah Dewa Wisnu yang menjelma menjadi Mohini, disebabkan karena para Dewa kalah dalam perlombaan menemukan Amerta yang jatuh ke samudera, Dewa Wisnu khawatir jika Amerta jatuh di tangan para Asura, maka akan timbul kerusakan besar di muka bumi, sehingga Dewa Wisnu menjelma menjadi perempuan yang berparas sangat cantik untuk menggoda para Asura, dalam kitab Wisnupurana, di kisahkan Mohini berhasil membunuh seorang Asura bernama Brasmasura, Brasmasura sendiri adalah pemuja Dewa Siwa, dia melakukan tapa dan puja pada Dewa Siwa, dan akhirnya karena ketekunannya Dewa Siwa memberikan anugerah kepadanya yang itu tangan kanan yang sakti, apapun yang di sentuh dengan tangan kanan Brahmasura akan hancur menjadi debu, kemudian Brasmasura ingin mencobanya kepada Dewa Siwa, melihat hal itu Dewa Wisnu yang sudah menjelma menjadi Mohini, mendatangi dan menggoda Brasmasura, melihat kecantikan Mohini, Brasmasura hatinya terkiwir-kiwir lalu mengajak Mohini untuk menjadi istrinya, Kesempatan ini di gunakan dengan baik oleh Mohini untuk melancarkan triknya, Mohini mau menjadi istri Brahmasura dengan syarat, Brasmasura sanggup menirukan gerakan tarian Mohini, Brahmasura yang sudah di mabuk cinta, mau menerima persyaratan yang di berikan Mohini, awalnya Brahmasura kesulitan mengikuti gerak tarian Mohini, tetapi lama kelamaan Brasmasura agak mampu mengimbangi tarian Mohini, saat itulah Mohini mengambil kesempatan, Mohini menari sambil tangan kanannya memegang kepalanya, kemudian di tiru oleh Brasmasura, dan akhirnya karena tangan kanan Brasmasura menyentuh kepalanya sendiri, hancurlah dirinya menjadi debu. 


Brasmasura yang menirukan Mohini menari

Nusantara dulunya di huni oleh para Asura (raksasa) bukan hanya di Bali, di tempat lain yang sekarang bernama Sumatera, juga terdapat sebuah keRajaan yang megah, yang akan di jelaskan pada bagian ke tiga dalam buku ini. 

Salah satu bentuk Asura dari Bali

Pada saat itu Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan masih menjadi satu, yang sering disebut dengan sebutan Sundaland, Nusantara di kenal sebagai Negeri Api yang akan di bahas pada bagian lain buku ini.
Setelah membaca semua ulasan sebelumnya, jangan di kira peradaban Bali itu masih baru, Bali sudah memiliki peradaban 2.996.000 Sebelum masehi, jauh lebih tua dari peradaban Sumeria, Mesir dan Cina.

Hilangnya peradaban Bali Purba
Sebagian besarnya hilangnya peradaban Bali purba tak lepas dari peristiwa alam, yaitu meletusnya gunung Bromo purba ditahun 197.980 sebelum masehi, yang menyebabkan terjadinya kaledar dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 100 kilometer persegi.

Gunung Bromo yang bisa di lihat sekarang hanyalah anak gunung bromo dengan ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut(mdpl), padahal sebelumnya gunung Bromo  purba merupakan gunung tertinggi ke dua setelah gunung Toba purba, waktu itu gunung Bromo purba setinggi 5.768 meter di atas permukaan laut(mdpl), masih lebih tinggi gunung Bromo purba dibandingkan dengan gunung Semeru yang ada sekarang dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut(mdpl).

Letusan gunung Bromo purba yang mengarah ke timur dan utara bukan hanya mengubur peradaban kerajaan Bali purba, tetapi juga mengubur peradaban kerajaan Madura purba.

Gunung Tambora Purba



Gunung Tambora adalah gunung tertinggi ketiga dimasa purba ketinggiannya mencapai 5.265 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa, di masa purba daerah itu di huni oleh para Asura yang sangat unik, tubuhnya kecil seperti bangsa liliput, tinggi para asura yang ada di daerah itu tidak lebih dari satu meter, bahkan rata-rata hanya 50cm, jauh lebih pendek dari tubuh Asura yang pada umumnya memiliki tinggi 30meter. 

Seperti halnya gunung Toba, gunung Tambora hingga saat ini juga tercatat meletus sebanyak tiga kali, letusan pertama gunung Tambora terjadi ditahun 3050 sebelum masehi, tetapi letusan pertama itu bukanlah letusan yang besar, hanya menurangi sedikit ketinggian gunung tersebut menjadi 4.870 meter diatas permukaan laut (mdpl), letusan kedua terjadi ditahun 740 sebelum masehi, dan juga bukan merupakan sebuah letusan yang besar, dalam letusan kedua ini gunung tambora menjadi lebih pendek yaitu 4.256 meter di atas permukaan laut (mdpl), letusan ketiga lah yang merupakan letusan terbesar dari gunung Tambora yang terjadi di abad 18 setelah masehi, tepatnya di tahun 1815 masehi, dan nyaris ketinggian gunung Tambora menjadi setengahnya yaitu hanya 2.730 meter diatas permukaan laut (mdpl).

Letusan ketiga gunung Tambora itu lumayan dasyat hingga gelegarnya terdengar sampai pulau Sumatera, dan bukan hanya itu saja, debu vulkanik yang dihasilkan sempat mempengaruhi iklim dunia, karena debu vulkanik itu mengambang di atmosfir hingga berbulan-bulan, hal ini juga memperngaruhi iklim di Eropa dan Amerika, letusan ketiga ini juga melenyapkan beberapa kerajaan-kerajaan di sekitar gunung Tambora.


Foto satelit tampak kaldera gunung Tambora

Gunung Toba Purba



Gunung Toba purba adalah gunung tertinggi di dunia di masa prasejarah, pada saat itu ketinggian gunung Toba mencapai 11.768 meter di atas air laut (mdpl). Letusan gunung toba pertama di masa purba terjadi di tahun 797.988 sebelum masehi, letusan dasyat itu menghasilkan kaldera di selatan gunung Toba, tepatnya didaerah Prapat dan Porsea sekarang, sekaligus mengubur kejayaan kerajaan Alengka. 

Letusan kedua terjadi di tahun 487.589 sebelum masehi, letusan ini tidak sebesar letusan pertama, dan menghasilkan kaldera di utara gunung Toba, tepatnya di daerah Haranggaol dan Silalahi sekarang, dan letusan ketiga yang terjadi ditahun 61.558 sebelum masehi, adalah letusan terbesar dari gunung Toba purba, letusan ketiga itulah yang menyatukan kaldera di utara dan selatan, hingga membuat sebuah kaldera yang sangat besar, kaledra itu kemudian menjadi sebuah danau, kemudian munculah anak gunung Toba di tengah-tengah danau yang sekarang dikenal dengan nama pulau Samosir.

Letusan ketiga bukan hanya semakin mengubur sebagian peradaban kejayaan Nusantara, tetapi juga mengakibatkan perubahan yang sangat besar di seluruh penjuru dunia, karena letusan ketiga itu memicu terjadinya zaman es, kegelapan berlangsung selama lebih dari 10 tahun, sinar matahari tertutup debu vulkanik yang mengambang di atmosfir, hingga suhu di bumi menjadi turun drastis, sebagian besar permukaan lautan membeku, banyak ras Asura yang meninggal dan bermigrasi pada saat itu, dan ini hanya secuil kisah kehebatan gunung toba yang letusannya bisa mengubah zaman.


Foto satelit tampak kaldera gunung Toba dan pulau samosir

Privacy Policy Kalender Jawa Kuno

  Privacy Policy: Kalender Jawa Kuno Terakhir Diperbarui: 21 Februari 2026 1. Pendahuluan Kami menghormati privasi Anda. Kebijakan Privasi...